Reuni 212 Panggilan Hati dan Rindu Keadilan

 Kategori Opini, Sosial

KH. Abdullah Gymnastiar yang populer dengan panggilan AA Gym mengatakan bahwa reuni 212 adalah panggilan hati yang sangat merindukan keadilan.

Sebagai sosiolog, saya mencoba berpikir dan merenung tentang kebenaran yang dikemukakan AA Gym bahwa manusia berkumpul di Monas dalam jumlah yang luar biasa besar karena panggilan hati.

Saya pikir pernyataan itu dilihat dari aspek berkumpulnya manusia di Monas dalam Aksi 212 maupun reuni 212, sangat benar karena panggilan hati seperti yang dikemukakan AA Gym.

Akan tetapi, kita perlu bertanya mengapa masyarakat dalam jumlah amat besar, ada yang menyebut 8 juta, 9 juta, 10 juta dan bahkan 13,4 juta mau berkumpul di Monas dengan biaya transportasi, makan dan penginapan sendiri, walaupun ada yang secara sukarela membantu,  tetapi pasti karena ada masalah di negara kita.

Rindu Keadilan

AA Gym sudah mengemukakan bahwa umat berkumpul di Monas dalam jumlah yang luar biasa besar karena panggilan hati yang sangat merindukan keadilan.

Masalah keadilan ini beberapa tahun lalu di ILC TV ONE saya sudah kemukakan, tetapi saat itu disanggah oleh seorang Letjen TNI Purn. yang juga panelis yang mengatakan bahwa keadilan hanya ada diakhirat.

Beberapa hari lalu di salah satu radio,  saya live dan berbicara masalah keadilan. Akan tetapi, seorang pendengar mengemukakan bahwa keadilan tidak usah dipersoalkan karena hanya ada di akhirat.

Saya langsung merespon dengan mengemukakan bahwa keadilan harus diwujudkan. Secara teologis, Allah sudah menegaskan dalam Alqur’an “I’diluu huwa aqrabu littaqwaa (berlaku adillah karena adil mendekatkan kepada taqwa).

Secara ideologis, Pancasila, sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab,” dan sila kelima “Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Masalah keadilan tidak mungkin Allah menyebut dalam Alqur’an dan para pendiri negara kita menetapkan keadilan dalam sila kedua dan sila kelima dari Pancasila kalau bukan untuk diwujudkan.

Realita Keadilan

Dalam bidang ekonomi, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ekonomi Indonesia dikuasai non-muslim dan asing.

Dari 22 orang terkaya di Indonesia menurut Majalah Forbes hanya dua orang yang Muslim yaitu Chairul Tanjung dan Bachtiar Karim.

Pengusaha besar lainnya dan pengusaha menengah juga didominasi pengusaha non-muslim.

Dalam bidang hukum, persepsi masyarakat dalam penegakan hukum, tajam ke bawah tumpul ke atas.  Tajam pada penentang rezim tumpul pada pendukung rezim.

Dalam bidang pendidikan, perguruan tinggi yang didirikan para konglomerat luar biasa berkembang dan maju.  Sementara perguruan tinggi yang didirikan para tokoh Islam yang sudah puluhan tahun, dibiarkan termarjinalisasi dan terpinggirkan. Pada hal umat Islam punya dana yang amat besar jumlahnya yaitu dana haji, yang bisa dimnafaatkan untuk membangun pendidikan Islam dan ekonomi umat,  justeru digunakan untuk beli Surat Utang Negara (SUN) dan membiayai infrastruktur yang tidak terkait dalam penciptaan keadilan.

Oleh karena itu, ghirah dan semangat reuni 212 yang didorong oleh hati, tidak lain adalah sebagai bentuk protes sosial umat Islam terhadap ketidakadilan yang terus dipelihara dan dipertahankan di negeri ini.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search