Connect with us

Twitter tim curtis

DKI Jakarta

Sampah di DKI,  Bagaimana Mengatasinya? 

Sampah ternyata sudah menjadi masalah besar di DKI Jakarta, karena menurut Kepala Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Aji bahwa setiap hari Jakarta hasilkan 7.000 ton sampah (detik. Com,  21/1/2018). Sampah-sampah itu,  ada di sungai, di gorong-gorong, parit,  permukiman,  lahan kosong, perkantoran,  perguruan tinggi dan lain sebagainya.

Pada 29 Oktober 2018 pukul 06.00 pagi wib, saya menelpon Ibu Lurah Rawamangun,  Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur untuk minta bantuan  sehubungan sampah menumpuk di Kampus Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Saya apresiasi Ibu Lurah Rawamangun yang sangat responsif karena segera mengirim truk dan personil untuk mengangkut sampah di kampus Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Sampah ternyata sudah menjadi masalah besar di DKI Jakarta, karena menurut Kepala Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Aji bahwa setiap hari Jakarta hasilkan 7.000 ton sampah (detik. Com,  21/1/2018). Sampah-sampah itu,  ada di sungai, di gorong-gorong, parit,  permukiman,  lahan kosong, perkantoran,  perguruan tinggi dan lain sebagainya.

Masalah Lama

Sampah di DKI Jakarta sudah lama menjadi masalah, tetapi tidak pernah diselesaikan secara tuntas.

Sebagai sosiolog, saya melihat akar masalah sampah di DKI Jakarta, ada lima.  Pertama,  warga DKI Jakarta belum seluruhnya sadar sampah.  Ada yang buang sampah di gorong-gorong (parit),  sungai,  kali,  lokasi (tempat kosong), bahkan ada yang buang sampah dari mobil ke jalan raya.

Kedua,  pemimpin lingkungan seperti Ketua RT, Ketua RW dan warga tidak peduli sampah.  Untung sekarang sudah ada pasukan oranye PPSU yang sangat menolong untuk menjaga kebersihan lingkungan dari serbuan sampah.

Ketiga,  warga bakar sampah, pada hal membakar sampah dilarang sesuai Perda DKI.  Akan tetapi,  Ketua RT tidak berani menegur warga yang membakar sampah.  Pasalnya,  Ketua RT harus berbaik-baik kepada warga agar dipilih kembali dalam pemilihan Ketua RT.

Keempat, mengatasi sampah  secara tradisional, yaitu buang sampah di Bantar Gebang Bekasi,  Jawa Barat. Ini tidak masuk akal,  tetapi faktanya masih dijalankan Dinas Kebersihan DKI Jakarta sampai saat ini.

Kelima, belum ada pengolahan sampah secara moderen di DKI Jakarta.

Cara Mengatasi

Untuk mengatasi sampah di DKI Jakarta, diperlukan sebuah gerakan di masyarakat DKI untuk hidup bersih – bebas dari sampah dalam bentuk apapun.

Setidaknya harus dilakukan enam hal.  Pertama,  partisipasi masyarakat untuk melawan sampah dengan membuat tong sampah di rumah masing-masing termasuk membuat bank sampah di setiap lingkungan tempat tinggal,  perkantoran, kampus dan sebagainya.

Kedua,  Ketua RT, Ketua RW, tokoh agama dan tokoh masyarakat harus selalu menyadarkan masyarakat pentingnya menjaga lingkungan yang bersih, lestari tanpa sampah.

Ketiga,  setiap wilayah di DKI seperti Jakarta Timur,  Jakarta Utara,  Jakarta Pusat,  Jakarta Selatan,  Jakarta Barat,  dan Kepulauan Seribu,  harus segera membangun industri daur ulang sampah yang moderen seperti ITF yang sedang dibangun di Sunter,  Jakarta Utara.

Keempat,  akhiri buang sampah di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat,  karena tidak menyelesaikan masalah sampah di DKI Jakarta, bahkan sudah dijadikan obyek untuk memeras Pemprov. DKI Jakarta.

Kelima,  harus ada kerjasama DPRD DKI Jakarta dengan Gubernur DKI Jakarta untuk mengalokasikan anggaran untuk membiayai pendirian industri pengolahan sampah yang moderen di enam wilayah di DKI Jakarta.

Keenam, tanah dari pengembang yang dialokasikan kepada Pemprov.  DKI dalam rangka pembangunan kawasan perumahan dapat digunakan untuk membangun pusat pengolahan sampah secara moderen  di setiap wilayah di DKI Jakarta dan atau membeli tanah untuk tempat pengolahan sampah.

Dengan melakukan enam hal tersebut,  maka masalah sampah di DKI dapat diatasi secara permanen dan hasil pengolahan sampah bisa memberi nilai tambah secara ekonomi bagi warga DKI Jakarta.

Baca Juga

DKI Jakarta

Transjakarta melayani warga Jakarta siang dan malam selama 24 jam tanpa henti. Pada siang hari, Transjakarta melayani warga Jakarta ke seluruh jurusan, termasuk yang...

DKI Jakarta

Transjakarta tidak menaikkan harga Transjakarta. Mengapa Transjakarta tidak naik tiket? Jawabannya karena pemerintah provinsi DKI Jakarta memberikan subsidi terhadap moda transportasi massal seperti Transjakarta.

DKI Jakarta

Penataan Kota Tua telah menjadi destinasi wisata di Jakarta yang sangat menarik. Pada saat saya mengunjungi kota tua Minggu lalu saya menyaksikan banyak turis...

DKI Jakarta

Anies bersama delegasi U20 mengunjungi obyek wisata kota tua. Sebanyak 12 delegasi U20 Mayors Summit hadir secara langsung di Kota Tua Jakarta Barat. Anies...

DKI Jakarta

Setelah turun di Halte Museum Fatahillah, saya mulai kagum menyaksikan kawasan Kota Tua yang telah ditata dengan sangat rapi, indah, nyaman dan mempesona.

DKI Jakarta

Adanya MRT, Transjakarta dan commuter sejatinya mengubah budaya masyarakat Jakarta dan sekitarnya dari malas jalan kaki menjadi rajin jalan kaki.

DKI Jakarta

Citayam Fashion Week masih hangat dibicarakan masyarakat, terutama para warganet di media sosial. Event fashion show ini pada mulanya berawal dari Anak Baru Gede...

DKI Jakarta

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengaku terpukau dengan transformasi pembangunan yang terjadi di Jakarta setelah dua dekade ia tidak mengunjungi ibu...