Membludak Orang Sakit, BPJS Kesehatan Bangkrut?

 Kategori Lainnya, Opini

Sebagai sosiolog, saya sudah lama memperhatikan mengapa banyak sekali orang sakit.  Beberapa kali saya ke rumah sakit Fatmawati untuk mengurus keterangan sehat, saya menyaksikan banyaknya orang yang antri dan menunggu untuk berobat.

Ada yang memberitahu saya, di RS Fatnawati menjelang Subuh,  sudah ramai  masyarakat antri mau ambil nomor urut berobat.  Biasanya pukul 06.30 sudah ada layanan dari rumah sakit. Pada pukul 07.00 sudah amat ramai masyarakat yang antri berobat.

Bukan hanya di Rumah Sakit Fatmawati yang membludak mau berobat, tetapi juga di Rumah Sakit lain seperti RS Setia Mitra, jalan Fatmawati, sejak pagi sampai sore hari sangat banyak pasien yang mau berobat.

Mereka yang Sakit

Menurut pengamatan saya  sebagai sosiolog, mereka yang banyak ke RSU untuk berobat setidaknya terdiri dari dua golongan. Pertama, orang miskin yang kurang makan. Kalaupun makan, makanan yang disantap tidak bergizi, sehingga cepat terserang penyakit.  Karena miskin, maka tidak bisa merawat atau menjaga kesehatan.

Kedua, manusia lanjut usia (manula). Saya memperhatikan manula banyak yang sakit.  Mereka pada umumnya mantan pegawai pemerintah  yang sudah pensiun. Sebagai orang pensiun,  income (pemasukan) mereka sangat terbatas-hanya dari  uang pensiun yang tidak besar jumlahnya. Akibatnya mereka mudah sakit dan tidak bisa  memelihara dan menjaga kesehatan yang memerlukan biaya yang tidak murah.

BPJS Kewalahan

Besarnya jumlah orang sakit di Indonesia, mengakibatkan BPJS Kesehatan kewalahan membayar klaim dari rumah sakit yang mengobati orang-orang sakit.

Tidak sedikit rumah sakit yang menghentikan kerjasama dengan BPJS Kesehatan karena BPJS banyak menunggak utang-tidak dapat membayar utang dengan cepat.

Pertanyaannya mengapa hal itu terjadi?  Dugaan saya, pertama, besarnya jumlah orang sakit dan jenis penyakit yang diobati memerlukan biaya yang besar. Pada hal nilai asuransi yang dibayar tiap orang,  relatif kecil jumlahnya. Tetapi tidak bisa dinaikkan iuranny karena kemampuan ekonomi mereka sangat terbatas.

Kedua, ketaatan untuk membayar iuran asuransi BPJS Kesehatan masih rendah, sehingga dana yang masuk ke BPJS  tidak bisa menutup biaya yang harus dikeluarkan oleh BPJS.

Ketiga,  biaya operasional BPJS tinggi sehingga menguras dana BPJS. Untuk itu, harus dilakukan efisiensi untuk mengurangi biaya operasional BPJS Kesehatan.

Apa yang Harus Dilakukan

Pertama, BPJS harus diselamatkan dari kebangkrutan karena rakyat jelata masih amat memerlukan keberadaan BPJS Kesehatan untuk membantu dalam melayani kesehatan mereka yang tidak murah.

Kedua, sejak usia dini, manusia Indonesia harus dididik dan dibiasakan hidup sehat dengan empat sehat lima sempurna. Selain itu, tidak jajan di pinggir jalan yang tingkat kesehatannya tidak terjamin, tidak merokok, tidak mengonsumsi narkoba dan lain sebagainya.

Ketiga, manusia Indonesia harus didorong olah raga seperti jalan kaki, senam jantung sehat, dan olah raga lain yang tidak memerlukan biaya yang mahal supaya selalu sehat.

Keempat, pemerintah harus menaikkan uang pensiunan pegawai, sehingga mereka yang sudah pensiun bisa merawat kesehatan dan   dapat makan makanan yang bergizi, sehingga tetap sehat.

Kelima, kemiskinan harus dikurangi secara signifikan. Tidak seperti selama ini mempertahankan batas garis kemiskinan yang rendah untuk kepentingan  politik dengan nengatakan jumlah  orang miskin sudah berkurang. Pada hal sejatinya jumlah orang miskin masih sangat besar jumlahnya.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search