Pemilu serentak 2019 membawa kita sebagai bangsa kepada keterbelahan sosiologis. Pertama, mereka yang berjuang menegakkan demokrasi di Indonesia sesuai amanat reformasi, dengan berjuang mewujudkan Pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
Kedua, mereka yang secara langsung maupun tidak langsung menggunakan demokrasi untuk melanggengkan kekuasaan politik dan ekonomi dengan berkolaborasi pemilik modal, cerdik pandai, pemilik media, oknum-oknum penyelenggara Pemilu, peserta Pemilu, birokrasi dan aparat dengan berlaku tidak adil, tidak benar dan tidak jujur, yang penting menang apapun caranya.
Ketiga, mereka yang tidak percaya demokrasi, sehingga “uzlah” (mengasingkan diri) tidak berpartisipasi dalam Pemilu.
Berduka Cita Kepada Pejuang Demokrasi
Media Online telah memberitakan bahwa banyak penyelenggara Pemilu yang meninggal dunia dalam melaksanakan tugas. Misalnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengabarkan sebanyak 54 petugas KPPS meninggal dunia dan 32 orang yang sakit (Kompas.com, 22/4/2019). Dan Update terakhir petugas KPPS yang meninggal lampaui 100 Orang (Republika.co.id, 23/4/2019).
Media sosial juga menginformasikan bahwa Ketua Bidang IT Prabowo-Sandi meninggalkan dunia, juga ada polisi yang meninggal dunia.
Mereka yang meninggal dunia dalam melaksanakan tugas untuk menyukseskan Pemilu, saya doakan semoga husnul khatimah, seluruh amal kebaikannya diterima oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa. Mereka yang sedang sakit semoga segera sembuh. Saya menyebut mereka sebagai pejuang demokrasi.
Civitas Akademika Univ. Ibnu Chaldun sampaikan duka yg dlm kpd Petugas Pemilu yg wafat yg lampaui 100 Org dan slrh keluarganya. Semoga husnul khatimah. Mrk pejuang demokrasi. Hargai pengabdian dan pengorbanan mrk dgn jujur dan benar hentikan kecurangan https://t.co/DNOvwRVqMx
— Musni Umar (@musniumar) April 23, 2019
Ketua Bidang IT Prabowo-Sandi Meninggal, Pusat Data BPN Diserang Hacker
#DokumenkanC1DiKecamatanhttps://t.co/ozRnUcGffy— GELORA NEWS (@geloraco) April 22, 2019
Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Saya turut berduka atas 119 anggota KPPS yang meninggal dunia saat proses rekapitulasi hasil Pemilu. Saya bersama para ulama & habib Dzuriyat NU & Jawa Timur baru saja melakukan shalat gaib untuk sahabat2 kita, KPPS yang telah meninggalkan kita. pic.twitter.com/ufgMsvCc3w
— Sandiaga Salahuddin Uno (@sandiuno) April 23, 2019
Pejuang Demokrasi
Penyelenggara Pemilu yang jujur dan benar, petugas KPPS, para saksi di TPS, para pengawas Pemilu dari Bawaslu, mahasiswa (i), masyarakat madani yang bertugas mengawasi kotak suara di lapangan dan dalam penghitungan di Kelurahan/Desa, Kecamatan, dan Kabupaten/Kota.
Selain itu, para ustaz seperti Abdul Somad, AaGym, Arifin Ilham, dan lain sebagainya, para pendeta, para dosen, pimpinan perguruan tinggi, para guru, emak-emak, para petani, nelayan, buruh, dan seluruh rakyat Indonesia yang sudah menggunakan hak pilih dalam Pemilu 2019, serta rakyat yang ingin Pemilu dilaksanakan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, semuanya menurut saya adalah pejuang dan penyelamat demokrasi.
KPU Tak Punya Anggaran Untuk Anggota KPPS Yang Meninggal #KlikRMOL https://t.co/eg6eY3pOO0
— REPUBLIK MERDEKA | RMOL.ID (@rmol_id) April 18, 2019
Pengkhianat Demokrasi Tobatlah
Sebaliknya, mereka yang membakar kotak suara hasil Pemilu, yang membakar gudang tempat penyimpanan kotak suara, membawa lari kotak suara, yang melakukan politik uang dengan menggunakan dana APBN, mereka yang menyogok rakyat dari hasil korupsi seperti diucapkan Bowo Sidik Pangarso, anggota DPR RI dan Ketua DPP Golkar yang sudah diberhentikan.
Selain itu, mereka yang berkuasa dan menggunakan kekuasaannya untuk melakukan intimidasi kepada rakyat supaya memilih calon tertentu, mereka yang berusaha dan berkolaborasi untuk melakukan kecurangan dalam penghitungan suara di TPS, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Kota dan dalam entry data C1 di KPU.
Terakhir, para cerdik pantai yang bergelar Doktor, Profesor dan Master yang dipersepsikan publik menggunakan ilmunya tidak jujur, tidak benar dan tidak adil dalam menyampaikan hasil Pemilu, sehingga menimbulkan kegaduhan di kalangan bangsa Indonesia, saya mendoakan semuanya tobat.
Tobat dalam pengertian, pertama, menyadari kesalahan yang dilakukan. Kedua, menyesali perbuatan yang dilakukan. Ketiga, berhenti melakukan perbuatan salah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan salah yang dilakukan.
Kekuasaan yang tak ditopang oleh pengetahuan kuat dan akhlak yang baik, sering menimbulkan kerusakan. Kekuasaan adalah keleluasaan, yang harus dijaga dengan ilmu dan etika.
— Sudirman Said (@sudirmansaid) May 25, 2018
Semua Sabar
Saya bersyukur pagi ini (23/4/2019) saya melewati kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) semua ucapan selamat kepada petahana telah diangkut dan sama sekali sudah tidak ada.
Saya apresiasi karena KPU sejatinya harus independen, jujur, benar dan adil. Tidak boleh memihak kepada siapapun.
Sy apresiasi didepan kantor KPU sdh tdk ada karangan bunga ucapan selamat kpd salah satu paslon Capres-Cawapres. Semoga jadi petunjuk KPU independen. KPU hanya taat kpd UU dan kedaulatan rakyat. Doa tetap jujur, benar dan adil. Awasi jajaran KPU dislrh Indonesia yg curang.
— Musni Umar (@musniumar) April 23, 2019
Seluruh bgs Indonesia terutama mahasiswa dan masy. madani, saatnya kita berpartisipasi menyelamatkan Indonesia dgn membantu KPU yg sdg dihajar krn buruk komunikasi politiknya. Pemilu dgn KPU yg tdk dipercaya publik, kita bisa bayangkan hasil Pemilu. https://t.co/OYo0bxf5HK
— Musni Umar (@musniumar) April 16, 2019
Saat ini ditangan KPU dan penyelenggara Pemilu terletak keselamatan bangsa dan negara.
Oleh karena itu, seluruh penyelenggara Pemilu yang merupakan kader-kader terbaik bangsa, orang-orang cerdik pandai yang telah diseleksi dengan ketat, jadilah penyelamat bangsa dan negara dengan mewujudkan Pemilu yang luber, jujur, adil, dan kecurangan dihentikan.
Bagi yg berakal sehat, mari kita kompak terus berjuang jaga #kedaulatanrakyat dari kecurangan dan kebohongan
— Muhammad Said Didu (@msaid_didu) April 22, 2019
Awasi teman-teman penyelenggara
Pemilu dalam penghitungan suara di Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten dan Kota serta operator komputer dalam entry data di KPU supaya tidak berlanjut kecurangan.
Kecurangan Pemilu yang sudah terjadi, dan masih terjadi harus dihentikan karena akan menjadi malapetaka bagi bangsa dan negara, sebab hasil Pemilu yang penuh dengan kecurangan yang akan diumumkan KPU tanggal 22 Mei 2019 pasti ditolak oleh mayoritas rakyat. Semoga hal itu tidak terjadi.
Oleh karena itu, saya mengajak semua untuk menyelamatkan demokrasi dengan sabar dan terus mengawal proses penghitungan suara ditingkat Kecamatan dan Kabupaten Kota serta entry data C1 di KPU.
Terstruktur, sistematik, massif dan Brutal (TSMB) https://t.co/tfTSRPPiNi
— Dahnil A Simanjuntak (@Dahnilanzar) April 23, 2019
Demokrasi di Indonesia sedang hadapi ancaman serius akibat banyaknya kecurangan dlm Pemilu. Mulai dr proses Pemilu, pelaksanaaan dan pasca Pemilu sarat dgn kecurangan. Seruan kita selamatkan demokasi dari kecurangan. https://t.co/BTl4FMXKIP
— Musni Umar (@musniumar) April 23, 2019

Musni Umar adalah Sosiolog dan Warga DKI Jakarta.
