Peradilan Kita Masih Primitif 

 Kategori Lainnya, Pendidikan

Sebagai sosiolog yang pernah belajar hukum,  pada 27 Oktober 2018, saya diberi kepercayaan untuk mengajar “Sistem Peradilan di Indonesia” pada Kursus Advokat yang di selenggarakan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) bekerjasama Fakultas Hukum Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Untuk menghilangkan rasa kantuk peserta kursus di sore hari,  saya banyak memberi ilustrasi tentang pelaksanaan hukum dan peradilan di Indonesia.

Respon para peserta cukup baik. Salah satu pertanyaan yang dilontarkan ialah kedisiplinan dalam pelaksanaan sidang.

Jam Karet

Salah satu indikator, peradilan kita belum baik alias masih bobrok selain Mahkamah Konstitusi (MK),  ialah jam karet dalam sidang.  Waktu sidang diumumkan di papan pengumuman misalnya pukul 09.00, pelaksanaan sidang bisa molor 4-6 jam.

Jam karet adalah istilah yang merujuk kepada konsep “elastisitas” waktu. Waktu yang telah ditentukan bukan sesuatu yang pasti,  melainkan bisa diundur (dianalogikan dengan karet yang bisa direnggangkan).

Jam karet dalam persidangan di pengadilan sangat memprihatinkan dan memalukan, karena mereka yang  tidak menghargai dan menepati waktu tidak lain dan tidak bukan adalah manusia primitif.

Setidaknya ada enam alasan untuk menyatakan bahwa peradilan di Indonesia masih primitif dan belum baik.

Pertama,  tidak menghargai waktu.  Pada hal “waktu” sangat penting. Ada pepatah Arab yang mengatakan: “waktu bagaikan “pedang,” jika kamu tidak memotongnya maka dia akan memotongmu.”  Ada ungkapan dalam bahasa Inggris “time is money.”  Kedua ungkapan atau pepatah tersebut menegaskan pentingnya waktu,  tetapi lembaga peradilan kita menggunakan jam karet dalam sidang.

Kedua,  tidak disiplin.  Pengadilan sebagai lembaga tempat rakyat mencari keadilan, sejatinya harus disiplin waktu, karena dengan disiplin  waktu ada aroma kewibawaan.

Ketiga, memberi contoh teladan.   Peradilan memiliki kedudukan yang amat penting dalam sebuah negara,  maka peradilan harus menjadi contoh teladan bagi rakyat, diantaranya dalam masalah waktu.

Keempat,  merugikan pencari keadilan.  Mereka yang berkara di pengadilan selalu dirugikan karena tidak bisa melakukan kegiatan lain lantaran jam karet dalam persidangan di pengadilan.

Kelima, kepercayaan dan kewibawaan. Disiplin waktu dalam sidang bisa menghadirkan kepercayaan publik dan menumbuhkan kewibaan terhadap lembaga peradilan.

Keenam,  masih primitif. Ciri masyarakat moderen sangat menghargai dan menepati waktu.  Sementara peradilan kita sangat tidak disiplin waktu.  Artinya, peradilan kita bisa disebut masih primitif, tidak menghargai waktu.

Di masa depan,  peradilan kita harus direformasi total yang dimulai dari disiplin waktu dalam memulai sidang,  karena suka tidak suka dan mau tidak mau peradilan merupakan garda terdepan untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum.

Semoga pemerintahan hasil Pemilu 17 April 2019 bisa membenahi peradilan kita yang dimulai dari disiplin waktu dalam memulai sidang.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search