Implikasi Sosiologis Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif Jadi Tersangka

 Kategori Opini, Pemilu, Sosial

Menurut pemberitaan media dan media sosial bahwa Ustaz Slamet Maarif, Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 yang juga juru bicara Front Pembela Islam (FPI) telah dijadikan tersangka oleh Polisi dalam kasus pelanggaran kampanye  Pemilu di luar jadwal.

Penetapan ustaz Slamet Maarif menjadi tersangka dalam kasus pelanggaran kempanye Pemilu diluar jadwal, pasti memberi implikasi sosiologis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setidaknya ada tiga implikasi sosiologis.  Pertama, masyarakat semakin yakin bahwa hukum tidak diberlakukan sama kepada semua. Pasalnya, banyak kasus hukum yang dilaporkan ke aparat penegak hukum,  yang diduga pelakunya dekat atau merupakan bagian dari kekuasaan, tidak ditindak lanjuti.

Kedua, masyarakat semakin percaya bahwa mereka yang beroposisi dengan kekuasaan, menjadi target dengan menggunakan hukum sebagai alat untuk menjerat mereka.

Ketiga, semakin menciptakan distrust (ketidakpercayaan) publik kepada penegak hukum dan pemerintah.

Dampak Sosiologis

Masyarakat yang merasa tidak ada keadilan dalam penegakan hukum, maka setidaknya ada tiga kemungkinan yang terjadi di masyarakat. Pertama, radikalisme tumbuh subur di masyarakat untuk melawan ketidakadilan dalam penegakan hukum.

Kedua, tumbuh perlawanan masyarakat kepada pemerintah karena aparat penegak hukum merupakan bagian dari pemerintah.

Ketiga, terjadi kekacauan di masyarakat karena publik tidak percaya kepada penegak hukum dan pemerintah.

Perlawanan Masyarakat

Kasus-kasus hukum yang diberlakukan kepada mereka yang dianggap melawan kekuasan mulai dari Habib Rieziq Shihab, Alfian Tandjung, Ahmad Dhani, Jonru Ginting, Buni Yani, Slamet Maarif dan lain-lain serta ketidakadilan ekonomi yang merajalela, akan menjadi pemicu dan pemacu lahirnya perlawanan masyarakat terhadap rezim yang sedang berkuasa.

Perlawanan masyarakat terhadap ketidakadikan hukum dan ketidakadilan ekonomi itu sedang tumbuh dan berkembang di masyarakat.  Indikatornya,  dapat dilihat besarnya partisipasi masyarakat untuk menghadiri reuni 212 di Monas, dan tumbuhnya gerakan di masyarakat bawah dan mqsyarakat menengah untuk melawan rezim dengan mendukung Prabowo-Sandi dalam Pemilu Presiden 17 April 2019.

Ending dari perlawanan masyarakat adalah memenangkan Prabowo-Sandi dalam Pemilu Presiden. Jika rezim melakukan kecurangan dalam Pemilu untuk mempertahankan kekuasaan, maka saya menduga akan terjadi people power pasca Pemilu.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search