9,9% Masyarakat DKI Akan Pilih PDI Perjuangan Pemilu 2019

 Kategori Pemilu

Hasil Penelitian dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Ibnu Chaldun (LPPM UIC) menemukan bahwa masyarakat DKI Jakarta hanya 9,9% yang sangat setuju dan 12,2% setuju pilih PDI Perjuangan (PDIP) pada Pemilu 17 April 2019.

Harrys Pratama Teguh, koordinator penelitian LPPM UIC tidak menjelaskan alasan masyarakat DKI Jakarta sangat tidak setuju (STS) sebesar 32,1% tidak memilih PDI Perjuangan.

Analisis saya sebagai sosiolog, setidaknya lima alasan masyarakat DKI Jakarta sangat tidak suka memilih PDI Perjuangan.

Pertama, alasan ideologis. PDIP sebagai partai pemenang Pemilu di DKI, publik menilai gagal mewujudkan Pancasila terutama sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan sila kelima dari Pancasila “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Kedua, alasan teologis. Masyarakat DKI dibawah pimpinan imam besar Habib Rizieq Shihab belum lupa bahwa PDI Perjuangan merupakan pendukung utama penista agama. Peristiwa itu telah menghadirkan protes sosial yang masif di DKI yang dikenal dengan aksi bela Islam 212 tahun 2016 dan reuni aksi bela Islam 212 tahun 2018, yang sekarang ini amat mempengaruhi masyarakat DKI Jakarta.

Ketiga, alasan ekonomi. Kehidupan rakyat jelata (wong cilik) tidak semakin membaik. Pada hal PDI Perjuangan telah diberi mandat oleh masyarakat DKI menjadi pemenang Pemilu 2014.

Keempat, alasan politik. Merosotnya luar biasa dukungan masyarakat DKI terhadap pasangan Jokowi-Ma’ruf (hanya 20%) dalam Pemilu 2019, otomatis memberi dampak negatif kepada PDI Perjuangan sebagai partai pengusung utama pasangan 01.

Kelima, gelombang perubahan yang amat dahsyat dalam kampanye Pemilu 2018-2019 yang terjadi di seluruh daerah di Indonesia yang ingin ganti Presiden, telah menciptakan citra di masyarakat yang tidak menguntungkan bagi PDI Perjuangan, sehingga masyarakat DKI dengan tingkat pendidikan SMA sederajat 40% dan berpendidikan sarjana 19%,  telah menjadikan PDI Perjuangan sebagai partai politik tertinggi yang sangat tidak disukai untuk dipilih masyarakat DKI dalam Pemilu 17 April 2019.

Download Laporan Penelitian
⬇️ https://drive.google.com/file/d/120vk76Bg0W-rARTC4Gpw7NfOBhKjMhph/view

Musni Umar dan peneliti LPPM Harrys Pratama Teguh, S.HI.,M.H  dipandu Sitti Aminah Amahoru (Wakil Dekan FIKOM UIC) ketika mempresentasikan hasil penelitian “Demokrasi di DKI Jakarta Keterpilihan Partai Politik dan Capres Pemilu 2019” di Hotel Alia, Cikini Jakarta Pusat

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Jumhur Hidayat: Gagasan Pelaksanaan Trisakti Bung Karno ada di Prabowo-SandiTidak Ada Sahabat Yang Sejati Dr. Habib Rizieq Shihab Versus Prof. Yusril Ihza Mahendra