Fenomena Sosiologis Indikasi Kemenangan Prabowo-Sandi Pilpres 2019

 In Opini, Pemilu, Politik

Sejak  pemilihan Presiden dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004,  saya sudah terlibat dalam pemantauan fenomena sosiologis pada saat kampanye.

Pertama, pada 2004 saya melakukan pemantauan pelaksanaan kampanye Pemilihan Presiden, bertemu dan berdialog dengan banyak masyarakat bawah serta berbagai kelompok masyarakat di Solo, Bogor dan Jakarta. Kegiatan semacam itu, saya juga melakukannya di Jakarta  pada saat kampanye pemilihan Gubernur DKI. Paling terakhir dalam kampanye pemilihan Gubernur DKI  2017 saya melakukan pemantauan dan dialog dengan masyarakat DKI Jakarta. Hasil pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 seperti yang saya prediksi,  Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno memenangi  pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Kedua,  melihat kecenderungan masyarakat pada saat kampanye pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI.

Ketiga, menulis fenomena sosiologis dari hasil dialog dengan masyarakat bawah, berbagai kelompok dan hasil pengamatan dalam kampanye Pemilu Presiden.

Pilpres Langsung

Pada Pemilu Presiden 2004 yang dilaksanakan secara langsung, saya mendapat banyak informasi tentang keinginan masyarakat untuk berubah. Pada saat itu, saya sedang melakukan penelitian di Solo untuk menghimpun data dalam rangka penyusunan disertasi.  Masa itu  yang menjadi calon Presiden petahana (incumbent) adalah Megawati Sukarno Puteri yang berpasangan dengan KH. Hasyim Muzadi.

Semangat ingin mengganti Presiden saat itu menggema di mana-mana. Kalau SBY dan JK berkampanye membludak masyarakat yang menghadiri kampanye. Hasil Pemilu Presiden 2004, yang memenangkan pertarungan adalah Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla.

Pada Pemilu Presiden 2009, mayoritas masyarakat tidak ingin ada perubahan kepemimpinan nasional. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden petahana yang merasa masih mendapat dukungan yang besar dari masyarakat, akhirnya memilih Boediono sebagai calon Wakil Presiden RI. Pada hal  Boediono tidak mempunyai basis dukungan massa dan politik.

Hasil  Pemilu Presiden 2009, Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Budiono memenangkan Pemilu Presiden sesuai fenomena sosiologis pada saat kampanye Pemilu Presiden. Pemilu Presiden 2014 muncul calon Presiden RI yang saat itu sangat fenomenal yaitu Joko Widodo.

Joko Widodo, Walikota Solo memulai debutnya untuk  menjadi RI 1 dengan menjadi calon Gubernur DKI Jakarta dalam Pemilihan Gubernur DKI. Fenomena Joko Widodo dalam kampanye pemilihan Gubernur saat itu luar biasa. Didukung PDIP dan Partai Gerindra serta Prabowo Subianto sebagai penyandang dana dan dukungan media.

Hasil pemilihan Gubernur DKI 2012 dimenangi pasangan calon Gubernur DKI Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.

Fenomena Sosiologis Pilpres 2019

Pemilu Presiden 2019 dilaksanakan serentak dengan Pemilu Parlemen (Legislatif) untuk memilih anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, dan DPRD Kota.

Pada Pemilu Presiden 2019, pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden terdiri dua pasang calon yaitu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Kampanye Pemilu Presiden 2019 telah dilaksanakan mulai 23 September 2018, saya menyaksikan fenomena sosiologis di dalam kampanye pemilihan Presiden RI 2018-2019 yang dimulai dengan isu ganti Presiden.

Pertama, reuni 212 diikuti puluhan juta orang dan dihadiri Prabowo Subianto, calon Presiden RI yang didukung partai Gerindra, PKS, PAN  kemudian partai Demokrat serta Partai Berkarya. Reuni 212 luar biasa ramainyam Massa memenuhi Monas, jalan MH. Thamrin, Jalan Merdeka Selatan, Jalan Merdeka Barat dan semua jalan sekitar Monas. Semuanya membawa semangat perubahan mengganti Presiden RI.

Kedua, kampanye Prabowo Subianto, calon Presiden RI nomor 02 di berbagai daerah seluruh Indonesia, selalu membludak-dihadiri massa yang amat besar jumlahnya, seperti yang pernah dialami Joko Widodo pada kampanye pemilihan Presiden 2014.

Ketiga, kampanye Sandiaga Salahuddin Uno, calon Wakil Presiden RI, di setiap daerah seluruh Indonesia, selalu membludak dihadiri massa dalam jumlah yang amat besar.  Sebaliknya saat kampanye Ma’ruf Amin, calon Wakil Presiden RI tidak dihadiri banyak massa.

Keempat, hasil pertemuan saya dengan rombongan wisatawan Indonesia di Turki 27 Januari-5 Februari 2019 yang berasal dari Medan (Sumatera Utara),  Semarang (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur),  Bekasi (Jawa Barat) dan rombongan kami dari Jakarta.

Selain itu, hasil blusukan dan dialog  saya dengan masyarakat bawah pada minggu kedua dan ketiga Februari 2019 di Petojo Utara dan Kramat Gundul, Pintu Kecil Pasar Baru (Jakarta Pusat), Mangga Besar (Jakarta Barat), Pasar Cipete, dan Cipete Selatan (Jakarta), semua ingin ganti Presiden pada Pemilu Presiden 2019.

Kelima, munajat 212 di Monas Jakarta pada 21 Februari 2019 yang dihadiri puluhan ribu orang. Semua yang hadir bermunajat kepada Allah untuk keselamatan agama, bangsa dan negara serta ganti Presiden.

Berdasarkan fenomena sosiologis yang saya gambarkan di atas, sebagai sosiolog saya merasa sangat yakin,  Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno akan memenangi pemilihan Presiden 17 April 2019 kecuali kalau ada kecurangan.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search