Korban Gempa di Lombok Menanti Janji Presiden dan Menteri Sosial

 Kategori Lainnya, Sosial

Pada 5 Agustus 2018 terjadi gempa bumi di Lombok skala besar dengan kekuatan 7.0 SR. Gempa itu mengakibatkan banyak korban nyawa dan kerusakan harta benda.

Lombok Utara dan Lombok Timur merupakan dua daerah paling parah mengalami kerusakan akibat gempa, bukan saja paling banyak korban nyawa tetapi juga hampir seluruh bangunan di daerah itu rata dengan tanah.

Sebenarnya seluruh daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami dampak gempa termasuk kota Mataram, tetapi tingkat kerusakannya tidak terlalu parah.

Sebagai contoh Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Kota Mataram bangunan dan menaranya banyak yang retak-retak, gedung UIN Mataram, gedung Universitas Nahdlatul Wathan dan banyak gedung di kota Mataram mengalami rusak ringan yang harus direnovasi.

LSM Paling Aktif

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  paling aktif membantu masyarakat yang mengalami korban gempa. Misalnya di Dusun Mantigi Desa Malaka Kec. Pemenang Kab. Lombok Utara sebagai salah satu kawasan paling parah, dibantu LSM Amal Palestin.

LSM itu berpusat di Malaysia dan mempunyai cabang di Bandung,  Jawa Barat. Ketika terjadi gempa di Lombok, para donatur minta Amal Palestin turun membantu warga yang mengalami korban gempa. Amal Palestin Malaysia dan Amal Palestin Bandung  membangun tempat penampungan pengungsi dan merupakan yang paling baik. Disamping itu, dilakukan pengobatan nabawi pada warga korban bencana.

Saya juga bertemu Tim ZIS Indosat di kota Mataram yang dipimpin Pak Wahab yang turun ke daerah terkena gempa yang sama sekali belum tersentuh bantuan di daerah pegunungan di Lombok Timur dengan membangun rumah sederhana dan menyediakan air minum yang amat diperlukan warga.

Di bandara Lombok Airport International saya bertemu bung Taufik, alumnus Univ. Ibnu Chaldun Jakarta yang menjadi relawan ACT (Aksi Cepat Tanggap) yang sudah tiga minggu di kabupaten Lombok Timur yaitu Kec. Sembalun, Kec. Sambelia, Kec. Pringgabaya. Begitu pula di Lombok Barat yaitu Kec. Gunung Sari, dengan posko unit di 5 desa), serta di Lombok Utara yaitu Kec Pamenang, Kec Tanjung, Kec Kayangan,  Kec. Bayan, Kec. Gangga) dengan Posko Induk di Mataram).

Untuk diketahui ACT pada hari kedua bencana pertama yang cukup besar di NTB 29 juli 2018 kemudian bencana paling besar 5 Agustus 2018 sudah dilokasi bencana dan sampai sekarang sudah dua bulan lebih para relawan ACT di daerah terkena bencana.

Dr. Hazmi Hamzah, anggota DPRD Provinsi NTB memiliki banyak sekolah mulai Sekolah Dasar (SD) , Sekolah Menengah Pertama (SMP), pesantren, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Tinggi, mengemukakan puluhan sekolah yang dibina rusak berat, belum bantuan apapun dari pemerintah.  Untung ada LSM dari Jepang yang membantu membangun 10 gedung sekolah yang dia bina.

Sebagai informasi proses pembangunan kembali (rekonstruksi) daerah yang terkena gempa sangat lamban. Dua bulan setelah gempa besar di NTB semakin sepi bantuan dari berbagai pihak. Sangat disyukuri ada LSM dari dalam dan luar negeri yang membantu warga yang mengalami musibah bencana.

Masyarakat yang terkena dampak gempa bumi sudah mulai frustrasi karena bantuan yang dijanjikan tidak kunjung ada realisasinya apalagi diperkirakan dalam waktu tidak lama akan turun hujan.

Janji Tinggal Janji

Patut diapresiasi kesigapan Presiden Jokowi ketika terjadi gempa bumi di NTB.  Menurut warga sudah tiga kali Presiden Jokowi berkunjung ke NTB. Bahkan Jokowi tidur bersama masyarakat yang mengungsi di lokasi terkena dampak gempa bumi.

Ada tiga macam yang dijanjikan Presiden Jokowi dan satu yang dijanjikan Menteri Sosial RI kepada masyarakat NTB yang terkena dampak gempa.  Pertama, rumah yang alami rusak berat akan mendapat bantuan uang tunai sebesar Rp 50 juta.

Kedua, rumah yang alami  rusak sedang akan mendapat bantuan uang tunai sebesar Rp 25 juta.

Ketiga, rumah warga yang alami rusak ringan akan mendapat bantuan uang tunai Rp 10 juta.

Keempat, warga yang terkena dampak gempa akan mendapat uang jaminan hidup sebesar Rp 10 ribu perhari perjiwa selama tiga bulan. Janji ini disampaikan Menteri Sosial RI.

Sudah dua bulan berlalu setelah gempa 7.0 SR 5 Agustus 2018 semua janji pemerintah kepada masyarakat Lombok yang terkena musibah gempa belum ada yang direalisir.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk segera direalisir janji  tersebut karena janji adalah utang.


Recommended Posts

Start typing and press Enter to search