Connect with us

Foto Wikipedia National Monument (Indonesia)

Politik

Menolong Partai Politik Islam Pemilu 2019

Pada 15 Maret 2018 bertempat di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) saya didampingi Hamid Souwakil bersilaturrahim dengan Zainut Tauhid Saadi, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang yang juga anggota DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kami berbincang banyak hal diantaranya posisi PPP dan partai-partai politik Islam (parpol) dalam menghadapi pemilihan umum tahun 2019.  Sebagai sosiolog saya menaruh perhatian pada nasib parpol Islam pada pemilu 2019 setidaknya ada lima alasan yang mendasari.

Pada 15 Maret 2018 bertempat di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) saya didampingi Hamid Souwakil bersilaturrahim dengan Zainut Tauhid Saadi, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang yang juga anggota DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Kami berbincang banyak hal diantaranya posisi PPP dan partai-partai politik Islam (parpol) dalam menghadapi pemilihan umum tahun 2019.  Sebagai sosiolog saya menaruh perhatian pada nasib parpol Islam pada pemilu 2019 setidaknya ada lima alasan yang mendasari.

Pertama, parpol Islam merupakan representasi dari umat Islam.  Walaupun dalam praktik,  adakalanya politik yang dijalankan tidak merepresentasikan aspirasi umat Islam.  Misalnya dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur DKI,  umat Islam kecewa pada PPP,  tetapi demi penyelamatan  eksistensi partai setelah dipecah belah dan mendapat tekanan luar biasa, akhirnya secara taktis melakukan pemihakan kepada calon yang tidak dikehendaki umat Islam. Semua menyesali, tetapi demi kepentingan  strategis penting memaafkan dan menolong mereka.

Kedua, untuk perimbangan kekuatan.  Umat Islam yang terpuruk dalam bidang ekonomi, jangan  pula dibiarkan terus terpuruk dalam bidang politik karena membahayakan kepentingan umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia.  Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia, tetapi tidak satupun pasal atau ayat dalam konstitusi kita  yang menyebutkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama resmi di Indonesia yang umatnya harus dilindungi dan diutamakan.  Umat Islam harus berkompetisi dibidang  politik, ekonomi, sosial dan sebagainya untuk mendapatkan tempat yang terhormat. Jika mereka lemah dibidang ekonomi dan lemah pula di bidang politik dan bidang-bidang lain, maka umat Islam Indonesia hanya menjadi alat dan obyek seperti selama ini.

Ketiga, untuk mendorong kemajuan bersama.  Umat Islam harus bersama-sama dengan umat agama lain meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang pada umumnya masih rendah.  Ini amat penting karena penduduk Indonesia sekitar 76 persen hanya berpendidikan sekolah menengah pertama dan tidak tamat sekolah dasar. Mayoritas diantaranya adalah umat Islam.  Konsekuensi dari itu, mereka miskin dan terkebelakang. Dampak dari pendidikan rendah,  maka mereka tidak bisa bekerja di sektor formal dan juga tidak bisa membangun bisnis sendiri. Lebih menyedihkan lagi, mereka kurang pemahaman dan penghayatan agama sehingga menjadi obyek.

Untuk mendorong kemajuan umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia, mustahil bisa dilakulan jika tidak mempunyai kekuatan di parlemen yang besar dan solid serta tidak memegang kekuasaan.

Keempat, ekonomi Indonesia sudah dikuasai pihak lain.  Umat Islam mesti menyadari bahwa kondisi semacam ini tidak boleh berdiam diri,  masabodoh dan tidak berjuang.  Harus sadar, bangkit dan bersatu memperjuangkan perbaikan nasib.  Allah sekali-kali tidak akan mengubah nasib mereka sehingga mereka mengubah nasib mereka sendiri.

Dalam bidang ekonomi, mereka harus berjuang membuat regulasi di parlemen yang memihak kepada kepentingan seluruh bangsa Indonesia yang termarjinalisasi dan lemah.   Untuk mewujudkan hal itu, maka mereka wajib memilih calon-calon dari partai-partai politik Islam dalam pemilu 2019 untuk memperjuangkan dan mewujudkan berbagai UU yang memihak kepada  mereka yang selama 73 tahun Indonesia merdeka dan 52 tahun membangun belum memperoleh keadilan sosial.

Kelima, semua parpol Islam elektabilitasnya dalam menghadapi  pemilu 2019 masih rendah.  Kalau mereka tidak ditolong, maka nasib umat Islam akan semakin terpuruk karena mereka sudah termarjinalisasi di semua bidang seperti ekonomi, politik, sosial dan sebagainya.  Karena umat Islam adalah mayoritas di negeri ini, maka yang rugi dan akan menanggung dampak negatifnya adalah seluruh bangsa Indonesia jika mereka tetap dibiarkan lemah, diperlemah dan tidak maju.

Baca Juga

Opini

Indonesia telah memilih jalan untuk membangun Indonesia melalui jalan demokrasi. Demokrasi sejatinya, dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Opini

Demo penolakan kenaikan harga BBM bersubsidi terjadi di seluruh negeri. Di Jakarta hampir tiap hari terjadi demo.

Pemilu

Pada 01 Agustus 2022, hari yang amat penting dalam sejarah demokrasi di Indonesia, karena dimulainya pendaftaran partai-partai politik peserta Pemilihan Umum 2024.

Pemilu

Isu politik yang bakal muncul dalam pemilu 2024, pertama, politik identitas yang bernuansa SARA serta hubungan Indonesia-China yang sangat meningkat.

Pemilu

Sudah puluhan kali Presidential Threshold (PT) digugat ke Mahkamah Konstitusi (PK), tetapi baru kali ini PKS sebagai partai politik yang dianggap memiliki legal standing...

Politik

Presiden PKS Ahmad Syaikhu: bangsa Indonesia membutuhkan politik kolaborasi, bukan segregasi apalagi polarisasi. Politik yang menjadikan keutuhan bangsa dan negara di atas kepentingan individu,...

Politik

Sebagai sosiolog, saya mendukung seruan BEM UI untuk membuka draft terbaru RKUHP secara transparan dalam rangka menghadirkan partisipasi publik dalam pembahasan RKUHP.

Pemilu

Partai NasDem merupakan satu-satunya partai politik yang lebih awal mengumumkan calon Presiden RI Pemilu 2024. Pertanyaannya, mengapa Partai NasDem memilih mengumumkan lebih dahulu calon...