Gubernur Anies Sebaiknya Bangun Grand Bazaar di Jakarta

 Kategori Budaya, DKI Jakarta, Wisata

Grand Bazaar di Istanbul sangat terkenal karena semua turis dari manca negara di bawa ke Grand Bazaar berbelanja. Dikawasan itu terdapat 3500 kios yang menjual aneka macam kebutuhan termasuk kuliner.

Grand bazaar ini sangat terkenal di Turki, yang dibangun tahun 1461 M pada saat Mehmed ll yang populer dengan sebutan Muhammad Al Fatih yang merupakan penguasa Daulah Ustmaniyah ke-7 yang memerintah mulai 30 Maret 1432 – 3 Mei 1481).  Al Fatih sangat terkenal karena pasukannya berhasil menaklukkan konstantinopel tahun 1453 yang mengakhiri riwayat kekaisaran Romawi Timur.

Bangun Peninggalan Warisan Tanah Air dan Keadilan

Muhammad Al Fatih sejak kecil telah dimasukkan ke sekolah menghafal Alqur’an di Amasya, Anatolia dekat laut hitam.  Dalam usia muda, Al Fatih diajari bahasa sehingga  menguasai 6 bahasa asing.  Disamping itu, Al Fatih diajari tentang kemiliteran, sains dan matematika, sehingga ahli dalam bidang tersebut.

Al Fatih tidak saja berhasil membangun legacy (warisan) dalam bidang kemiliteran karena dikenal sebagai penakluk konstantinopel, tetapi juga legacy di bidang ekonomi dengan membangun grand bazaar di Istanbul pada tahun 1461 M.

Grand bazar menurut saya merupakan legacy (warisan) Muhammad Al Fatih paling berharga dan sangat monumental dalam membangun keadilan ekonomi.  Al Fatih menyadari Daulah Ustmaniyah (Ottoman Empire), tidak akan berdiri kukuh dan kuat jika tidak ditopang oleh ekonomi yang kuat dan mandiri dari rakyat Turki. Karena itu, Al Fatih membangun pasar.

Pasar adalah instrumen penting untuk membangun kekuatan ekonomi rakyat yang mandiri, mewujudkan pemerataan dan keadilan ekonomi, karena sebagai negara yang pernah dijajah oleh asing, ekonomi kaum pribumi Turki dilemahkan dan dihancurkan.

Oleh sebab itu, Al Fatih membangun Grand Bazaar di Istanbul sebagai ibukota Daulah Ustmaniyah, seluruh pedagang yang mengisinya adalah kaum pribumi Turki.

Bangun Peninggalan Warisan Keadilan Ekonomi di Jakarta

Turki sebelum Daulah Ustmamiyah berkuasa, mirip Indonesia yang dijajah selama 3,5  abad. Ekonomi kaum pribumi Indonesia dilemahkan dan dihancurkan agar tidak mempunyai kekuatan untuk melawan penjajah.

Para pendiri bangsa dan negara kita bercita-cita mendirikan Indonesia, tujuannya adalah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi kaum pribumi Indonesia yang  selama 3,5 abad menderita terutama dalam bidang ekonomi. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagaimana sering dikemukakan bahwa tingkat kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi di Jakarta sangat tinggi.

Maka kebijakan pemerataan ekonomi untuk mengurangi kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi harus segera dilakukan.
Muhammad Al Fatih memulai restorasi ekonomi Turki untuk mewujudkan keadilan ekonomi di kalangan pribumi Turki, dengan membangun pasar di Istanbul, ibukota  Daulah Ustmaniyah.

DKI Jakarta di bawah Gubernur Anies Baswedan mempunyai visi dan misi untuk mengurangi kesejanjangan dan ketidakadilan ekonomi.  Oleh karena itu, saya mengusulkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun pasar sebagai grand bazaar kelas dunia di Jakarta.  Saya yakin akan menjadi legacy dan amal ibadah untuk membangun jembatan keadilan ekonomi bagi kaum pribumi Indonesia guna  mengurangi kesenjangan dan ketidakadilan sosial sesuai sila kedua dan sila kelima daripada Pancasila.

Pintu Gerbang Grand Bazaar di Istanbul Turki yang ramai dikunjungi turis manca negara

Suasana grand bazaar pukul 08.00 pagi yang mulai didatangi turis

Diluar grand bazaar, banyak toko yang menjual aneka macam barang

Di ujung grand bazaar Al Fatih bangun Masjid

Restoran dalam gedung grand bazaar

Turis manca negara yang mulai datang berbelanja

Berfoto dengan aparat polisi yang menjaga di depan pintu masuk grand bazaar Istanbul Turki

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search