Connect with us

Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo Ditengah Kecurangan Pemilu Momentumnya Tidak Tepat
netizen berfoto dengan patung jokowi di musium - twitter sirheywarex

Pemilu

Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo Ditengah Kecurangan Pemilu Momentumnya Tidak Tepat

Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo menimbulkan persepsi apabila, Prabowo bertemu dengan Jokowi seolah telah mengakui kemenangan Jokowi-Ma’ruf. Saat ini Pemilu sudah telanjur berlangsung tidak Luber dan tidak Jurdil, dan sudah terjadi banyak kecurangan Pemilu serta sudah 145 petugas Pemilu yang meninggal dunia, sehingga semakin banyak masyarakat yang galau dan marah.

Pada 24 April 2019 siang, saya diwawancarai RRI Pro 3 Jakarta tentang “Rekonsiliasi Prabowo-Jokowi dari Perspektif Sosioligis,” setelah sebelumnya RRI mewawancarai Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Dewan Penasehat Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi dan Ace Hasan Syadzily, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jakowi-Ma’ruf.

Saya memulai dengan mengemukakan bahwa sejatinya Prabowo dan Jokowi bahkan dengan Ibu Megawati, Presiden RI ke-5, tidak ada masalah. Hubungan para tokoh bangsa tersebut baik dan dapat dikatakan tidak ada masalah yang serius.

Saat ini yang amat perlu diatasi ialah masalah kecurangan Pemilu yang bersifat masif, sistimatis dan terstruktur.

Oleh karena itu, saya bisa pahami kalau Prabowo dan BPN Prabowo-Sandi tidak setuju bertemu dengan Jokowi atau utusannya saat ini.


https://twitter.com/SuaraGie/status/1121037639438651393

Rekonsiliasi Jokowi Ditengah Kecurangan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa rekonsiliasi ialah perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula, perbuatan menyelesaikan perbedaan.

Dari pengertian diatas dapat dikemukakan bahwa usulan rekonsiliasi antara Prabowo dengan Jokowi kurang relevan saat ini dan momentumnya tidak tepat.

Justeru kalau Prabowo dan Jokowi bertemu saat ini dapat menimbulkan persepsi yang sangat merugikan Prabowo-Sandi dan BPN.

Pertama, rakyat akan memberi penilaian negatif kepada Prabowo karena kecurangan Pemilu diselesaikan melalui perundingan bukan melalui jalur hukum.


Kedua, kepercayaan publik akan runtuh kepada Prabowo pada khususnya karena mau merundingkan kecurangan Pemilu bukan berjuang menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan.

Ketiga, akan timbul persepsi dimasyarakat, Prabowo bertemu dengan Jokowi seolah telah mengakui kemenangan Jokowi-Ma’ruf.

Keempat, akan melemahkan semangat juang para pendukung, simpatisan dan relawan Prabowo-Sandi dalam mengawal penghitungan suara disemua tingkatan yang sangat rawan dicurangi.

Kelima, Jokowi sebagai Presiden dan Kepala Negara bisa mengkapitasi pertemuan dengan Prabowo untuk kepentingan melanggengkan kekuasaannya.


Apa yang Harus Dilakukan?

Menurut saya, yang harus dilakukan bukan bertemu dengan Prabowo untuk meredakan ketegangan sosial politik yang memanas yang bisa mengganggu stabilitas nasional, tetapi Jokowi sebagai Presiden dan Kepala Negara memastikan Pemilu dilaksanakan Luber dan Jurdil, karena akar masalah ada disitu.

Saat ini Pemilu sudah telanjur berlangsung tidak Luber dan tidak Jurdil, dan sudah terjadi banyak kecurangan Pemilu serta sudah 145 petugas Pemilu yang meninggal dunia, sehingga semakin banyak masyarakat yang galau dan marah.

Walaupun begitu, tidak ada kata terlambat untuk memecahkan akar masalah kekisruhan bangsa yaitu kecurangan Pemilu. Masih terbuka lebar untuk memastikan proses perhitungan suara di Kabupaten/Kota dan input C1 di KPU supaya berlangsung benar, jujur, adil, dan tidak ada lagi kecurangan.

Baca Juga

Opini

Isu 3 periode bertambah ramai, setelah Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mewacanakan amandemen UUD. Sontak publik ribut sebab mereka mengaitkan wacana 3 periode dengan...

Pemilu

Partai Ummat yang dibidani kelahirannya oleh Prof Dr M. Amien Rais dideklarasikan pendiriannya pada 17 Ramadan 1442H 29 April 2021 di Yogyakarta. Partai ini...

Politik

Pada 14 April 2021 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah melaksanakan silaturrahim sekaligus buka puasa bersama dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dihadiri pimpinan kedua...

Pemilu

Sejarah pemilihan umum (pemilu) tahun 2019 cukup mengenaskan karena kematian massal panitia pemilu sebanyak 894 petugas dan petugas lainnya yang sakit ada 5175 orang.

Opini

PDIP, Partai Gerinda, PAN dan PPP telah menyatakan secara terbuka bahwa mereka tidak setuju adanya revisi UU Pemilu.

Lainnya

Sistem demokrasi tidak sempurna. Amerika Serikat sebagai kampiun demokrasi, telah menunjukkan boroknya.

Opini

Pada saat artikel ini ditulis , belum ada pengumuman resmi dari Panitia Pemilihan Umum Amerika Serikat bahwa Joe Biden dan Kamala Harris telah memenangi...

Opini

Pada 3 November 2020, rakyat Amerika Serikat akan datang ke berbagai tempat pemungutan suara (TPS) untuk menyoblos calon Presiden Amerika Serikat untuk 4 tahun...