Indonesia Harus Mandiri dan Menjadi Tuan Dinegeri Sendiri

 Kategori Dunia Usaha, Opini, Sosial

Salah satu persoalan besar yang dihadapi, Indonesia yang memiliki pasar yang besar karena penduduknya besar, amat disayangkan tidak dikuasai oleh bangsa Indonesia, tetapi dikuasai bangsa asing terutama China dan Jepang.

Mereka yang berpikir pragmatis, sempit, bussines as usual, sebagai pedagang yang melihat untuk keuntungan semata, tidak memiliki nasionalisme, persoalan tersebut tidak perlu dipermasalahkan,  apalagi produk asing lebih murah sehingga menguntungkan konsumen.

Akan tetapi, membiarkan dan bahkan memberi karpet merah kepada asing untuk menguasai pasar dalam negeri Indonesia amat merugikan.

Setidaknya ada lima alasan untuk memastikan penguasaan pasar dalam negeri Indonesia merugikan.

Pertama,  pemerintah Indonesia tidak bisa memberi pekerjaan kepada rakyatnya sehingga tetap miskin dan terkebelakang, karena para pedagang tidak memerlukan banyak tenaga kerja sebab hanya menjual barang dagangan produk asing.

Kedua, industri dalam negeri mati karena rakyat Indonesia sebagai konsumen sudah cukup nyaman membeli produk asing. Dampak negatifnya, selain tidak bisa membuka lapangan kerja yang luas,  ekonomi Indonesia dikuasai asing.

Ketiga, ketergantungan kepada asing dalam segala bidang dan teknologi sangat tinggi.  Ini tidak baik bagi Indonesia sebagai negara yang penduduknya besar yang seharusnya bisa mandiri dan berdikari.

Keempat, yang menikmati ekonomi Indonesia adalah pihak asing karena pasar Indonesia dikuasai mereka. Indonesia  tidak memperoleh nilai tambah karena hanya menjadi konsumen.

Kelima, tidak bisa menjadi negara maju dan besar karena ekonomi dan teknologi lemah sebab hanya menjadi bangsa konsumen.

Realitas Memilukan

Drs. Mohamad Hatta, Wakil Presiden RI pertama telah mengingatkan supaya Indonesia menjadi bangsa produsen.

Peringatan itu sangat penting dikemukakan kembali setelah hampir 74 tahun Indonesia merdeka, yang nyaris Indonesia menjadi konsumen.  Industri dalam negeri mendekati sekarat akibat serbuan hasil industri asing.

Sebagai contoh pabrik Krakatau Steell seharusnya semakin maju lantaran Indonesia di era Presiden Jokowi memberi fokus pembangunan infrastruktur. Faktanya  kita patut miris sebab yang terjadi sebaliknya semakin sulit karena membiarkan masuknya produk baja dari India secara besar-besaran.

Begitu juga, pabrik Semen, seharusnya semakin maju karena dampak dari pembangunan infrastruktur.  Realitasnya tidak karena serbuan impor semen dari luar negeri.

Begitu pula industri tekstil sudah banyak yang tutup karena membanjirnya produk tekstil dari China.

Probowo Beri Solusi

Prabowo Subianto, calon Presiden RI telah memberi solusi dengan konsep kemandirian, berdiri diatas kaki sendiri (berdikari).

Mandiri dan berdikari telah digaungkan Ir. Soekarno, Presiden RI pertama.  Akan tetapi tidak dilaksanakan, sehingga mayoritas bangsa Indonesia semakin lama semakin sulit kehidupannya.

Indonesia saat ini tidak hanya sudah masuk jebakan utang yang sudah menggunung, tetapi pasar Indonesia dapat dikatakan sudah dikuasai asing.

Oleh karena itu, konsep Prabowo Subianto tentang mandiri dan berdikari merupakan solusi untuk keluar dari kesulitan yang tidak ada akhirnya.

Mandiri dan berdikari bukan berarti menutup diri tetapi dalam hubungan internasional duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

Prabowo dengan kemampuan berbahasa asing yang sangat baik dan kemampuan intelektualnya yang tinggi, saya yakin bisa membawa Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri.

Tidak boleh dengan alasan investasi semuanya dari investor termasuk buruh kasar seperti yang dialami sekarang ini. Rakyat Indonesia tidak memperoleh manfaat apa-apa investasi dari China kecuali polusi udara dan jalan rusak karena dijadikan tempat membuat pabrik atau industri.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search