Erdogan Jebol Sekularisme dengan Bangun Masjid di Lingkungan Istana Kepresidenan Turki

 In Budaya, Wisata

Republik Turki didirikan oleh Mustafa Kemal pada tahun 1923, merupakan antitesa dari  Daulah Ustmaniyah karena dasarnya adalah sekularisme, yang memisahkan Islam dengan negara, pemerintahan dan politik.

Pada hal selama Daulah Ustmaniyah berkuasa di Turki  623 tahun lamanya, Islam menyatu dengan urusan pemerintahan, negara dan politik sesuai yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW sewaktu membangun Negara Madinah dan menjalankan pemerintahan.

Hampir 90 tahun lamanya Turki  mengamalkan sistem sekularisme secara ketat dengan memisahkan Islam dalam urusan kenegaraan, pemerintahan dan politik.  Rakyat Turki tidak berdaya menghadapi sekularisme Kemal Ataturk.

Oleh karena pengawal paling setia sekularisme Kemal Ataturk adalah militer.  Militer boleh dikatakan diatas rakyat. Presiden dipilih oleh rakyat dalam pemilihan umum yang demokratis,  bisa di kudeta oleh militer dengan alasan tidak menjalankan sistem sekularisme.

Tidak Disukai Militer

Recep Tayyip Erdogan yang dipilih rakyat secara demokratis dalam pemilihan umum Presiden 2014 sangat dicintai rakyat Turki. Akan tetapi sebaliknya sangat tidak disukai kaum liberal dan militer karena condong kepada Islam.

Untuk mengakhiri kekuasaannya, militer mencoba  membunuhnya pada 15 Juli 2016.  Akan tetapi, Allah masih melindungi Erdogan, sehingga selamat dari upaya pembunuhan.

Ketika selamat dari upaya pembunuhan dalam  kudeta, di dalam pesawat yang membawanya tanpa disebutkan tujuannya, Erdogan menyeru rakyat Turki melawan kudeta militer dengan membanjiri pusat kota untuk berdemo. Seruan Erdogan dipenuhi rakyat Turki, sehingga tentara yang melakukan  kudeta tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menyerah.

Jebol Simbol Sekularisme

Istana kepresidenan Turki di Ankara yang selama hampir 90 tahun sebagai simbol sekularisme Kemal Ataturk dijebol Erdogan dengan membangun Masjid yang megah dan luas dilingkungan istana kepresidenan. Disamping itu, Erdogan membangun perpustakaan terbesar dan megah dengan koleksi judul buku sebanyak 250.000.

Saya bersyukur kepada Allah,  pada 2 Februari 2019, saya dan peserta tour dari manajemen qolbu milik Aagym yang sebelumnya dijadwalkan mengunjungi muzium Kemal Ataturk  tetapi dibatalkan,  karena tidak ada yang mau ke muzium Ataturk.

Mr. Mohamed, tour guide selama kami di Turki menawarkan untuk berkunjung ke istana Presiden Turki sambil salat di Masjid yang dibangun Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Semua setuju dan saya paling berterima kasih karena bisa menyaksikan perubahan yang tengah terjadi di Turki dari sekularisme kepada Islam dengan dibangunnya Masjid Agung di lingkungan komplek kepresidenan Turki.

Pelajaran bagi Bangsa Indonesia

Apa yang terjadi di Turki harus menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia terutama umat Islam, karena ada indikasi kuat Indonesia tengah dibawa ke liberalisasi sekularisasi. Buktinya ada petinggi Indonesia yang pernah mengatakan perlunya pemisahan kekuasaan dengan agama untuk mempercepat kemajuan Indonesia.

Oleh karena itu, momentum pemilihan umum Presiden dan pemilihan anggota parlemen, amat penting dilakukan perubahan. Setidaknya ada tiga alasannya.

Pertama, kekuasaan sangat penting karena seorang Presiden bisa membuat yang putih menjadi hitam dan sebaliknya yang hitam bisa dibuat putih. Kata Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, hanya selember kertas dan sekali tanda tangan bisa mengubah sesuatu yang dianggap mustahil, jika memiliki kekuasaan.

Kedua, umat Islam Indonesia yang mayoritas sudah sangat jauh tertinggal dalam segala bidang karena kekuasaan selalu dipegang orang lain. Oleh karena itu, saatnya memilih Presiden RI  seperti Erdogan yang bisa melindungi kepentingan seluruh bangsa Indonesia dari proses sekularisasi, melindungi ulama dan umat Islam yang  dipecah belah, menciptakan keadilan ekonomi dan menyuarakan secara keras dan tepat  aspirasi bangsa Indonesia terhadap perlakuan tidak adil kepada Palestina, Rohingya, Uigurs dan lain-lain.

Ketiga, bangsa Indonesia terutama umat Islam saatnya memimpin perubahan seperti masyarakat Turki dan masyarakat Malaysia dengan  melakukan perubahan dari bilik suara pada 17 April 2019 dengan memilih pemimpin baru Indonesia agar cita-cita kemerdekaan segera bisa diwujudkan yaitu masyarakat adil dan makmur.

Dalam Masjid Agung Bestapa yang dibangun Erdogan di Komplek Istana Kepresidenan Turki

Masjid yang dibangun Erdogan di komp. Istana Kepresidenan Turki

Grup Wisata Hikmah Turki

Saya dan istri berfoto di depan prasasti Masjid Bestefe yang dibangun Presiden Erdogan di Komplek Istana Kepresiden Turki

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search