Gempa di Palu dan Donggala: Kiamat Kecil

 Kategori Lainnya, Opini, Sosial

Pada 1 Oktober 2018 pukul 00 Radio Elshinta Jakarta mewawancara saya dalam perjalanan pulang dari nonton bareng Film G 30 S PKI di Taman Ismail Marzuki Jakarta.Topik perbincangan tentang “Penjarahan dan Penanganan sosial pasca gempa dan stunami di Palu.”

Saya memulai dengan menyampaikan rasa prihatin yang mendalam terhadap korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala serta mendoakan mereka yang meninggal dunia semoga husnul khatimah.  Mereka yang terluka dan sakit segera sembuh serta yang selamat tetap sabar, tabah dan optimis dalam menghadapi kehidupan.

Kemudian saya lanjutkan perbincangan dengan mengemukakan bahwa kasus penjarahan pasti tindakan spontanitas dari Warga.  Mereka melakukan penjarahan setidaknya disebabkan tiga faktor.  Pertama,  ikut-ikutan karena faktor ketersediaan makanan pasca gempa dan  tsunami, melihat orang lain mekakukan penjarahan,  mereka juga  melakukannya.

Kedua, tidak ada pencegahan. Semua panik –  tidak tahu mau melakukan apa. Dugaan saya aparat yang selamat sibuk menolong warga yang korban, mencari keluarga, tetangga, teman, sahabat dan lain sebagainya.  Dugaan saya, aparat sibuk menolong para korban dan  luput melakukan pencegahan penjarahan.

Ketiga, menganggap darurat. Pemerintah dugaan saya menganggap keadaan darurat. Segala kemungkinan bisa terjadi.   Hal itu yang diucapkan Presiden Jokowi bahwa soal kabar penjarahan, Jokowi keadaan darurat, jangan dimasalahkan (Viva co.id, Senin,  1 Oktober 2018).

Kiamat Kecil

Ita Puspita mengirim berita di Facebook menggambarkan luar biasa dahsyatnya dampak gempa di Palu dan Donggala. Biasanya kejadian itu hanya 1 atau 2 yang membunuh yaitu gempa atau stunami. Di Aceh hanya 1 yang membunuh rakyat Aceh yaitu “tsunami”. Akan tetapi, di  Palu ada 3 yang membunuh:
1) Gempa,  banyak korban akibat tertimbun reruntuhan bangunan yang rubuh setelah terjadi gempa.
2)  Tsunami,  setelah gempa 7,4 SR disusul tsunami. Sekitar 1000 orang yang sedang mempersiapkan Festival Tomini  habis dihempas tsunami.
3)  Lumpur, dampak lain dari  gempa, bumi mengeluarkan lumpur. Ada perkampungan yang diperkirakan di huni 700 orang terkubur hidup-hidup Oleh lumpur.  Selain itu, ada sekitar 200 orang siswa SMA sedang kemah juga terkubur hidup-hidup akibat lumpur yang tiba-tiba menyembur dan menimbun mereka.

Kejadian di Palu dan Donggala menurut saya merupakan bukti bahwa kiamat akan terjadi. Gempa yang disusul tsunami dan bumi mengeluarkan isinya berupa lumpur adalah kiamat kecil (sugra).

Bayangkan kalau terjadi kiamat besar (kubra), seluruh tempat di dunia terjadi hal serupa dalam skala besar seperti digambarkan dalam Alqur’an Surat Zalzalah 1-5 yang artinya “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya).  Dan manusia bertanya,  apakah yang terjadi pada bumi itu? Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya.

Mereka yang meyakini Alqur’an sebagai hudan (petunjuk),  pasti mengatakan bahwa gempa yang terjadi di Palu dan Donggala merupakan ujian dan boleh dikatakan kiamat kecil.

Kiamat adalah peristiwa di mana alam semesta beserta isinya hancur luluh yang membunuh semua makhluk didalamnya tanpa terkecuali.  Kehancuran alam semesta kita tidak tahu kapan terjadi, tetapi kejadian di  Palu dan Donggala merupakan tanda bahwa gempa dahsyat yang menghancurkan dunia dan seluruh isinya bakal terjadi dan tidak ada satupun manusia yang mengetahui kapan terjadi dan tidak ada manusia atau teknologi yang mampu mencegahnya.

Kesimpulan

Seluruh makhluk manusia di  dunia betapapun hebat penguasaan teknologi, tidak ada yang mampu mencegah dan menghentikan gempa karena kita tidak tahu secara pasti kapan akan terjadi.

Gempa di Palu dan Donggala disusul semburan lumpur dan stunamai sangat berpotensi terjadi di seluruh dunia dalam skala yang luar biasa besar yang menghancurkan seluruh alam semesta ini, dan itulah yang disebut kiamat besar (kiamat kubra).

Oleh karena itu, sehebat dan setinggi apapun ilmu pengetahuan manusia, harus sadar bahwa mereka hanya diberi ilmu yang sedikit oleh Allah dan tidak sepantasnya sombong dan angkuh.

Kita sepatutnya memberi apresiasi yang tinggi dan terima kasih kepada para relawan, pemerintah dan berbagai negara di dunia yang turun tangan membantu para korban bencana gempa, tsunami dan semburan lumpur yang membunuh ribuan manusia di Palu dan Donggala.

Begitu pula pemerintah daerah seperti pemerintah provinsi DKI Jakarta yang telah mengirim bantuan dan tim untuk membantu mereka yang mengalami korban gempa tsunami dan semburan lumpur Di Palu dan Donggala.

Semoga musibah secara beruntun yang dialami bangsa Indonesia,  semakin meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, menumbuhkan kerjasama,  tolong-menolong dan saling mengasihi sesama serta persatuan dan kesatuan.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search