Politisi Islam Egosentris: Abangan dan Sekuler Menang

 In Opini, Pemilu, Politik

Mayoritas penduduk Indonesia adalah Umat Islam. Akan tetapi, setiap pemilihan umum partai politik Islam tidak pernah memperoleh kemenangan.

Hal itu menyebabkan umat Islam terus terpinggirkan dalam segala bidang.  Yang membuat lebih prihatin (miris)  ada kelompok di beberapa provinsi seperti di Manado (15/10) berani melakukan persekusi di bandara (airport)  terhadap seorang ulama yang diundang untuk berdakwah. Sementara polisi seolah membiarkan hal itu dan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim juga seolah tidak berdaya.

Prof. Siti Zuhro, peneliti senior LIPI dalam perbincangan terbatas yang dihadiri Prof Hanafi, Achmad Marzuki dan saya (16/10/2018) mengemukakan kelemahan politisi Islam.
Pertama,  egosentris
Kedua, elitis
Ketiga,  tidak beri teladan
Keempat,  pragmented.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, egosentris artinya menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran (perbuatan), berpusat pada diri sendiri (menilai segalanya dari sudut diri sendiri).

Dampak negatif politisi Islam egosentris, tidak bisa bersatu untuk mencapai tujuan yang besar yaitu kemenangan.  Mereka berjuang sendiri-sendiri untuk mewujudkan tujuan masing-masing.  Pada hal mereka lemah – tidak memiliki dukungan dana yang cukup untuk menggerakkan massa guna meraih kemenangan.

Kelemahan lain politisi Islam menurut Prof. Siti Zuhro,  elitis.  Sebagai sosiolog saya mengamini pendapat tersebut.   Dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 dan pemilihan Gubernur Sumatera Utara sebagai contoh, ada politisi Islam, tidak hanya berpendapat tapi juga membuat keputusan yang sama sekali berlawanan dengan ajaran Islam dan aspirasi umat Islam.  Pada hal partainya mengindentikkan diri sebagai rumah besar umat Islam.

Politisi Islam tidak hanya elitis dalam pemikiran dan perbuatan,  tetapi juga elitis dalam pergaulan dengan rakyat jelata.

Penting Teladan

Rakyat jelata sangat memerlukan keteladanan dari para pemimpin.  Keteladanan yang mereka perlukan ialah satunya kata dan perbuatan.

Rakyat tidak suka pemimpin yang suka berjanji tapi tidak mewujudkan janjinya.  Karena pemimpin semacam itu masuk kategori pemimpin yang munafik.  Sebab Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa tanda-tanda orang munafik ada tiga, diantaranya apabila berbicara (bercakap)  berdusta.

Selain itu,  politisi banyak yang suka korupsi.  Politisi Islam tidak boleh korupsi supaya bisa menjadi teladan.

Tidak Fragmented

Kelemahan politisi Islam fragmented (pecah belah).  Mereka sulit bersatu.  Pada hal Allah menegaskan di dalam Alquran bahwa “yadullahi ma’al jama’ah (Pertolongan Allah akan datang jika bersatu/berjamaah).

Untuk menghadirkan kekuatan yang Insya Allah pertolongan Allah datang,  maka politisi Islam tidak boleh pecah bela. Mereka harus mengutamakan psrsatuan dan kesatuan.  Tidak boleh egois maunya sendiri.

Kebersamaan, persatuan dan kesatuan harus diutamakan supaya umat Islam yang sejak zaman penjajahan sudah menderita dan sesudah Indonesia merdeka 72 tahun, sebagian besar dari mereka masih miskin,  bodoh dan terkebelakang.

Jika politisi Islam dan umat Islam tidak menyadari kelemahan mereka,  maka kapanpun setiap Pemilu yang akan selalu menang adalah kalangan abangan,  umat lain dan kaum sekuler yang benci terhadap umat Islam.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search