Abu Bakar Baasyir, Tendensi Politik dan Korban Perang Melawan Terorisme

 Kategori Lainnya, Opini

Ustaz Abu Bakar Baasyir menjadi perbincangan publik setelah diberitakan akan dibebaskan dari penjara.  Menurut Yusril Ihza Mahendra, pengacara Jokowi-Ma`ruf Amin bahwa pembebasan ustaz Abu Bakar Baasyir merupakan kebijakan Presiden Jokowi.

Sejatinya menurut Mahendradatta, Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) bahwa ustaz Abu Bakar Baasyir telah bebas pada 23 Desember 2018 karena telah menjalani hukuman 2/3, tetapi pihaknya tidak diberitahu mengapa ustaz tidak dibebaskan.

Yusril Ihza Mahendra menjelaskan  tidak dapat dilakukan pembebasan ustaz Abu Bakar Baasyir karena terkendala peraturan Menteri Hukum dan HAM RI,  harus menandatangani surat pernyataan setia kepada Pancasila dan NKRi sebagai ketentuan untuk bebas bersyarat.  Sementara ustaz Abu Bakar Baasyir tidak mau menandatangani pernyataan apapun.

Oleh karena ada peraturan Menteri Hukum dan HAM RI tersebut, dan  ustaz Abu Bakar Baasyir tidak mau menandatangani pernyataan apapun, maka menurut Yusril Ihza Mahendra, Presiden Jokowi mengeluarkan kebijakan pembebasan ustaz Abu Bakar Baasyir tanpa syarat dengan alasan kemanusiaan.

Tendensi Politik

Kebijakan Presiden Jokowi yang membebaskan ustaz Abu Bakar Baasyir dari penjara, telah menimbulkan pro-kontra dan spekulasi politik.

Masalahnya, kebijakan Presiden Jokowi tersebut dilakukan pada masa kampanye Pemilu, sehingga sulit dihindari anggapan bahwa kebijakan itu berkaitan erat dengan kepentingan politik Jokowi yang kembali mencalonkan diri menjadi Presiden RI periode 2019-2024.

Mahendradatta, Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) mengharapkan supaya pembebasan ustaz Abu Bakar Baasyir dari penjara tidak dikaitkan dengan kepentingan politik karena menurut ketentuan perundang-undangan sejak 23 Desember 2018, ustaz Abu Bakar Baasyir sudah harus bebas dari penjara karena telah menjalani hukuman 2/3 dari hukuman yang dijatuhkan kepadanya.

Mahendradatta dan TPM sudah lama mengirim surat kepada Presiden RI memohon supaya ustaz Abu Bakar Baasyir dibebaskan dengan alasan kemanusiaan karena ustaz sudah sakit-sakit dan telah uzur karena umur sudah lanjut. Khawatir ada apa-apa di tahanan dapat menimbulkan masalah besar di tanah air.

Isu Terorisme Seret Baasyir

Para pendukung  ustaz Abu Bakar Baasyir dan masyarakat Muslim banyak yang tidak percaya bahwa  ustaz melakukan tindakan terorisme.  Apalagi tuduhannya terhadap ustaz Abu Bakar Baasyir sebagai dalang terorisme yang telah membiayai pelatihan militer di pegunungan Aceh untuk melakukan tindakan terorisme.

Ustaz Abu Bakar Baasyir telah membantah keras dalam persidangan bahwa dia membiayai kegiatan pelatihan militer para mujahidin di pegunungan Aceh.

Pemerintah melalui jaksa telah membuktikan dalam pengadilan bahwa sudah terjadi pelatihan militer para mujahidin di pegunungan Aceh dengan dalang ustaz Abu Bakar Baasyir.

Akibatnya hakim Pengadilan Negeri menghukum ustaz Abu Bakar Baasyir dengan hukuman 15 tahun penjara.  Kemudian ustaz Baasyir banding di  pengadilan tinggi dan dijatuhi hukuman 9 tahun.  Tidak menerima hukuman yang dijatuhkan kepadanya, Baasyir kemudian melakukan upaya hukum terakhir  dengan  kasasi.  Mahkamah Agung (MA) akhirnya memutus Baasyir bersalah dengan  menghukum 15 tahun penjara.

Walaupun ustaz Abu Bakar Baasyir telah menjalani hukuman penjara dengan tuduhan melakukan terorisme, tetapi dia, para pendukungnya  dan sebagian umat Islam tidak percaya Baasyir melakukan terorisme,  tetapi merupakan korban dari rekayasa jahat dalam perang global melawan terorisme.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search