Fenomena Gelombang Perubahan Pemilu 2019: Insya Allah Hadir Pemimpin Baru Indonesia

 Kategori Pemilu

Fenomena sosiologis begitu nyata ketika terlihat tanda-tanda keinginan rakyat Indonesia melakukan perubahan sejak kampanye pemilihan umum Presiden dan kampanye pemilihan anggota parlemen (legislatif) yang dimulai 23 September 2018 dan kampanye terbuka 24 Maret 2019.

Setidaknya ada tiga indikator fenomena sosiologis tentang keinginan rakyat untuk melakukan perubahan melalui Pemilu.

Pertama, tumbuh protes sosial di berbagai daerah dan di media sosial sehubungan  membanjirnya TKA dari China ke Indonesia, yang telah dianggap sebagai ancaman serius bagi kedaulatan bangsa dan negara. Menghentikan banjir TKA dari China ke Indonesua hanya satu cara menurut masyarakat ialah  mengganti Presiden.

Kedua, tingginya partisipasi masyarakat Indonesia dalam menghadiri kampanye yang diadakan Prabowo dan Sandi di semua daerah di seluruh Indonesia. Hal tersebut menunjukkan besarnya keinginan masyarakat supaya Prabowo menjadi Presiden RI dan  Sandi menjadi Wapres RI. Buktinya, Prabowo harus naik mobil terbuka atau ditanduk untuk sampai dioanggung tempat kampanye,  saking banyaknya masyarakat yang menghadiri kampanye yang saya selalu sebut “lautan manusia”

Ketiga, membludaknya peserta reuni aksi 212 yang ditaksir mencapai 13 juta orang. Semua yang hadir adalah pendukung Prabowo-Sandi yang menginginkan ganti Presiden 2019.

 

Menahan Gelombang Perubahan

Berbagai cara dilakukan petahana dan para pendukungnya untuk menahan gelombang perubahan.

Pertama, melemahkan pemimpin perubahan Habib Rizieq Shihab dengan fitnah sehingga harus mengasingkan diri dan keluarganya di Makkah Al-Mukarrah, Arab Saudi.

Kedua, menggelontarkan dana puluhan triliun rupiah menjelang Pemilu Presiden 17 April 2019 untuk membiayai program pengentasan kemiskinan dan keluarga harapan. Ini  bentuk lain dari bantuan sosial yang sangat sulit dipisahkan dengan politik uang yang biasa dilakukan para kepala daerah menjelang pemilihan kepala daerah yang dikemas bantuan sosial.

Ketiga, para pendukung petahana banyak melempar isu untuk memecah belah masyarakat seperti ada gerakan mau mengganti Pancasila dengan khilafah, isu radikalisme, terorisme, dan sebagainya. Tujuannya untuk menakut-nakuti masyarakat.  Selain itu, isu mendiskreditkan pribadi Prabowo misalnya menyebut tidak berpengalaman dalam memimpin, pada hal pernah menjadi Pangkostrad TNI,  ketua umum Gerindra, dan memimpin banyak organisasi sosial, serta berbagai isu negatif dengan harapan rakyat terpengaruh tidak memilih Prabowo dan Sandi dalam Pemilu Presiden  17 April 2019.

 

Tidak Bisa Dibendung

Lautan manusia yang membanjiri tempat kampanye Prabowo dan Sandi diberbagai daerah seluruh Indonesia merupakan fenomena sosialogis yang tidak dialami petahana saat ini.

Fenomena sosiologis yang dialami Prabowo dan Sandi sekarang, tidak bisa dibendung oleh petahana karena masyarakat telah sadar dan sudah memutuskan untuk mengubah pilihannya yang diharapkan memberi harapan baru dan masa depan yang lebih baik dan akan berujung dibilik suara tanggal 17 April 2019 yang menghadirkan perubahan.

Fenomena ini sudah nampak sejak Prabowo dan Sandi mulai kampanye tertutup 23 September 2018 yang selalu dihadiri lautan manusia dan puncaknya kampanye terbuka yang dimulai 24 Maret 2019 juga selalu dibanjiri lautan manusia. Makna dibalik itu, rakyat ingin ganti Presiden dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno menjadi Wakil Presiden RI.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Ideologi dan Perjuangan Prabowo Indonesia First di Debat Capres ke-4