Raja Sasak di Lombok Setengah Jam

 Kategori Lainnya, Sosial, Wisata

Etnis Sasak merupakan mayoritas penduduk Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan ibukota Mataram.

Di masa dahulu,  di daerah ini ada sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Selaparang yang mempunyai wilayah kekuasaan cukup luas, yang kemudian ditaklukkan kerajaan Mataram.

Setelah merdeka dari penjajahan Belanda,  berbagai kerajaan di nusantara melebur menjadi satu di dalam negara kesatuan republik Indonesia.

Salah satunya ialah kerajaan Mataram yang  wilayah kekuasaannya meliputi Sunda Kecil.  Kemudian Sunda Kecil dipecah menjadi tiga yaitu Bali,  Nusa Tenggara Timur (NTT)  dan Nusa Tenggara Barat (NTB)

Nusa Tenggara Barat  saat ini mempunyai populasi sebanyak 4.500.212 jiwa,  yang mendiami 7 kabupaten dan 2 kota yaitu Kabupaten Bima,  Kabupaten Dompu,  Kabupaten Lombok Barat,  Kabupaten Lombok Tengah,  Kabupaten Lombok Timur. Kabupaten Lombok Utara,  Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat serta Kota Bima dan Kota Mataram.

Mayoritas penduduk Lombok adalah Muslim (94.75 %)  dan etnis terbesar Sasak (68 %). Saya  tidak tahu persis pakaian kebesaran yang saya pakai adalah pakaian raja Selaparang, raja Kesultanan Mataram atau pakaian adat etnis Sasak.

Pusat Kerajinan

Saya bersyukur saat berada di Lombok (5-8/10/2018) sempat mengunjungi beberapa daerah yang mengalami musibah gempa, sehingga bisa menulis.

Selain itu,  Abdul Latif, penyanyi terkenal di NTB yang juga pengusaha  mobil rental  mengantar saya dan isteri ke salah satu obyek kerajinan di Lombok Tengah yang banyak dikunjungi pelancong (wisatawan dalam dan luar negeri).

Pusat kerajinan itu bernama koperasi Patuh yang dipimpin seorang guru.  Pusat kerajinan ini membina puluhan ribu perajin pakaian adat.

Sebelum terjadi gempa bumi di NTB,  setiap hari mobil yang datang ke pusat kerajinan itu bisa mencapai 120 buah.  Setelah terjadi gempa  bumi, merosot drastis wisatawan yang datang ke pusat kerajinan.  Menurut para pemandu wisata di pusat kerajinan, sejak gempa bumi menghantam NTB, wisatawan yang datang ke pusat kerajinan hanya sekitar 20 buah.

Raja Setengah Jam

Saya cukup kagum di suatu desa yang cukup terpencil terdapat pusat kerajinan yang mandiri.  Menurut para petugas yang melayani, koperasi patuh yang mengelola pusat kerajinan ini tidak dibantu oleh pemerintah.

Koperasi ini yang justru membantu pemerintah melalui pembayaran pajak.

Setelah keliling melihat proses pembuatan kain adat Sasak,  saya dan isteri dipakaikan pakaian raja, lalu ke rumah kerajaan atau rumah adat.

Untuk pertama kali saya memakai pakaian kebesaran, sehingga cukup senang apalagi kemudian di foto.  Pada saat yang bersamaan,  ada dua orang bule suami isteri,  kami lalu foto bareng.

Setelah menjadi raja setengah jam, sebab memakai pakaian kebesaran hanya sekitar setengah jam, kami berbelanja.  Saya membeli kain adat untuk baju batik,  begitu pula isteri. Bahkan isteri membeli taplak meja.

Saya menjadi raja Sasak di Lombok setengah jam yang disimbolkan dengan memakai baju adat kebesaran.  Dugaan saya,  dilakukan oleh pengelola koperasi patuh sebagai penghormatan kepada wisatawan (pelancong) yang mengunjungi pusat kerajinan mereka.

Harapan pengelola pusat kerajinan supaya memberi kesan yang indah dan dikenang selamanya, sehingga menjadi daya tarik untuk datang sekali lagi ke Lombok dan pusat kerajinan mereka.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search