Refleksi 2 Tahun Memimpin Universitas Ibnu Chaldun

 Kategori Lainnya, Pendidikan

Pertama saya sampaikan rasa syukur kepada Allah karena diberi kesehatan yang prima dan umur yang panjang, sehingga bisa bersama civitas akademika membangun kembali Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Kemudian saya sampaikan rasa bahagia dan syukur yang tidak terhingga karena Universitas Ibnu Chaldun Jakarta yang pernah mengalami permasalahan besar lantaran dinonaktifkan selama dua kali yaitu 2009-2014 dan 2015, alhamdulillah telah mengalami kebangkitan dan kemajuan.

Indikator bahwa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta telah bangkit dan maju.

Pertama,  citra UIC yang pernah terpuruk dan jatuh ke tempat yang amat dalam karena dinonaktifkan, bahkan sempat menyandang nama PTS abal-abal, sekarang ini nama UIC sudah kembali berkibar dan mendapat kepercayaan publik.  Buktinya,  jumlah mahasiswa (i) UIC telah meningkat 200 persen.

Kedua,  program studi (prodi)  pada saat saya dilantik menjadi Rektor UIC 21 Oktober 2016, semua prodi mati kecuali hukum dgn akreditasi C, saat ini sudah terakreditasi semuanya dan mayoritas prodi akreditasi B.

Ketiga, Tri Darma Perguruan Tinggi  sudah dijalankan dengan sangat baik,  tidak hanya proses belajar dan mengajar,  tetapi juga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dimotori pelaksanaannya oleh LPPM.

Keempat,  UIC telah menerbitkan Jurnal Online terakreditasi dan membuat kerjasama internasional.

Kelima,  UIC telah merintis dan memulai pengiriman dosen muda untuk mengikuti program S3 di Asia e University (AeU)  Malaysia.

Keenam, mendapat beasiswa dalam jumlah cukup besar yang tidak pernah dialami UIC sepanjang sejarah hidupnya 62 tahun.

Saya sangat yakin setelah UIC mengalami turbulensi, kini telah bangkit dan maju.  Kemajuan akan dipacu dengan kecepatan tinggi untuk mengejar kemajuan dunia perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.

Kepemimpinan yang dijalankan

Model kepemimpinan yang saya kembangkan untuk membangun Universitas Ibnu Chaldun Jakarta ialah terbuka,  dialogis, peduli, cepat dan profesional.

Dalam rangka mewujudkan kepemimpinan yang terbuka dan dialogis,  secara berkala melakukan dialog terbuka dengan pimpinan mahasiswa, dosen dan karyawan.

Tujuan dialog adalah dalam rangka mendengar pandangan dan atau kritikan serta menyerap aspirasi civitas akademika terutama mahasiswa untuk mewujudkan kebangkitan dan kemajuan Universitas Ibnu Chaldun (UIC).

Kebangkitan dan kemajuan Universitas Ibnu Chaldun yang pernah mengalami kemunduran hebat akibat dinonaktifkan 2009-2014 dan 2015 lantaran konflik,  tidak mungkin bisa diwujudkan tanpa partisipasi semua elemen di universitas terutama mahasiswa.

Untuk menghadirkan partisipasi salah satunya ialah setiap  tahun selama dua tahun saya memimpin  Universitas Ibnu Chaldun, selalu dilaksanakan evaluasi atau refleksi kemimpinan.

Peduli dan Profesional

Selain itu, saya mengembangkan kepemimpinan yang peduli.  Maksudnya peduli terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa (i).  Sebagai wujudnya,  saya selalu berusaha menolong.

Terakhir,  mengembangkan kepemimpinan yang responsif, cepat dan profesional.  Ini dilakukan untuk mengejar kemajuan universitas lain yang sudah maju.

Dengan kepemimpinan semacam itu, maka Universitas Ibnu Chaldun selama dua  tahun saya pimpin telah mengalami kemajuan yang menggembirakan.

Sesuai mandat dari Senat Universitas dan Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun untuk memimpin Universitas Ibnu Chaldun empat tahun ke depan,  maka saya bertekad paling lambat tahun 2025,  UIC telah menduduki ranking terkemuka universitas di Indonesia sesuai visinya “Menjadi universitas Islam terkemuka di Indonesia dan dikenal di dunia Internasional”.

Semoga Allah selalu menolong UIC.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search