Parlemen Hasil Pemilu 2019: Umat Islam Harus Terwakili Secara Proporsional

 In Pemilu, Politik

Parliamentary threshold (PT) atau ambang batas suara untuk Pemilu 2019 telah di tetapkan sebesar 4%. Artinya akan terjadi penyaringan yang luar biasa terhadap 16 Parpol yang ikut Pemilu 2019. Polarisasi 2 kekuatan yang menjadi pendukung Jokowi dan Prabowo akan semakin kuat. Banyak masyarakat yang akan memilih Calon Legislatif (Caleg) dari mereka yang mendukung Jokowi atau Prabowo.

Dengan terpecahnya pilihan masyarakat ini, maka suara akan makin terbagi. Untuk kubu 02 yang jumlah parpol pendukungnya lebih sedikit maka akan lebih di untungkan.

Jika kita merujuk pada hasil survei Litbang Kompas yang hanya menempatkan 5 partai politik yang lolos parliament threshold, rasanya harus ada strategi khusus atau mungkin kolaborasi sehingga di parlemen nanti bisa tercipta balancing.

Di media sosial sudah muncul hastag NU vs 01 atau PKI vs 02. Sebuah cara yang di buat untuk menanamkan issue negatif atau mungkin fitnah. Kenapa fitnah, karena banyak pendukung 01 yang merupakan pengurus atau warga aktif NU.

Bisa menjadi negatif, karena di angkat sisi fakta bahwa pengusung faham komunis atau sosialis ada di pendukung 01, tokoh syiah seperti Jalaluddin Rahmat menjadi Caleg PDIP dan lain-lain yang merupakan hal negatif di mata masyarakat. Hal ini menjadi logis terjadi di tengah sistem saat ini. Di mana polarisasi sangat tinggi dan kuat.

Pemilih Caleg dari Partai dengan basis Umat Islam seperti PKS, PPP, PKB, PBB akan terpecah. Penulis meyakini pilihan Pilpres mempengaruhi Pileg.  Pendukung Prabowo akan mempunyai kecenderungan memilih Caleg dari partai pendukung Prabowo, demikian juga sebaliknya. Hal ini akan sangat mempengaruhi peta kekuatan di Parlemen.

Oleh karena itu, untuk melakukan perubahan dari negeri yang semakin kisruh, yang semakin kuat aroma perpecahan antar elemen anak bangsa jangan salah memilih Caleg. Kenali betul dan yakinkan untuk tidak salah memilih. Pendukung Prabowo, pendukung perubahan yang ingin melihat Indonesia menang, berkeadilan, berdaulat dan sejahtera harus fokus pada Caleg dari partai pendukung.

Jika ingin tercipta balancing (perimbangan) diparlemen, maka harus hadir 2 kekuatan di Parlemen. Namun, beresiko timpang jika tidak mewakili secara cukup. Umat Islam sebagai mayoritas pemilih harus terwakili sangat cukup. Suara Umat Islam bisa diarahkan secara baik ke partai pendukung Prabowo disetiap daerah pemilihan, sehingga meyakinkan bahwa suara di parlemen cukup kuat untuk melakukan perubahan.

Sangat Menentukan

Pemilu 2019 akan sangat menentukan seperti apa Indonesia 5 tahun ke depan. Rasa, warna karakter, cara berfikir, kepribadian dari Presiden mendatang akan memberi output Indonesia ke depan.

Fungsi DPR dalam membuat undang-undang (legislasi), membuat anggaran dan melakukan pengawasan akan memberi kejelasan terhadap apa yang menjadi dasar bersikap.

MPR yang terdiri dari anggota Dewan Perwakikan Rakyat (DPR) dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)  bisa melakukan amandemen terhadap UUD 1945, membuat dan mengganti produk hukum yang di rasakan kurang pas, kurang tepat dan kurang adil. Tarik menarik kepentingan pasti akan terjadi.

Kita rindu berdemokrasi yang sehat, yang ber Pancasila, yang melibatkan Allah SWT dalam pengambilan keputusan, yang menciptakan kebaikan dan dewasa. Demokrasi yang berakhlaq karimah.

Hal tersebut  bisa terwujud jika wakil rakyat yang terpilih dalam Pemilu 2019 dan duduk di DPR RI merepresentasikan umat Islam yang mayoritas di Indonesia.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search