Sembako Mahal: Belajarlah di Malaysia

 In Dunia Usaha, Opini

Pada hari Ahad 9 Desember 2018, saya kembali berolah raga jalan kaki.  Karena hari libur, saya keluar dari lingkungan tempat tinggal, lalu saya menelusuri jalan sampai melintasi Kantor Lurah Cipete Selatan.

Di kantor Lurah, saya bertemu banyak petugas kebersihan yang disebut PPSU.  Saya terus jalan dan bertemu H. Asman Nasution, Ketua Umum Masjid Nurul Huda dan temannya, seorang jamaah Masjid Nurul Huda sedang duduk di pos keamanan. Mungkin keduanya merasa lelah setelah jalan kaki.

Saya akhirnya tiba di komplek Pertamina Cipete Selatan dan jalan kaki mengelilingi komplek itu yang  tidak terlalu luas.

Hidup Makin Sulit, Apa solusinya

Saya pertama menyapa dan berbincang dengan petugas keamanan.  Kemudian menyapa tukang  sapu, yang setiap hari menyapu komplek itu.

Setelah jalan kaki mengelilingi komplek, saat mau pulang, saya kembali berbincang dengan penjaga keamanan yang mengaku penduduk pribumi dan sudah bekerja 20 tahun sebagai penjaga keamanan.

Selanjutnya dalam perjalanan pulang, saya bertemu Buyung yang mengaku dari Padang.  Kemudian saya bertemu Sakmad, pengumpul barang bekas. Dia sedang duduk dibangku penjual rokok, minuman dan super mie yang sedang ditutup.

Hasil perbincangan dengan mereka,  saya merasa sedih karena keluhan mereka “kok kehidupan makin sulit.”

Yang mereka keluhkan mahalnya sembako.  Presiden Jokowi mengatakan bahwa harga sembako di pasar stabil.  Itu betul tetapi setelah naik harganya berkali lipat dan tidak pernah turun.  Apalagi rakyat kecil membandingkan harga sembako di masa Pak Harto.

Begitu juga, hari Jumat, 8 Desember 2018, sebelum saya membuka Bimtek Anggota DPRD Kab. Pariaman, Sekadau dan Mempawa, di hotel Golden Tulip Passer Baru, saya jalan kaki sekitar hotel itu, saya menyaksikan kehidupan orang kecil yang tinggal digang yang amat sempit – hanya bisa dilalui satu orang. Keluhan ibu-ibu adalah sembako yang mahal, sehingga merasa kehidupan mereka bertambah sulit.

Pertanyaannya, apa solusinya? Saya dan Pak Asrun Tonga sudah menawarkan konsep kepada Gubernur DKI Jakarta, supaya setiap wilayah dibangun “Hall” tempat berdagang orang-orang kecil yang dikelola secara profesional dan moderen, tidak dikenakan pembayaran (sewa) seperti pasar yang dibangun PD Pasar Jaya,  hanya dipungut retribusi setiap hari. Anggaran pengelolaannya bisa disubsidi oleh Pemprov. DKI. Para pegawai DKI yang penghasilannya cukup besar, setiap hari libur (Sabtu, Minggu) diminta berbelanja di pasar yang dibangun di setiap wilayah.

Konsep untuk membantu orang kecil sebagai perluasan dari OK OCE sudah diterima Gubernur DKI dan kami sudah bertemu Kepala Dinas Usaha Mikro Kecil dan Menengah Pemprov. DKI Jakarta. Tinggal menunggu realisasinya.

Dalam masyarakat moderen, setiap orang harus ada pekerjaan. Dengan memiliki pekerjaan, maka ada penghasilan untuk berbelanja.

Selain itu, untuk menekan harga sembako supaya harganya murah, Indonesia bisa belajar di Malaysia yang menetapkan 25 jenis barang dikontrol (dikawal) oleh kerajaan (pemerintah), sehingga harganya tidak pernah naik.

Masalah harga sembako (sembilan bahan pokok) harus diatasi oleh pemerintahan baru Indonesia hasil  Pemilu 17 April 2019 karena menjadi keluhan orang kecil, yang selama 20 tahun di era Orde Reformasi tidak diatasi.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search