Kaleidoskop 2018: Tahun Musibah, Kesenjangan dan Ketidakadilan

 Kategori Lainnya, Opini

Tahun 2018 bagi bangsa Indonesia bisa disebut tahun musibah. Banyak peristiwa yang terjadi yang disebabkan oleh alam dan manusia,  yang kemudian menimbulkan masalah sosial. Semuanya diungkap dengan judul “Kaleidoskop 2018: Tahun Musibah. Kesenjangan dan Ketidakadilan.”

Setidaknya ada 10 peristiwa yang menimbulkan musibah, kesenjangan, ketidadilan dan kemiskinan. Pertama, korupsi (rasuah). Tahun 2018 sangat banyak Kepala Daerah, anggota parlemen di pusat dan daerah yang dijebloskan ke penjara oleh KPK karena melakukan tindak pidana korupsi.

Peristiwa paling menonjol tahun 2018 ialah dijebloskannya Ketua DPR RI Setya Novanto ke dalam tahanan serta Menteri Sosial RI,  Idrus Marham karena melakukan korupsi. Korupsi bisa menyebabkan langgengnya kemiskinan di Indonesia.

Kedua, kerusuhan di Mako Brimob.  Para pejuang yang disebut teroris melakukan kerusuhan di Markas Komando Brigade Mobil POLRI dan kemudian menguasai Mako Brimob.  Untuk mengatasi masalah tersebut kemudian dilakukan penyerbuan untuk mengambil alih markas tersebut. Para teroris yang selamat dari penyerbuan kemudian dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan.

Ketiga, serbuan Tenaga Kerja China di Indonesia. Mereka menyerbu Indonesia dengan modus invertasi. Berbagai perusahaan China melakukan investasi di Indonesia, membawa modal, teknologi, mesin dan tenaga kerja. Mereka diberi karpet merah oleh pemerintah, sementara bangsa Indonesia tidak mendapat manfaat apa-apa dari investasi itu, sehingga kemiskinan sulit dihabisi, karena pembangunan ekonomi tidak membuka pekerjaan bagi kaum pribumi.

Keempat, kesenjangan sosial. Pembangunan infrastruktur yang dibanggakan tidak menghadirkan pemerataan dan keadilan sosial, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, semakin menciptakan kesenjangan, yang kemudian menimbulkan perasaan ketidakadilan sosial. Pada hal sila kedua dan sila kelima dari Pancasila mengamanatkan pentingnya diamalkan kemanusian yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kelima, utang menumpuk. Sudah menjadi perbincangan publik bahwa utang pemerintah dan BUMN semakin menumpuk.  Menurut CNBC Indonesia, utang luar negeri Indonesia telah mencapai US$ 360,7 milyar atau sekitar Rp 5.410 Triliun (US$ 1= Rp 15.000).

Terus meningkatnya utang luar Indonesia pasti memberi beban yang luar biasa besar pada APBN karena harus dialokasikan untuk membayar bunga dan utang pokok, sehingga otomatis dana untuk pembangunan semakin kecil. Dampaknya, dana untuk pembangunan  sosial dan sumber daya manusia (SDM) tidak bertambah. Pada hal tulang punggung kemajuan Indonesia di masa depan, terletak kepada kesuksesan dalam membangun SDM.

Keenam, mudik lebaran dan akhir  tahun.  Fenomena sosial yang terjadi setiap tahun ialah ramainya masyarakat pulang kampung setiap tahun pada saat lebaran, akhir tahun dan  tahun baru.  Pulang kampung memberi multiplier effect ekonomi bagi orang kampung.  Sebaliknya, mereka yang berduit melancong keluar negeri, yang tentu menimbulkan dampak yang kurang baik karena banyak devisa keluar negeri sehingga defisit kita semakin besar.

Ketujuh, reuni akbar 212 membludak. Berbagai upaya dilakukan untuk menghambat hadirnya masyarakat dalam reuni akbar 212 di Monas. Akan tetapi, masyarakat tetap hadir dalam jumlah yang amat besar.  Ada yang menyebut masyarakat yang hadir di Monas pada reuni akbar mencapai 13 juta orang.  Menurut saya, kehadiran masyarakat di Monas dalam jumlah yang luar biasa besar adalah panggilan hati, tetapi tidak terlepas sebagai bentuk  protes sosial secara damai atas ketidakadilan dalam berbagai bidang terutama di bidang ekonomi.

Kedelapan, penegakan hukum semakin di rasakan tidak adil. Masyarakat yang dianggap kritis terhadap pemerintah dan menjadi pendukung oposisi dicarikan kesalahannya dan segera diproses jika ada yang melaporkan.  Sebaliknya para pendukung pemerintah, tidak diproses jika ada yang melaporkan pelanggaran hukum yang dilakukan. Hal tersebut kemudian menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa hukum tajam ke oposisi.

Kesembilan, pesawat jatuh ke laut. Kita amat bersedih pesawat LION Air mengalami musibah sehingga seluruh penumpang, crew dan pilot meninggal dunia.  Semoga tahun 2019 tidak terjadi musibah serupa.

Kesepuluh, gempa di NTB, tsunami di Sulawesi Tengah dan Selat Sunda. Mereka yang terkena gempa dan stunami telah menimbulkan kematian yang amat banyak. Mereka yang selamat, kehilangan harta benda dan rumah tempat tinggal, sehingga menambah jumlah orang miskin. Sampai saat ini janji  kepada korban gempa di NTB, korban tsunami di Sulawesi Tengah belum direalisasikan. Begitu pula korban tsunami di Selat Sunda. 

Pemerintah pusat dan  pemerintah daerah yang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerahnya besar seperti DKI Jakarta sebaiknya membantu mereka yang mengalami musibah. 

Kita apresiasi Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang telah menyalurkan bantuan ke NTB, Sulawesi Tengah, dan korban tsunami Selat Sunda. Diharapkan tahun 2019 mereka diberikan dana untuk membangun tempat tinggal, sehingga mereka yang mengalami musibah bisa membangun kembali masa depan mereka.

Selamat Tinggal Tahun 2018 yang penuh duka bagi bangsa Indonesia, dan Selamat Datang 2019. Kita berdoa semoga tahun 2019 menghadirkan perubahan, dan kita dijauhkan dari musibah dan bencana.

Recent Posts

Start typing and press Enter to search