Mahathir di Malaysia, Prabowo di Indonesia Untuk Menyelamatkan Malaysia dan Indonesia

 In Pemilu, Opini

Mahathir di Malaysia, Prabowo di Indonesia: Fenomena sosiologis yang tercermin dari lautan manusia yang selalu menghadiri kampanye Prabowo dan Sandi di setiap daerah seluruh Indonesia merupakan gambaran dari spirit (semangat) dan energi mayoritas rakyat Indonesia yang tidak terbendung untuk menjadikan  Prabowo dan Sandi sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI pada Pemilu 17 April 2019, seperti yang dialami Malaysia pada Pemilu (PRU) ke-14 yang dimenangkan oposisi (pembangkang) dan Tun Mahathir Mohamad menjadi Perdana Menteri Malaysia dan Dr. Wan Azizah Wan Ismail menjadi Wakil PM Malaysia.

Semangat dan energi mayoritas rakyat Indonesia berhadapan dengan kekuatan status quo yang ingin mempertahankan kekuasaan, seperti halnya di Malaysia, oposisi berhadapan dengan penguasa politik dan ekonomi yang didukung penguasaan media, lembaga survei  dan uang yang melimpah.

 

Pendorong Perubahan

Setidaknya ada lima faktor yang menjadi  pendorong tumbuhnya spirit  dan energi mayoritas rakyat Indonesia untuk mengganti Presiden melalui Pemilu.

Pertama, faktor ekonomi. Banyak tokoh masyarakat dan anggota DPRD dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang menyampaikan kepada saya bahwa rakyat bawah mengalami kesulitan ekonomi yang luar biasa. Informasi terakhir (5/4/2019) saya peroleh dari Ketua DPRD Kota Banjar Kalimantan Selatan bahwa rakyat bawah mengalami kesulitan ekonomi sehingga elektabilitas petahana tergerus tinggal 35%.

Di Jakarta, Utji Sanusi, Ketua RW 01 Kelurahan Johar Baru Jakarta Pusat menyampaikan keluhan banyak rakyatnya yang menganggur. Ada satu keluarga semua menganggur sehingga mengalami kesulitan ekonomi. Maka, mereka sepakat ganti Presiden. Agus, guru Agama yang berdomisili di Kwitang Jakarta Pusat mengemukakan hal yang sama, rakyat bawah sulit kehidupan ekonomi mereka, sehingga bertekad ganti Presiden.

Dari Sulawesi Tenggara, Wijaya, pengusaha yang tinggal di Desa  Tangketada, Kecamatan Watubangga  Kabupaten Kolaka memberitahu saya melalui telepon (4/4/2019) bahwa rakyat di desa sangat sulit kehidupan mereka. Dampaknya banyak kriminalitas di masyarakat. Maka mayoritas rakyat mau pilih Prabowo-Sandi, tetapi aparat keamanan memata-matai rakyat dan mempropagandakan petahana, karena mereka diberi target dari atasan kemenangan petahana harus 60 %.

Kedua, faktor Tenaga Kerja Asing (TKA) dari China.  Faktor TKA China dirasakan sebagai ancaman nyata bagi Indonesia dan Malaysia. Mereka merampas kesempatan kerja bagi bangsa Indonesia dan bangsa Malaysia dengan membanjirnya TKA China ke Indonesia dan Malaysia. Selain itu, China telah menjadi nekolim (neo kolonialisme neo imperialisme) seperti pernah dikemukakan Bung Karno dalam bidang ekonomi yang dianggap mengancam keselamatan dan keamanan Indonesia seperti halnya di Malaysia.

Ketiga, faktor keamanan nasional. Banyak yang merasa bahwa hubungan Indonesia dengan RRC membahayakan keamanan nasional. Menurut Dirjen Imigrasi Ronny Sompie, warga China yang masuk ke Indonesia tahun 2016 sebanyak 1.300.000 orang. Tahun 2017, 2018 dan 2019 sudah berapa yang masuk ke Indonesia secara resmi dan ilegal. Selain itu, penyebaran Narkoba merajalela sehingga ditengarai tengah terjadi perang candu untuk melemahkan dan menghancurkan bangsa Indonesia. Disamping itu, RRC menganut ideologi komunis, yang diduga menginspirasi maraknya kembali faham komunis di Indonesia. Belum lagi, TKA yang datang ke Indonesia patut diduga adalah tentara pembebasan karena negaranya mewajibkan warganya wajib militer. Terakhir, ada dugaan RRC tengah menjadikan Indonesia sebagai tempat bekerja sekitar 400 juta warga China yang menganggur di negaranya sebagaimana pernah dikemukakan Dr. Aviliani, pakar ekonomi.

Keempat, faktor penguasaan ekonomi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa mayoritas kaum pribumi terus-menerus termarjinalisasi dalam bidang ekonomi. Walaupun Indonesia sudah merdeka 73 tahun lamanya, nasib mayoritas kaum pribumi belum berubah. Para elit ekonomi menguasai partai politik kemudian berkolaborasi dengan penguasa politik. Mereka mendukung penguasa politik yang lemah yang bisa diatur dan dikendalikan. Tujuannya untuk melanggengkan penguasaan mereka bidang ekonomi.

Kelima, faktor korupsi (rasuah).  Korupsi (rasuah) telah memberi pengaruh kepada rakyat Indonesia dan Malaysia terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.  Indonesia bersyukur ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tetapi  tidak didukung political will yang kuat, sehingga yang dominan baru Operasi Tangkap Tangan (OTT).

 

Mahathir di Malaysia

Malaysia menghadapi ancaman seperti halnya Indonesia, bahkan Indonesia menurut saya lebih besar dan mengancam Indonesia.

Untuk menyelamatkan Malaysia dari kehancuran, rakyat Malaysia memilih partai-partai oposisi yang tergabung dalam Pakatan Harapan dalam Pemilu (PRU) ke-14 dan akhirnya Tun Mahathir Mohamad dipilih menjadi Perdana Menteri Malaysia. Setelah Tun Mahathir dilantik menjadi PM Malaysia kemudian membatalkan kontrak proyek dengan RRC yang dianggap merugikan Malaysia dan menciptakan utang yang luar biasa besar bagi Malaysia, juga PM Malaysia mengusir TKA China dari Malaysia.

Indonesia menurut saya menghadapi masalah yang jauh lebih besar dan membahayakan bagi Indonesia ketimbang Malaysia yang penduduknya jauh lebih kecil dari Indonesia.

 

Solusi Menyelamatkan Indonesia

Untuk menyelamatkan Indonesia dan keluar dari masalah besar yang dihadapi, tidak ada jalan lain kecuali pada Pemilu 17 April 2019 rakyat Indonesia memilih Prabowo Subianto menjadi Presiden RI dan Sandiaga Salahuddin Uno menjadi Wakil Presiden RI sebagaimana rakyat Malaysia telah memilih Tun Mahathir  Mohamad menjadi PM Malaysia dan Dr. Wan Azizah Wan Ismail menjadi Wakil Perdana Menteri Malaysia.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Partisipasi Mewujudkan Pemilu Damai Tanpa CurangJutaan Massa Hadiri Kampanye Akbar Prabowo-Sandi Untuk Mewujudkan Perubahan-Ganti Presiden