Bangun Peradaban, DKI Bisa Proyek Percontohan

 Kategori Budaya, Opini

Pada 14 Desember 2017 Universitas Ibnu Chaldun Jakarta menyelenggarakan seminar internasional tentang Ibnu Khaldun dengan keynote speech Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta.

Salah satu  pembicara dari luar negeri adalah  Prof. Abdul Adzim Muhammad As Shidiq yang lahir di Sudan kemudian belajar di Amerika Serikat hingga meraih gelar  Ph.D dan mengajar di universitas di Negeri Paman Sam.  Disamping itu, dia juga aktif di Bridge International dalam pengembangan pendidikan di negara-negara Afrika.

Saat berada di Jakarta saya mengajak salat Jumat di masjid Fatahillah Balai Kota Jakarta.  Dalam perjalanan menuju Balai kota, kami melewati jalan Proklamasi  yang luar biasa macet dan para pemotor seenaknya menyalip dan melawan arus lalu lintas di jalan Proklamasi yang satu arah.

Selama diperjalanan dia selalu berkata hafizahullah (semoga Allah menjaga dia). Maksudnya  pemotor yang ugal-ugalan yang melintasi mobil yang saya kendarai  semoga dilindungi Allah dari marabahaya.

Peradaban Bangsa

Peradaban dalam bahasa Inggris disebut civilization.  Menurut kamus bahasa Inggris,  sinonim dari civilization ialah human development, advancement, progress, enlightenment,  culture, refinement, sophistication.

Konsep peradaban sebagai kosakata yang sama dengan budaya dapat dimulai dengan perbaikan pemikiran, perbaikan sikap dan tindakan seperti dalam berlalulintas.

Dari sinonim dan konsep civilization dapat dikemukakan bahwa peradaban sangat luas maknanya karena terkait dengan pengembangan sumber daya manusia, kemajuan, pencerahan, budaya, perbaikan dan kecanggihan.

Oleh karena itu, peradaban harus dibangun,  karena tinggi rendahnya suatu bangsa dilihat dari tinggi rendahnya peradaban.

Proyek Percontohan

Semua mengakui bahwa lalulintas di jalanan di DKI semrawut dan tidak tertib. Kondisi demikian menurut saya,  merupakan pencerminan  dari masih rendahnya peradaban kta sebagai bangsa.  Kalau peradabannya sudah tinggi, maka pasti  jalanan tertib dan teratur.

Pertanyaannya, mulai dari mana kita bangun peradaban di jalanan? Menurut saya, peradaban di jalanan harus di bangun di DKI sebagai proyek percontohan.

Kalau Singapura jalanannya sangat tertib dan teratur mengapa DKI tidak bisa.  Jika kita pergi di negara itu, kita jadi tertib, taat lalulintas  dan taat hukum.

Contoh lain ialah Turki.  Baru-baru ini  Dr. Baharuddin, Wakil Rektor l Universitas Ibnu Chaldun Jakarta bersama keluarga selama 10 hari berlibur di Turki.  Dia bercerita, tertib dan majunya peradaban negara itu.  Lalulintas tertib dan tingkat kejujuran warganya amat baik.  Dia memberi contoh, tas milik teman yang tertinggal yang berisi paspor dan uang, ketika kembali mencarinya, tas itu utuh dan isinya tidak satupun yang hilang karena petugas tidak dibolehkan pulang sampai pemilik tas itu datang mengambilnya.  Ketika mau diberi tips petugas itu menolak.

Menurut saya, dua negara yang dikemukakan di atas merupakan bukti penerapan sistem yang baik dari atas yang kita kenal dengan sistem top down.  Sistem tersebut kemudian diamalkan oleh rakyat di dua negara itu.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta  bisa mencontoh yang dilaksanakan pemerntah Singapura dan pemerintah Turki untuk di terapkan di DKI Jakarta.

Selain itu, sistem bottom up.  Rakyat  yang berinisiatif untuk bersama membangun dari bawah melalui proses penyadaran, pencerahan dan pendidikan.

Akan tetapi, membangun peradaban di jalanan dari bawah yang dilakukan oleh masyarakat madani kalaupun berhasil memerlukan waktu yang amat lama. Potensi gagal cukup besar karena tantangan yang dihadapi banyak dan bergelombang datangnya.

Jika ingin berhasil, maka pemerintah provinsi  DKI di bawah komando Gubernur  bisa membangun peradaban di jalanan di DKI. Caranya mulai dari atas secara top down dengan membuat regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda) dan dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.  Pada saat yang sama rakyat melaksanakan regulasi sesuai keinginan dan cita-cita mereka.

Membangun peradaban di jalanan dengan mewujudkan tertib lalulintas di DKI Jakarta sebagai proyek percontohan  merupakan conditio sine quanon bagi bangsa kita.  DKI bisa menjadi contoh teladan dalam pengamalan peradaban di jalanan.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search