Prabowo-Sandi Menang Pilpres: People Power Tidak Terjadi

 Kategori Pemilu

Saya memulai tulisan ini dengan mengucapkan doa kepada Allah seperti doa Nabi Ibrahim “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman …”

Mengapa saya memulai tulisan di hari Jum’at (19/4) ini dengan doa karena sebagai sosiolog saya sangat prihatin melihat kondisi masyarakat yang galau (kacau tidak keruan) pikiran mereka, setelah menyaksikan tayangan seluruh TV swasta yang menayangkan Quick  Count hasil Pemilu 2019 dari berbagai lembaga survei yang memenangkan petahana.

Mayoritas rakyat yang galau yang sangat ingin perubahan-ganti Presiden, mereka berhadapan dengan penguasa yang didukung pemodal, elit sosial dan ekonomi serta diduga aparat dan kekuatan asing yang mendapat keuntungan besar dari Indonesia.


Akar Masalah Kekuasaan

Indonesia menghadapi masalah yang sangat banyak dan kompleks. Semua permasalahan bersumber dari kekuasaan yang gagal menghadirkan keadilan ekonomi, hukum dan sebagainya.

Kegagalan penguasa menghadirkan keadilan sudah dimulai sejak Orde Baru sampai saat ini.

Dalam Pemilu 2019 ini, bangsa Indonesia terpecah kepada tiga kelompok.

Pertama, pendukung status quo. Mereka yang sudah menikmati kemerdekaan yang saya sebut “penikmat kemerdekaan”. Mereka sudah mapan secara ekonomi dan tidak mau kehilangan kenikmatan melalui perubahan kekuasaan.

Mereka yang tidak mau kalau terjadi perubahan kekuasaan, terdiri dari penguasa politik dan ekonomi di pusat dan daerah, pimpinan partai politik yang mendukung kekuasaan, pimpinan organisasi massa yang sudah kebagian kue ekonomi, kelompok agama tertentu, purnawirawan, pengusaha, akademisi, aparat, aktivis yang sudah kebagian kue ekonomi atau mengharap kebagian kue kekuasaan atau ekonomi, serta rakyat jelata yang peralat yang berpendidikan rendah, miskin dan buta politik.

Kedua, pendukung perubahan. Mereka yang sadar terhadap politik bahwa untuk mengubah ketidak-adilan yang merajalela harus melalui kekuasaan.  Ketidak-adilan hadir karena akibat kekuasaan. Hanya kekuasaan yang bisa menghadirkan keadilan. Oleh karena itu, kekuasaan harus direbut melalui Pemilu. Mereka ini terdiri dari ulama, pendeta, purnawirawan, pengusaha, akademisi, aktivis, emak-emak dan perempuan, serta rakyat dari seluruh strata sosial yang memandang perlu ada perubahan kekuasaan yang bisa menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ketiga, golongan putih yang memandang tidak ada pemimpin yang ideal. Mereka memilih “uzlah” tidak terlibat politik praktis. Mereka ada yang dari kelompok liberal maupun kelompok agama.


Cegah People Power

Dua kelompok besar dari bangsa Indonesia, saat ini sudah berhadap-hadapan yaitu kelompok status quo dan kelompok perubahan.

Prabowo-Sandi telah menjadi simbol perlawanan yang didukung kekuatan massa yang luar biasa besar. Tidak saja massa yang menghadiri kampanye di berbagai daerah yang tak obahnya lautan manusia.

Akan tetapi massa besar yang terkonsolidasi dan militan yang terbangun karena kesadaran bersama untuk mewujudkan keadilan melalui Aksi 212 tahun 2016 dan Reuni Aksi 212 tahun 2018.


Kekuatan massa yang amat besar ini seluruhnya mendukung Prabowo-Sandi dalam Pemilu 2019 dibawah komando Habib Rizieq Shihab yang hidup dipengasingan di Makkah Al Mukarramah Arab Saudi.

Bagaimana mencegah people power agar tidak terjadi, people power yang akan meluluh-lantakan Indonesia? KPU dan Bawaslu ditangan anda sekarang untuk menyelamatkan bangsa dan negara. Maka kecurangan dalam perhitungan di kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten dan kota jangan sampai terjadi apalagi di KPU.

KPU dan Bawaslu di seluruh Indonesia harus berdiri lurus, jujur, benar dan profesional. Segala kecurangan di berbagai daerah, kita harapkan diatasi dengan baik, jika perlu Pemilu ulang di daerah-daerah tertentu.

Aparat dan pemimpin pemerintahan di daerah kita harapkan berdiri diatas kepentingan bangsa dan negara. Jangan terlibat curang untuk memenangkan siapapun dalam proses penghitungan suara hasil Pemilu di kelurahan/desa, kecamatan dan kabupaten/kota.

Menghormati pilihan rakyat yang ingin perubahan yang tercermin dalam Pemilu yang jujur dan adil, merupakan cara yang efektif untuk mencegah people power.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Apapun Hasil Perhitungan KPU, Persepsi Publik Pemenang Pemilu Presiden 2019 Prabowo-SandiPolitik Uang dan Kecurangan Pemilu Marak:  Mengapa Prabowo-Sandi Masih Unggul