Perguruan Tinggi Wajib Bangun Literasi

 In Opini, Pendidikan

Perguruan tinggi merupakan tempat berhimpunnya para akademisi, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti 1. Orang yang berpendidikan tinggi, 2. Anggota akademi.

Untuk meningkatkan kemampuan daya saing setiap perguruan tinggi, sudah semestinya membangun literasi di kalangan akademika terutama mahasiswa.

Literasi dalam bahasa latin disebut literatus yang artinya orang yang belajar. National Institute for literacy menjelaskan bahwa literasi adalah  kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Setidaknya ada tiga alasan,  mengapa perguruan tinggi wajib membangun literasi.  Pertama,  persaingan semakin tinggi dalam seluruh lapangan kehidupan, sehingga perguruan tinggi harus mempersiapkan mahasiswa (i) nya  supaya memiliki kemampuan yang tinggi.

Kedua, era keterbukaan dan borderless society (masyarakat tanpa batas negara) dalam kehidupan, telah menghadirkan masyarakat yang bisa hidup dan tinggal di negara manapun dia mau. Setiap orang tanpa memandang suku, bangsa, negara dan agama, bisa hidup dan mencari nafkah di negara manapun di dunia.

Konsekuensi dari itu,  mengharuskan perguruan tinggi mengambil peran yang besar mempersiapkan mahasiswa (i)  untuk kelak menjadi masyarakat yang mampu bersaing dan sanggup hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain.

Ketiga, Indonesia sudah menjadi bagian dari masyarakat ASEAN (ASEAN Community) dan bahkan telah menjadi masyarakat ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Society) dan masyarakat dunia,  sehingga harus siap dan terus-menerus mempersiapkan diri agar bangsa Indonesia tidak terpinggirkan (termarjinalisasi). Dalam hubungan itu, peran perguruan tinggi sangat besar dan penting.

Bangun Apa? 

Perguruan tinggi harus membangun kemampuan dalam berbagai bidang. Pertama, literasi informasi. Setiap perguruan tinggi harus menumbuhkan kemampuan mahasiswa untuk biasa dan memiliki budaya membaca, menulis, berbicara yang benar, dan memahami masalah informasi yang berkembang setiap saat.

Bukan hanya itu, tetapi kritis terhadap informasi, mulai dari sumber informasi – yang menyampaikan informasi, konten informasi, tujuan dan dampak dari suatu informasi.

Kedua, literasi teknologi. Perguruan tinggi memegang peran penting untuk mendorong dan memajukan setiap mahasiswa (i) untuk memiliki kemampuan membaca,  menulis, dan menggunakan teknologi supaya kelak bisa bekerja secara profesional dengan menggunakan teknologi secara sendiri ataupun berkelompok.

Ketiga, literasi digital. Perguruan tinggi harus mendorong, mengarahkan, mendidik dan mengajarkan supaya mahasiswa (i) memiliki kemampuan dasar secara teknis untuk menjalankan komputer serta internet. Ini amat penting, karena perkembangan teknologi, masyarakat dunia usaha dan bahkan perguruan tinggi sudah menggunakan teknologi komputer dan internet untuk aktivitas bisnis,  berkomunikasi dan proses belajar mengajar.

Asia e University (AeU) sebagai contoh merupakan sebuah lembaga pendidikan tinggi yang berkedudukan di Malaysia, yang sepenuhnya menggunakan teknologi internet dalam proses belajar mengajar termasuk dalam pemeriksaan tesis atau disertasi untuk meraih gelar master dan Ph.D.

Di Indonesia, Universitas Terbuka merupakan pioneer yang menggunakan teknologi komputer dan internet dalam proses belajar-mengajar.

Keempat, literasi finansial. Perguruan tinggi, juga mempunyai peran untuk mengajarkan kepada mahasiswa (i) kemampuan literasi keuangan. Sesudah tamat dari perguruan tinggi tidak menenteng ijazah ke sana-kemari mencari pekerjaan, tetapi dengan kemampuan literasi finansial yang dimiliki selama di perguruan tinggi bisa membuka usaha atau bisnis sendiri.

Dengan demikian, perguruan tinggi memberi andil dan sumbangsih yang besar dalam memajukan masyarakat, bangsa dan negara.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search