Hubungan Islam dan Politik, Seminar Politik di UIC

 Kategori Lainnya, Pendidikan, Politik

Hubungan Islam dan politik ibarat ikan dan air. Ikan akan mati,  jika hidup ditempat yang tidak ada air.  Begitu juga,  Islam akan lemah dan mati jika tidak ditopang oleh politik.

Kira-kira itu benang merah yang muncul dari seminar “Hubungan Agama dan Politik” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, dengan narasumber:
–  Dr.  Fahira Idris, Anggota DPD RI
–  KH. Ahmad Shobri Lubis, Ketua Umum FPI
–  Dr.  Ahmad Yani,  mantan Anggota DPR RI

Seminar ini di buka oleh Musni Umar,  Rektor Universitas Ibnu Chaldun, dihadiri Dr.  Hasinggahan Lubis,  Dekan Fakultas Agama Islam,  Imam Zakwan,  Kepala Pusat Dakwah Univ.  Ibnu Chaldun,  pengurus FPI Jakarta Timur,  Pengurus DPD Bang Japar Jakarta Timur,  pimpinan BEM Fakultas Agama Islam,  serta mahasiswa (i) Fakultas Agama Islam dan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan Universitas Ibnu Chaldilun Jakarta.

KH. Ahmad Shobri Lubis, ketika menjadi pembicara pertama dalam seminar, mengemukakan pendapat Imam Al-Mawardi dalam bukunya ”
“Al Ahkam Al Shultaniyah” tentang tujuan politik Islam, yaitu:

1. Hirastatul diin (menjaga agama)
2. Siyasatuddunya (mengatur kehidupan dunia).

Menurut Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) bahwa Nabi Muhammad SAW mendirikan Negara Madinah, Tujuannya untuk mengurus maslahat ammah (kebaikan umum).tMaka politik Islam tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengurus maslahat ammah.  Dalam hubungan itu,  menurut dia, politisi Islam harus mengamalkan siyasah assyar’iyah  (politik yang mengamalkan syariat Islam).

Dalam upaya Nabi Muhammad SAW mewujudkan kebaikan umum (maslahat ammah) ketika menjalankan pemerintahan di Madinah,  Nabi membuat  perjanjian dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang dikenal dengan “Piagam Madinah”.

Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa para Nabi diutus oleh Allah adalah untuk memperbaiki penguasa. Hakikat kekuasaan adalah amanah dari Allah utk urus manusia, maka politisi Islam menurut dia,  adalah duta2 Allah yang diutus untuk memajukan masyarakat. Itu sebabnya,  dalam politik Islam
tidak boleh mengamalkan tabligul wasaail (menghalalkan segala cara).

Untuk mewujudkan hal itu,  maka dalam rangka Pemilu 2019, umat Islam wajib memilih calon anggota parlemen (DPR,  DPD dan DPRD) dari partai politik dan calon Presiden/Wakil Presiden RI yang diusung ulama yang diyakini bisa menjaga agama (hirasatuddiin)  dan menjalankan pemerintahan secara baik (siyasatuddunya) supaya kesejahteraan dan kemajuan seluruh bangsa Indonesia segera bisa diwujudkan di Indonesia.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search