Tanpa Politik Identitas Tidak Ada Indonesia

 In Politik, Opini

Pada 17 November 2018, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakuktas Agama Islam Universitas Ibnu Chaldun Jakarta menyelenggarakan Seminar “Hubungan Agama dan Negara”. Narasumber: Dr. Fahira Idris, Anggota DPD RI, KH. Ahmad Shobri Lubis, Ketua Umum FPI, Dr. Ahmad Yani, mantan Anggota DPR RI.

Dr. Ahmad Yani sebagai pembicara kedua menyoroti politik identitas yang kembali ramai dibicarakan menjelang Pemilu serentak 2019.

Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI ke-6 telah mempersoalkan penggunaan politik identitas, yang menurutnya mulai marak sejak pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Tumbuh Kesadaran Politik

Snouck Hurgronje, pakar politik Islam sengaja diutus oleh Belanda sebagai penjajah untuk melemahkan dan menghancurkan politik Islam di Indonesia.

Akan tetapi kesadaran politik umat Islam sulit dihentikan. Bisa dipecah belah oleh politik “devide et impera”, tetapi semangat juang untuk merdeka tidak lekang karena panas dan tidak  lapuk karena hujan. Pendorong utama untuk terus berjuang mewujudkan kemerdekaan Indonesia menurut Ahmad Yani adalah politik identitas.

Di era Orde Baru, politik Islam dihancurkan. Nurcholish Majid kemudian merespon dengan memunculkan jargon “Islam Yes Partai Islam No.”

Di era  Orde Reformasi, kegairahan berpolitik kembali bersemarak. Namun hasil Pemilu, politik Islam tetap tidak menggembirakan.

Kasus Ahok yang mempersoalkan Surat Al Maidah ayat 51, telah mempersatukan umat Islam. Tidak hanya mempersatukan, tetapi menurut KH. Ahmad Shobri Lubis, Ketua Umum  FPI, juga menyadarkan umat Islam pentingnya politik.

Buktinya politik sembako yang sangat masif dan marak dilakukan menjelang penyoblosan pemilihan Gubernur DKI Jakarta dengan harapan warga DKI Jakarta memilih Ahok-Djarot yang dicalonkan PDIP, Partai Golkar, PKB, PPP, Partai Nasdem, PKPI, dan PSI, tidak memengaruhi atau menghalangi warga untuk memilih Anies-Sandi dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Politik Identitas

Sejak Pemilihan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) 2017, ramai sekali perbincangan tentang politik identitas. Pihak lawan yang kalah dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta mengecam keras diamalkannya politik identitas, yang mereka sebut politik SARA (Suku,  Agama,  Ras,  Antar Golongan) untuk memenangkan Anies-Sandi.

Menjelang pemilihan umum serentak untuk memilih Presiden/Wakil Presiden dan anggota parlemen (DPR, DPD dan DPRD) seperti dikemukakan di atas,  perbincangan politik identitas kembali menghangat.

Dr. Ahmad Yani, mantan Anggota DPR RI merespon yang mempersoalkan politik identitas dengan mengatakan bahwa tanpa politik identitas tidak ada Indonesia.

Sebagai sosiolog, saya mengamini pernyataan itu karena dalam fisik untuk merebut kemerdekaan, spirit keislaman sangat mewarnai perjuangan rakyat untuk mewujudkan kemerdekaan.

Bahkan untuk mempertahankan kemerdekaan RI, pekikan Allahu Akbar selalu dilakukan para pejuang. Semangat juang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI bersumber dari keyakinan agama yang diekspresikan.

Menurut saya, tidak ada kata atau kalimat yang tepat disebutkan hal itu kecuali politik identitas.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search