Prof Yusril dan Partai Bulan Bintang

 In Opini, Pemilu, Politik

Sebagai sosiolog, walaupun saya bukan anggota apalagi pengurus PBB, saya kaget ketika membaca berita di media sosial bahwa Prof. Yusril, Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) menjadi lawyer Jokowi-Ma’ruf Amin.

Secara bisnis tidak ada yang salah keputusan Prof Yusril menjadi lawyer Jokowi-Ma’ruf Amin. Pasti sudah dipertimbangkan untung rugi, dan keputusan diambil karena pasti lebih menguntungkan.

Akan tetapi, Prof Yusril bukan hanya sekedar Lawyer dan pakar hukum tata negara yang sangat tersohor,  tetapi juga ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB) yang telah berjuang keras menjadi peserta Pemilu yang nyaris menjadi penonton dalam Pemilu 2019.

Perjuangan keras dan perlawanan terhadap rezim tanpa lelah telah menghadirkan simpati dan dukungan masyarakat yang cukup luas terhadap Prof Yusril dan PBB.

Kalau saja PBB bukan partai gurem,  Prof Yusril pasti menjadi calon Gubernur DKI 2017 dan calon Presiden RI 2019 karena ketokohan,  kepakaran dan reputasinya.

Perjuangan Prof Yusril melawan rezim telah mengundang simpati dan harapan baru,  sehingga berbagai pimpinan organisasi dan tokoh masyarakat terpanggil untuk bergabung memperkuat PBB dan bahkan bersedia menjadi calon legislatif Pemilu 2019 di semua tingkatan.

Akan tetapi,  keputusan Prof Yusril menjadi lawyer Jokowi-Ma’ruf Amin, secara sosiologis sangat merugikan PBB dan harapan publik yang ingin perubahan. Setidaknya ada lima alasan.

Pertama, masyarakat yang menjadi anggota, pendukung, simpatisan dan caleg PBB adalah pendukung dan pejuang perubahan. Mereka mau bergabung ke PBB karena Prof Yusril sebagai Ketua Umum PBB, dalam berbagai pernyataan di media dimaknai publik sebagai pro perubahan, ingin ganti Presiden 2019.

Kedua,  kehilangan trust (kepercayaan).  Masalah ini sangat penting karena kekuatan Prof Yusril dan PBB adalah kepercayaan publik.  Untuk mendapatkan kepercayaan publik, perlu ada konsistensi (istiqamah). Ini menjadi persoalan besar ketika Prof. Yusril menjadi lawyer Jokowi-Ma’ruf Amin. Walaupun atas nama pribadi,  tetapi Prof Yusril adalah ketua umum PBB dan simbol perubahan yang selama ini dipahami publik.

Ketiga,  memecah belah PBB.  Keputusan Prof Yusril menjadi lawyer Jokowi-Ma’ruf Amin telah memecah belah PBB.  Pada hal untuk menaikkan dukungan publik, diperlukan persatuan internal PBB.  Tanpa persatuan hampir mustabil PBB bisa bangkit dari keterpurukan.  Pertolongan Allah akan datang jika ada psrsatuan.  “Yadullaahi ma’al jamaah” (Pertolongan Allah akan datang, jika ada jamaah (persatuan).

Keempat,  meruntuhkan citra dan reputasi PBB serta Prof Yusril.  Partai politik sejatinya menjual citra dan reputasi. Kalau PBB dan ketua umum citranya dan reputasinya dinilai baik,  maka masyarakat akan mendukung dan memilih PBB dalam Pemilu 2019.

Kelima, menghancurkan moral dan semangat juang para caleg. Saya yakin mereka mau berjuang bersama Prof Yusril dan PBB dan menjadi caleg PBB karena semangat perubahan, bukan semangat status quo.

Nasihat kepada PBB

Tidak mudah bagi para caleg, anggota,  pengurus dan simpatisan PBB.

Sebagai bagian dari partisipasi saya untuk menyelamatkan PBB, maka walaupun Prof Yusril sangat tinggi ilmu dan kepakarannya dan para petinggi PBB,  tetapi Allah telah menegaskan dalam Alqur’an surat Al Israa (17): 85 “Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit.”

Berdasarkan hal itu,  perkenankan saya memberi nasihat:
Pertama,  segera selesaikan masalah Prof Yusril dan PBB dengan semangat musyawarah dan ukhuwah sesuai petunjuk Alqur’an.

Kedua,  pelihara persatuan dan kesatuan.  Jangan menggunakan media untuk saling menghujat dan saling menyalahkan karena akan semakin meruntuhkan citra dan reputasi PBB dan Prof Yusril.

Kedua,  para caleg PBB jangan patah semangat. Kobarkan semangat dan tekad dengan melipatgandakan kampanye ke publik “door to door”, “face to face” dengan jargon tidak ada waktu tanpa kampanye.

Ketiga,  maksimalkan penggunaan media sosial seperti twitter,  facebook dan lain-lain untuk kampanye.

Keempat,  sebaiknya para caleg PBB tidak ada yang mundur apalagi mutung.  Tingkatkan kampanye mulai dari dalam rumah,  tetangga dan lingkungan.  Galang keluarga,  teman, sahabat di manapun untuk memilih caleg PBB.

Kelima,  sebaiknya Prof Yusril memilih salah satu, yaitu menjadi lawyer Jokowi-Ma’ruf Amin atau tetap menjadi Ketua Umum PBB.
Kalau memilih dua-duanya, saya yakin Prof Yusril akan terus-menerus diserang publik di media sosial dengan mengungkap kembali pernyataan masa lalu yang dimuat media, dan yang menjadi korban adalah PBB.

Allahua’lam bisshawab

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search