Kemiskinan Masih Merajalela

 Kategori Lainnya, Opini, Sosial

Beberapa waktu lalu,  muncul pemberitaan di media bahwa kemiskinan sudah mengalami penurunan yang sangat signifikan,  dan bahkan disebut tidak pernah terjadi sebelumnya.

Mereka yang mendukung pemerintah mengamini pemberitaan itu,  karena sumbernya dari Kepala Badan Pusat Statistik (BPS).

Kepala BPS Suhariyanto berkata
garis kemiskinan di Indonesia Rp 401.220/kapita perbulan. Kalau dibagi 30 hari dalam satu bulan,  maka garis kemiskinan Rp 13.000 perkapita (perkepala) perhari.  Menurut dia,  dalam satu keluarga memiliki 3 anggota keluarga dikalikan dengan Rp 13.000, maka garis kemiskinan sebesar Rp 39.000 perkeluarga perhari.

Di DKI Jakarta garis kemiskinan Rp 593.108/kapita perbulan atau Rp 19.770/kapita perhari. Jika dikalikan 3 orang dalam keluarga,  maka garis kemiskinan di DKI Jakarta sebesar Rp 59.100 perkeluarga perhari.

Garis kemiskinan merupakan batas seseorang dikatakan tidak miskin. Kalau penghasilan setiap hari diatas Rp 13.000, maka sudah tidak miskin.  Jika penghasilan dibawah Rp 13.000 perkepala perhari, maka dianggap miskin.

Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan 2 dolar Amerika Serikat atau Rp 30.000 perkepala perhari (kurs rupiah 1 dolar AS=15.000 rupiah).

Aneh dan Tidak Masuk Akal

Sangat aneh garis kemiskinan di Indonesia sebesar Rp 13.000 perkepala perhari.   Lebih aneh lagi dikatakan bahwa setiap rumah 3 orang,  jadi garis kemiskinan dikali 3 menjadi Rp39.000 perkeluarga perhari.

Pertanyaannya,  apakah misalnya 3 orang di rumah semua punya penghasilan? Isteri mungkin punya penghasilan,  tapi anak pasti tidak punya penghasilan.

Oleh karena itu,  garis kemiskinan di Indonesia menyesatkan, tidak masuk akal dan tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Saya menduga BPS menetapkan garis kemiskinan yang rendah untuk menutupi bahwa kemiskinan di Indonesia sudah berhasil dikurangi oleh pemerintah.

Menurut saya,  tidak perlu menutupi bahwa kemiskinan di negara kita masih merajalela. Sebaiknya kita jujur pada diri sendiri. Kalau tanya diri kita,  apakah garis kemiskinan yang ditetapkan BPS sebesar Rp 13.000 perkepala perhari,  sekalipun di kali 3 orang di dalam 1  keluarga,  cukup untuk hidup layak di Indonesia.

Begitu juga garis kemiskinan di DKI sebesar Rp 19.770 perkepala perhari,  sekalipun dikali 3 orang dalam 1 keluarga sebesar Rp 59.100, apakah kita sudah bisa hidup layak di DKI Jakarta.

Saya sudah tanya kuli bangunan dan rakyat jelata,  apa berpenghasilan Rp 50.000 perhari perorang cukup untuk hidup layak di DKI Jakarta?   Hampir semuanya menjawab tidak cukup. Untuk menyiasati,  isteri dan anak tetap tinggal dikampung.

Semoga garis kemiskinan yang selama ini menyesatkan,  bisa diperbaiki hasil Pemilu 17 April 2019.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search