Macet di DKI, Apa Solusinya?

 Kategori DKI Jakarta, Lainnya, Opini, Sosial

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Polda Metro Jaya telah bekerjasama dengan baik untuk mengatasi macet di Jakarta.

Usaha yang dilakukan untuk mengatasi macet di DKI Jakarta,  diantaranya menetapkan genap -ganjil bagi nomor polisi (nopol)  mobil, yaitu pada jam-jam tertentu hanya mobil nopol genap pada tanggal atau tarikh genap yang bisa melintasi jalan Jenderal Sudirman,  MH Thamrin, jalan Rasuna Said Kuningan,  jalan Jenderal Gatot Subroto, dan beberapa jalan protokol lainnya, begitu pula sebaliknya.

Selain itu,  Pemprov. DKI Jakarta meningkatkan kuantitas dan kualitas bus Trans Jakarta dan pelayanannya, dengan harapan semakin meningkat jumlah pengguna kendaraan massal, sehingga pada saat yang sama semakin berkurang pengguna kendaraan pribadi.

Disamping itu,  pemerintah membangun MRT dan LRT,  dengan harapan warga DKI beralih menggunakan kendaraan massal, walaupun belum selesai pembangunannya, kita apresiasi.

Masih Macet

Berbagai upaya mengatasi macet di Jakarta harus diakui ada hasilnya, tetapi belum sepenuhnya berhasil mengakhiri macet di Jakarta.

Setidaknya ada lima penyebab macet di Jakarta.   pertama,  masyarakat pengguna kendaraan pribadi samada mobil ataupun motor,  banyak yang tidak disiplin dalam berlalu lintas.

Kedua, tidak ada pembatasan kepemilikan mobil dan umur mobil serta motor.  Dalam satu rumah,  ada yang memiliki 5 -10 mobil.  Selain itu,  umur mobil tidak dibatasi termasuk Metro Mini,  Kopaja dan lain sebagainya yang sudah reyot masih diperbolehkan beroperasi di jalan.

Ketiga,  berlomba memiliki mobil pribadi karena sebagai simbol kesuksesan dan gengsi.  Kendati harus kredit atau utang. Pada hal tidak mempunyai garasi untuk parkir mobil.

Keempat,  pesatnya peningkatan jumlah mobil baru dan sepeda motor. Sementara, tidak bisa diimbangi dengan pembangunan jalan baru yang sangat mahal.

Kelima,  faktor jalan,  ada bottle neck atau penyempitan jalan, jalan rusak, tikungan,  persimpangan, dan traffic light.  Semua itu bisa menjadi penyebab terjadinya kemacetan.

Solusi Macet

Ada ungkapan kalau tidak macet,  namanya bukan Jakarta.  Walaupun begitu, Jakarta sebagai ibukota negara,  harus diupayakan supaya tidak macet.

Menurut saya,  untuk mengatasi macet di Jakarta, harus dilakukan enam hal.   Pertama,  warga DKI harus dilatih dan dibiasakan disiplin dalam berlalu lintas.  Caranya,  diajarkan dan di latih disiplin berlalu lintas yang dimulai dari keluarga, sekolah,  perguruan tinggi, berbagai organisasi kemasyarakatan, lembaga agama, Masjid,  Gereja,  Pura,  dan lain sebagainya.

Kedua,  harus ada pembatasan kendaraan.  Setiap rumah jika memiliki mobil lebih dari dua,  harus dikenakan pajak progresif yang tinggi.  Selain itu,  kendaraan mobil sedan, bus dan motor dibatasi masa penggunaannya. Misalnya Kopaja,  Metro Mini dan lain-lain sudah saatnya dikandangkan, tidak boleh lagi dibiarkan beroperasi di jalan raya.

Ketiga,  membiasakan warga DKI menggunakan transportasi massal atau transportasi berbasis online, dan tidak hidup dengan gengsi, walaupun utang (kredit) asal punya mobil sendiri. Selain itu,  dibuatkan apartemen bagi ASN/PNS di dekat kantor tempat mereka bekerja,  sehingga cukup jalan kaki dari tempat tinggal ke kantor.

Keempat,  tetap memberlakukan genap ganjil  di beberapa ruas jalan, sembari mengenakan pajak yang tinggi bagi mobil impor dalam upaya merem terus bertambahnya mobil di DKI.

Kelima, bekerja sama dengan GoJek, Grab, Blue Bird dan perusahaan-perusahaan angkutan untuk mewujudkan kedisiplinan dalam berlalu lintas.  Mereka mempunyai kekuatan dan daya paksa untuk mendisiplinkan sopir angkutan mobil dan motor.

Keenam, mengatasi jalan yang bottle neck (penyempitan jalan)  dengan membangun jalan baru, jalan perlintasan,  segera memperbaiki jalan yang rusak dan berbagai hambatan yang membuat kendaraan berjalan lambat atau macet.

Dengan mewujudkan satu persatu dari enam hal yang dikemukakan di atas,  sebagai sosiolog,  merasa sangat yakin, DKI Jakarta sebagai ibukota negara, secara bertahap bisa bebas macet, sehingga tidak perlu ibukota dipindah ke Kalimantan Tengah untuk membebaskan Jakarta dari macet.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search