China Ancaman Nyata Indonesia

 Kategori Dunia Usaha, Opini

Pada 20 Februari 2019, Fordis ICS Kahmi melaksanakan diskusi terbatas di Kahmi Center Jakarta.

Turut berbicara antara lain Haryono Kartohadiprodjo, Ahmad Ganis, Taufik Bahaudin dan lain-lain.

Salah satu masalah yang mendapat sorotan tajam dalam diskusi ialah hubungan dengan China (RRC). Setidaknya ada lima persoalan besar dalam hubungan dengan China.

Pertama, investasi China di Indonesia. Semua dibawa dari RRC (Republik Rakyat China) termasuk tenaga kerja kasar.  Indonesia sekarang ini sudah mengalami nasib seperti yang dialami Angola, Zimbabwe dan Sri Langka. Indonesia hanya dijadikan tempat investasi China.

Kedua, China memberi utang kepada Indonesia dalam jumlah yang besar, jika tidak hati-hati bisa membahayakan Indonesia di masa depan. Kasus Sri Langka merupakan pengalaman pahit yang harus jadi pelajaran  bagi bangsa Indonesia.

Pada tahun 2010, RRC memberi bantuan kepada Sri Langka sebesar US$ 1,5 milyar untuk membiayai proyek pelabuhan  Hambantota  di pantai Selatan Sri Langka.  Akan tetapi  gagal membayar utang, sebagai imbalannya tahun 2017 China mengambil alih pengelolaan pelabuhan dan bandara milik Sri Langka selama 99 tahun. Indonesia seperti bank-bank milik pemerintah yang banyak berutang ke China bisa mengalami nasib seperti Sri Langka.

Ketiga, membawa ideologi komunis. RRC menganut sistem ekonomi kapitalis, tetapi sistem politik dan sosialnya mengamalkan sistem komunis. Warga RRC yang datang ke Indonesia otomatis  membawa paham komunis.  Indonesia dengan Pancasila dan berdasarkan pengalaman sejarah, telah melarang ideologi komunis di Indonesia.

Keempat, Indonesia dibanjiri tenaga kerja dari China, seperti yang dialami Angola, Zimbabwe dan Sri Langka dan negara-negara lain.  Tiap hari tenaga kerja dari China banjiri Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang sudah memperoleh e-KTP dan tercatat sebagai pemilih Pemilu tahun 2019. Selain itu, banyak tenaga kerja China yang sudah  kawin dengan warga setempat seperti kasus di Motaha, Konawe, Sulawesi Tenggara.

Kelima, terjadi perang candu karena  warga China banyak yang terlibat memperjualbelikan Narkoba di Indonesia. Perang candu untuk melemahkan bangsa Indonesia melalui penyebaran Narkoba di masyarakat.

Apa yang Harus Dilakukan

Menurut saya pemerintah dan bangsa Indonesia harus melakukan setidaknya lima hal untuk menyelamatkan Indonesia.

Pertama, pemerintah baru Indonesia hasil Pemilu 2019 harus menghentikan proyek kerjasama dengan China yang bisa menambah ssmakin besarnya utang pemerintah dan swasta kepada China seperti yang dilakukan Perdana Menteri Malaysia Tun Mahathir Mohamad.

Kedua, TNI, Polisi dan pemerintah pusat dan daerah harus melaksanakan amanat Pembukaan UUD 45 secara murni dan konsekuen yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Sebagai sosiolog saya merasa amat khawatir mengalirnya orang-orang China ke Indonesia karena mereka adalah tentara, sebab seluruh warga China wajib militer.

Ketiga, seluruh bangsa Indonesia harus sadar dan waspada bahwa RRC yang penduduknya amat besar memerlukan tanah air untuk masa depan warganya. Indonesia yang kaya raya, mudah ditaklukkan dengan harta, tahta dan wanita. Jika sikap permisif terhadap China terus seperti sekarang ini, maka Indonesia mereka akan kuasai.

Keempat, pemerintah dan seluruh bangsa Indonesia harus sadar bahwa yang bisa menolong Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri.  Jangan pernah bermimpi bangsa lain mau menolong dan memajukan Indonesia.

Kelima, TNI, Polisi, pemerintah pusat dan daerah harus sadar bahaya perang candu yang dimainkan untuk melemahkan dan menaklukkan bangsa Indonesia guna menguasai Indonesia.

Semoga seluruh bangsa Indonesia sadar bahaya yang dihadapi. Cara menghentikan bahaya hanya satu memilih pemimpin baru dalam Pemilu 17 April 2019.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search