Politik Dakwah untuk Bangun Keadilan dan Kemajuan Bersama

 Kategori Opini, Politik

Salah satu persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia setelah merdeka 73 tahun adalah ketidak-adilan dalam seluruh lapangan kehidupan terutama dalam bidang ekonomi.

Ketidakadilan diciptakan oleh para penguasa. Dalam bidang ekonomi, mereka yang berkuasa berkolusi dengan pengusaha untuk mendapat keuntungan kekayaan pribadi dan keluarga.

Para penguasa memanfaatkan kebodohan dan buta politik rakyat untuk berkuasa melalui Pemilu dengan menggunakan politik uang dan politik sembako.

Pada masa lalu pernah dikumandangkan jargon “Politik No Pembangunan Yes.”  Bahkan sering disebutkan bahwa politik itu jahat, licik dan tidak bermoral.  Pada hal pembangunan merupakan produk politik.

Dampak dari propaganda negatif terhadap politik,  pada masa sekarang banyak rakyat dari berbagai lapisan yang membenci politik.

Umat Islam banyak yang menjauhi politik, sehingga dari Pemilu ke Pemilu mereka hanya dimanfaatkan suara mereka oleh kelompok-kelompok tertentu untuk meraih kedudukan politik dalam setiap Pemilu.

Ketidakadilan, Dipecah Belah

Ketidakadilan dalam berbagai aspek terutama dalam bidang ekonomi, tidak hanya diciptakan, tetapi sengaja dilanggengkan melalui kekuatan politik dan kekuatan uang.

Pemimpin Islam banyak yang ditaklukkan dengan kekuasaan dan uang. Perilaku seperti itu, menguntungkan secara pribadi, tetapi sangat merugikan perjuangan rakyat dan umat Islam untuk mendapatkan keadilan.

Oleh karena, pimpinan partai  politik dan pimpinan organisasi massa Islam telah ditaklukkan, maka para elit yang berkuasa semakin merajalela. Mereka  menggunakan  kekuasaan untuk semakin mengakumulasi kekayaan melalui kolaborasi dengan pihak asing dengan modus “investasi” untuk menguasai kekayaan Indonesia dan mengendalikan kekuasaan.

Rakyat dan umat Islam akhirnya semakin termarjinalisasi (terpinggirkan). Dampaknya, tumbuh perasaan diperlakukan tidak adil.  Ada yang berani bangkit melawan kekuasaan, kemudian disebut teroris dan dihabisi.  Tidak sedikit yang melakukan “uzlah” menjauh dari politik dan bahkan mengharamkan demokrasi, sehingga tidak berpartisipasi dalam setiap Pemilu.

Politik Dakwah

Kondisi demikian, tidak boleh dibiarkan. Solusi yang ditawarkan, ialah melakukan politik dakwah dengan landasan pijak Alqur’an
Surat Aali Imraan, ayat 104:

“waltakumun minkum ummatun jad’uuna ilal khairi waya’muruuna bil ma’ruf wayanhaona ‘anil munkar wa’ulaaika humul muflihun.” (Hendaklah kalian menjadi umat yang mengajak untuk berbuat kebaikan dan mencegah berbuat yang tidak baik (munkar) dan mereka itu adalah orang-orang beruntung).

Oleh karena itu, para mahasiswa dan umat Islam harus berpartisipasi dalam proses politik demokrasi.
Kalau para mahasiswa dan umat Islam masa bodo’ tidak mau terlibat dalam proses politik, maka yang akan memimpin negara ini di eksekutif dan legislatif adalah orang-orang jahat.

Pertanyaannya, bagaimana dakwah politik sebagai bentuk partisipasi dalam proses demokrasi?

Pertama, menyadarkan dan mencerahkan masyarakat tentang pentingnya berpartisipasi dalam proses politik.

Kedua, mengajak untuk berpartisipasi memilih pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden yang terbaik serta para calon anggota parlemen di semua tingkatan dari para calon yang terbaik.

Ketiga, mengajak supaya setiap orang mengajak keluarga, famili, tetangga untuk berpartisipasi  memilih pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden yang terbaik serta para calon anggota parlemen di semua tingkatan dari para calon yang terbaik.

Keempat, mengajak berpartisapi untuk mencegah adanya politik uang dan kecurangan dalam Pemilu 2019.

Kelima, mengajak masyarakat untuk melakukan pengawasan partisipatif terhadap pelaksanaan Pemilu pada 17 April 2019 supaya Pemilu berlangsung Luber (langsung, umum. Bebas dan rahasia) serta Jurdil (Jujur dan adil).

Dengan melakukan lima hal tersebut berarti kita sudah melaksanakan dakwah politik. Saya optimis, jika terus-menerus dilakukan, maka masyarakat dan umat Islam diharapkan tersadarkan dan menjadi penggerak, dan pengamal Pemilu yang akan datang.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search