Menolak Demokrasi

 In Politik

Sudah lama saya mendengar  dan membaca berita di media bahwa ada dan masih banyak  yang menolak dan tidak percaya demokrasi sehingga tidak pernah berpartisipasi dalam pemilihan umum (Pemilu).

Hal itu terkonfirmasi Sabtu, 25 Agustus 2018, saat saya menaiki bus  TransJakarta dari Blok M menuju Kota, saya duduk satu bangku dengan seorang pemuda  ganteng dan berjanggut yang memperkenalkan diri dengan nama Indra. Mereka bertiga mengatakan mau menghadiri pengajian di Krukut Jakarta Pusat.

Saya bersyukur hari itu tanggal ganjil (25/8) sementara plat  nomor mobil saya genap, maka untuk sampai tujuan Hotel Novotel Jalan Gajah Mada Jakarta Pusat untuk memberi sambutan sekali membuka Workshop Anggota DPRD Kabupaten Kubu Raya, saya naik bus TransJakarta.

Untuk keamanan, mobil saya yang berplat nomor genap saya
parkir di Pasaraya Blok M  sebab tidak bisa melintasi Jalan Sudirman-MH. Thamrin dan Rasuna Said Kuningan sebab tanggal ganjil.

Dalam perjalanan menuju tujuan yang cukup lama karena bus TransJakarta yang ditumpangi pagi itu tidak bisa melintasi Jalan Sudirman dan Jalan MH. Thamrin sebab ada lari marathon dalam rangka ASIAN Games, sehingga bus TransJakarta harus melintasi Manggarai – Jalan Salemba dan Gunung Sahari sampai kota,  saya mempunyai waktu yang cukup lama untuk berdiskusi dengan Indra tentang keislaman, keindonesiaan dan demokrasi. Dalam banyak hal tidak ada perbedaan pandangan yang prinsipil tentang topik yang dibicarakan.

Akan tetapi sesudah masuk topik  perbincangan pada demokrasi dan Pemilu, terjadi perbedaan yang sulit dikompromikan.  Indra dan dua temannya tidak percaya pada demokrasi sehingga tidak pernah ikut dalam Pemilu, sementara saya percaya demokrasi dan selalu berpartisipasi setiap event demokrasi seperti Pemilu Legislatif (Parlemen), Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pemilihan Presiden-Wakil Presiden dan bahkan banyak menulis buku dan artikel tentang demokrasi.

Alasan Tidak Percaya Demokrasi

Menurut Indra dan dua temannya bahwa demokrasi tidak bisa diterima.  Adapun alasannya, pertama, tidak ada rujukannya dalam Alqur’an. Kedua, tidak  pernah  diamalkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Saya jelaskan bahwa demokrasi secara litterlijk (harfiah) tidak disebutkan di dalam Alqur’an, akan tetapi prinsip-prinsip demokrasi banyak tercantum dalam Alqur’an seperti musyawarah (syuraa),  persamaan (al-musawaa), keadilan (Al’adalah), kebebasan (alhurriyah) dan sebagainya.

Kemudian saya kemukakan bahwa dalam masalah dunia, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
“Antum a’lamu biumuuri dunyaakum” (Kamu lebih memahami urusan duniamu).

Berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW tersebut, maka demokrasi  bisa diterima karena  hal itu adalah urusan dunia.   Para cendekiawan (ulama) bisa berijtihad untuk membuat suatu konsep yang bisa dijalankan bersama dalam kehidupan bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara. Asalkan konsep yang dihasilkan dari ijtihad tidak berlawanan dengan Alqur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Menurut saya, demokrasi tidak bertentangan (berlawanan) dengan Alqur’an dan Sunnah Rasulullah, sehingga bisa diterima dan diamalkan oleh umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia.

Sebelum berpisah dengan Indra dan dua temannya karena mereka turun duluan di dekat Mangga Dua,  saya tanya apa yang lakukan untuk  memajukan Islam?  Mereka menjawab “dakwah”.  Saya setuju, tetapi saya ingatkan dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di Mekah selama 13 tahun, yang masuk  Islam hanya sekitar 300 orang, tetapi ketika Nabi Muhammad SAW mendirikan Negara Madinah sekaligus memimpin negara itu, masyarakat berbondong-bondong masuk Islam. Jadi Islam dan kekuasaan tidak bisa dipisahkan.

Saya tegaskan kepada Indra dan dua temannya,  jika umat Islam menolak demokrasi dan membiarkan orang lain yang mengisi dan memanfaatkan demokrasi, maka umat Islam akan terus terpinggirkan dan semakin lemah dan dakwah tanpa ditopang kekuasaan akan sulit mencapai tujuannya yaitu “amar ma’ruf nahi mungkar”
(memerintahkan berbuat kebajikan dan melarang perbuatan tidak baik).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search