Connect with us

twitter GIEsummit

Dunia Usaha

Prabowo: Ampun Utang RI Membludak Jumlahnya

Ada upaya sistimatik untuk menyesatkan masyarakat bahwa berutang dalam jumlah besar tidak masalah. Informasi pertama, saya peroleh ketika bertemu dengan banyak anggota DPRD dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti Bimbingan Teknis di Jakarta yang dilaksanakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Ibnu Chaldun.

Ada upaya sistimatik untuk menyesatkan masyarakat bahwa berutang dalam jumlah besar tidak masalah.

Informasi pertama, saya peroleh ketika bertemu dengan banyak anggota DPRD dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti Bimbingan Teknis di Jakarta yang dilaksanakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Ibnu Chaldun.

Para  ketua DPRD Kabupaten, Kota dan Provinsi mengatakan bahwa berutang dalam jumlah besar seperti sekarang tidak masalah karena semua negara di dunia juga berutang.

Informasi kedua, penjual sayur di pasar Cipete Blok A Kebayoran Baru, yang memasang stiker 01 digerobak dagangannya yang saya temui dan ajak dialog pada 10 Februari 2019. Dia mengatakan berutang dalam jumlah yang besar tidak masalah karena semua negara di dunia berutang.

Dari dua sumber tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa informasi yang menyesatkan kepada masyarakat telah dilakukan untuk membenarkan kebijakan berutang dalam jumlah besar. Pada hal menurut saya berutang secara ugal-ugalan sangat berbahaya.

Bahaya Berutang

Saya memiliki pengalaman yang amat pahit ketika terjerat utang.

Di akhir Orde Baru, saya diajak bergabung disebuah partai besar. Ditempat itu, saya berkenalan dengan  seseorang, yang kemudian  mengajak saya membangun bisnis.

Kami menggarap pembangunan perumahan di Sentul. Untuk membiayai pembangunan tersebut, kami meminjam uang di bank Rp 100 juta dengan personal guarantee dua tokoh pengusaha.

Akan tetapi proyek itu gagal dan saya harus berutang di bank yang terus-menerus bertambah jumlahnya karena bunga-berbunga.

Utang Indonesia

Indonesia telah memiliki utang luar negeri pada akhir 2018 sebesar
Rp 5.275 Triliun. Saya tidak tahu, apakah utang tersebut sudah termasuk utang dari dana haji dan BPJS Ketenagakerjaan dan utang dalam negeri lainnya.

Menurut saya berutang dalam jumlah  memberi dampak negatif.  Pertama, hasil kekayaan bukan untuk sebesar-besar bagi kesejahteraan rakyat, tapi untuk membayar utang dan bunga.

Kedua, kemerdekaan bangsa dan negara tergadai kepada negara yang memberi utang kepada Indonesia.

Ketiga, Indonesia tersandera politik luar negerinya karena tidak berani mengeritik negara yang memberi utang.

Pengalaman saya saat terjerat utang walaupun jumlahnya tidak besar, telah memberi pelajaran, kalau bisa jangan berutang. Tapi Indonesia sudah telanjur memiliki utang dalam jumlah yang luar biasa besar.

Pertanyaan, apa yang harus dilakukan untuk menyetop utang. Menurut saya harus dilakukan paling empat hal.  Pertama, mengganti rezim yang doyan berutang agar utang bisa  di stop.

Kedua, melakukan renegosiasi utang untuk mendapatkan potongan utang pokok dan bunga dalam jumlah besar.

Ketiga, menghentikan beberapa proyek raksasa yang pembiayaannya dari utang.

Keempat, melakukan moratorium pembayaran utang dan bunga.  Hasil moratorium pembayaran utang dan bunga dialihkan untuk membangun industri yang bisa membuka lapangan kerja.

Baca Juga

Opini

Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444H yang sering disebut Tahun Baru Hijriyah, saya mengajak para pemimpin Indonesia di eksekutif, legislatif dan yudikatif serta...

Covid-19

Para pemimpin di berbagai negara lengser dari kekuasaan disebabkan banyak faktor, tetapi faktor utama adalah ekonomi akibat pandemi Covid-19 dan dampak negatif dari Konflik...

Politik

Salah satu kegiatan yang membuat perayaan Milad PKS ke-20 semarak dan meriah karena sangat banyak usaha mikro, kecil dan menengah yang berpartisipasi membuka stand.

Politik

Pengakuan Mahathir Mohamad bahwa pembangunan negaranya tertinggal dibandingkan Indonesia dan Vietnam disampaikan melalui cuitan akun Twitter resminya @chedetofficial.

Dunia Usaha

Sejatinya kenaikan harga kebutuhan rumah tangga sudah mengalami kenaikan sejak akhir Desember 2021. Sekarang ini (2022) semakin meningkat harganya dan menjadi tontonan yang kurang...

Politik

Kondisi yang dialami Ukraina merupakan pelajaran yang amat penting dan berharga bagi Indonesia.

Opini

Indikator yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menganalisis bahwa Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja antara lain, masalah politik.

Covid-19

Indonesia Hadapi Krisis besar yaitu krisis pandemi covid, krisis kemiskinan, krisis utang yang sudah luar biasa besar, krisis korupsi dan krisis demokrasi.