Peringatan HUT PDI Perjuangan ke-46 di JIExpo Kemayoran Jakarta (10/1/2019) yang amat meriah telah hadir Presiden RI, Wakil Presiden RI, Ketua MPR RI, Ketua DPR RI, para Menteri dan para kader PDI Perjuangan di seluruh Indonesia.
Topik perbincangan publik setelah acara peringatan HUT PDIP selain pidato Presiden Jokowi yang memuji Megawati Soekarno Putri setinggi langit selaku Ketua Umum PDIP dan Presiden RI ke-5, pidato Megawati Soekarno Putri selaku Ketua Umum PDIP yang menyinggung hubungan harmonis antara Prabowo dan dirinya.
Selain itu, yang banyak menarik perhatian dan komentar netizen ialah perlakuan tidak pantas kepada Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI/Ketua Umum PAN dan kepada Kwie Kian Gie, ekonom senior Indonesia. Keduanya disoraki para kader PDIP dalam acara agung tersebut.
Menyoraki tokoh yang diundang dalam suatu acara, bukan kali pertama ini terjadi. Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta merupakan tokoh yang sangat banyak disoraki sebagai wujud tidak suka kepadanya.
Buktinya, pada saat Presiden Jokowi mengadakan pesta perkawinan Kahiyang Ayu di Solo, Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang diundang dan hadir, ketika turun dari bus untuk memasuki ruang pesta perkawinan, Anies disoroki.
Begitu pula, ketika menghadiri HUT Kanisius, Anies bukan saja disoraki, tetapi pada saat berpidato, sebagian tamu walk out dari ruangan. Hal yang sama dialami Anies pada saat menghadiri acara open house Presiden Jokowi dalam rangka Idul Fitri di Istana Bogor, Anies mengalami perlakuan yang sama “disoraki.”
Menghormati Tamu
Salah satu ajaran Islam yang sudah menjadi budaya, karena sudah diamalkan turun-temurun di dalam masyarakat Indonesia ialah menghormati tamu.
Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Mankaana yu’minu billahi wal yaumil aakhir fal yukrim dhaifahu (Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat) maka hendaklah dia memuliakan tamunya.
Hadist Nabi Muhammad SAW tersebut membumi dikalangan bangsa Indonesia, bahkan telah menjadi budaya. Akan tetapi, dalam beberapa terakhir, budaya memuliakan tamu mulai terkikis oleh perbedaan politik.
Kasus Ketua MPR Zulkifli Hasan yang disoraki. Begitu pula, Kwie Kian Gie, kader senior PDIP/mantan Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas RI, sebelum adanya perbedaan dukungan politik dalam Pemilu Presiden 2019, tidak ada masalah.
Tidak memuliakan tamu tidak boleh didiamkan. Pertama, merusak budaya bangsa Indonesia yang sangat menghormati tamu.
Kedua, tidak menghormati tamu dan bahkan “menyoraki” tamu, telah menciptakan permusuhan. Hanya perbedaan dukungan politik mengakibatkan terjadi perseteruan politik dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Pada hal Pemilu hanya sebagai sarana, bukan tujuan.
Ketiga, menyoraki tamu telah merenggangkan hubungan silaturrahin dan bahkan bisa mutus hubungan persahabatan.
Keempat, menyoraki tamu sebagai wujud tidak suka, melemahkan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara kita.
Kelima, menyoraki tamu, menciptakan blok-blok di masyarakat, dengan kata “saya” dan “kamu,” seharusnya “kita.”
Semoga tulisan ini yang dipublikasikan di hari Jum’at, memberi pencerahan dan penyadaran kepada bangsa Indonesia untuk memelihara, menjaga dan mengamalkan budaya menghormati dan memuliakan tamu.

Musni Umar adalah Sosiolog dan Warga DKI Jakarta.
