Reuni 212 Membeludak dan Super Damai, Mengapa?

 Kategori Lainnya, Sosial

Sebagai peserta yang mengikuti Aksi Bela Islam 212 tahun 2016, saya memastikan Reuni Akbar Aksi 212 tahun 2018 membeludak dan lebih ramai.

Kalau Aksi 212 tahun 2016, puncak keramaiannya, saya masih bisa keliling di Monas dan keluar dari area Monas dan salat Jumat di Jalan MH. Thamrin di depan hotel Sari Pacific.

Akan tetapi, reuni 212 tahun 2018, saya keluar dari penginapan Hotel Takes Mansion Thamrin, di depan Bank Indonesia menuju pintu gerbang Monas yang hanya sekitar 100 meter tidak bisa tembus jalan kaki saking padatnya massa. Itu baru pukul 09.00 wib.

Akhirnya saya menaiki tangga penyeberangan Bank Indonesia yang disesaki massa dan menfoto massa di jalan MH Thamrin arah Hotel Indonesia dan Patung Kuda yang sudah bagaikan lautan manusia yang memutih.  Setelah itu, saya turun tangga dan tertahan di depan Gedung ESDM.

Saya mencoba menyeberang ke Monas, tetapi saya tidak bisa menembus lautan manusia.  Setelah mendengar pidato Anies kemudian Prabowo, saya banyak berbincang dengan para peserta.

Setelah melihat keadaan tidak mungkin ke Monas, akhirnya saya menyeberang ke Bank Indonesia dengan memaksakan diri, yang memerlukan waktu agak lama untuk sampai ke BI dan ke hotel tempat menginap.

Mengapa Membeludak?

Setidaknya lima alasan mengapa Reuni 212 membludak dan jauh lebih ramai daripada aksi 212.

Pertama, semangat perubahan. Nampaknya momentum politik mempengaruhi peserta untuk berbondong-bondong hadir di arena reuni 212.  Saya bertanya kepada banyak peserta reuni, sejak di hotel tempat menginap sampai di lokasi tempat terkonsentrasi massa di Jalan MH Thamrin Jakarta, semua menyatakan ingin ada perubahan.
Menurut saya, semangat ingin perubahan mendorong alumni dan yang bukan alumni untuk hadir di reuni 212.

Kedua, rindu silaturrahim. Para peserta aksi sangat terkesan mengikuti aksi 212, sehingga merasa rugi jika tidak menghadiri reuni 212 di Monas untuk silaturrahim menjalin kasih sayang.

Ketiga, ingin memelihara ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam yang terbangun dari aksi bela Islam sebelumnya.  Semangat tersebut mewarnai kehadiran para peserta reuni 212 di Monas.

Keempat, semangat jihad. Kehadiran para peserta reuni 212, digerakkan oleh semangat jihad. Semangat jihad telah mengalahkan ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan untuk hadir di Monas mengikuti reuni 212.

Kelima, ingin ibadah dan berjuang.  Beberapa ibu dan bapak dari Bandung, Banten, Surabaya,  Banjarmasin dan Jambi yang saya tanya dalam obrolah mengatakan bahwa ingin masuk syurga satu keluarga. Untuk meraih syurga harus banyak beribadah dan ikut berjuang.

Mengapa Super Damai?

Reuni 212 berlangsung super damai. Pertanyaannya, mengapa bisa berlangsung super damai?

Pertama, niat ibadah dan berjuang karena Allah. Karena niatnya ikhlas,  tulus, tanpa pamrih, maka reuni 212 berlangsung super damai.

Kedua, tanpa kepentingan pragmatis.
Karena tidak ada kepentingan pragmatis,  maka tidak ada transaksi. Umat percaya seruan ulama yang istiqamah, lurus dan tidak mudah dibeli, sehingga masyarakat memegang prinsip “sami’na waatha’na (kami dengar dan kami taati).

Ketiga, ulama menyadari perjuangan harus damai.  Jika tidak damai yang korban paling banyak adalah rakyat jelata. Maka reuni harus berlangsung super damai.

Keempat, tidak ada niat menciptakan kekacauan, maka dibawah bimbingan ulama, reuni berlangsung super damai.

Kelima, ulama masih didengar dan diikuti masyarakat.  Himbauan Habib Rizieq Shihab dari Makkah dan alim-ulama, masyarakat membeludak hadiri reuni dan mampu menjaga suasana yang aman dan damai.

Semoga suasana ukhuwah, persatuan dan kesatuan serta suasana damai dan aman yang terbangun dalam aksi 212 dan reuni Akbar 212, rakyat mewujudkan perubahan di bilik suara pada 17 April 2019.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search