Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo Ditengah Kecurangan Pemilu Momentumnya Tidak Tepat

 Kategori Pemilu

Pada 24 April 2019 siang, saya diwawancarai RRI Pro 3 Jakarta tentang “Rekonsiliasi Prabowo-Jokowi dari Perspektif Sosioligis,” setelah sebelumnya RRI mewawancarai Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Dewan Penasehat Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi dan Ace Hasan Syadzily, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jakowi-Ma’ruf.

Saya memulai dengan mengemukakan bahwa sejatinya Prabowo dan Jokowi bahkan dengan Ibu Megawati, Presiden RI ke-5, tidak ada masalah. Hubungan para tokoh bangsa tersebut baik dan dapat dikatakan tidak ada masalah yang serius.

Saat ini yang amat perlu diatasi ialah masalah kecurangan Pemilu yang bersifat masif, sistimatis dan terstruktur.

Oleh karena itu, saya bisa pahami kalau Prabowo dan BPN Prabowo-Sandi tidak setuju bertemu dengan Jokowi atau utusannya saat ini.


Rekonsiliasi Jokowi Ditengah Kecurangan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa rekonsiliasi ialah perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula, perbuatan menyelesaikan perbedaan.

Dari pengertian diatas dapat dikemukakan bahwa usulan rekonsiliasi antara Prabowo dengan Jokowi kurang relevan saat ini dan momentumnya tidak tepat.

Justeru kalau Prabowo dan Jokowi bertemu saat ini dapat menimbulkan persepsi yang sangat merugikan Prabowo-Sandi dan BPN.

Pertama, rakyat akan memberi penilaian negatif kepada Prabowo karena kecurangan Pemilu diselesaikan melalui perundingan bukan melalui jalur hukum.


Kedua, kepercayaan publik akan runtuh kepada Prabowo pada khususnya karena mau merundingkan kecurangan Pemilu bukan berjuang menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan.

Ketiga, akan timbul persepsi dimasyarakat, Prabowo bertemu dengan Jokowi seolah telah mengakui kemenangan Jokowi-Ma’ruf.

Keempat, akan melemahkan semangat juang para pendukung, simpatisan dan relawan Prabowo-Sandi dalam mengawal penghitungan suara disemua tingkatan yang sangat rawan dicurangi.

Kelima, Jokowi sebagai Presiden dan Kepala Negara bisa mengkapitasi pertemuan dengan Prabowo untuk kepentingan melanggengkan kekuasaannya.


Apa yang Harus Dilakukan?

Menurut saya, yang harus dilakukan bukan bertemu dengan Prabowo untuk meredakan ketegangan sosial politik yang memanas yang bisa mengganggu stabilitas nasional, tetapi Jokowi sebagai Presiden dan Kepala Negara memastikan Pemilu dilaksanakan Luber dan Jurdil, karena akar masalah ada disitu.

Saat ini Pemilu sudah telanjur berlangsung tidak Luber dan tidak Jurdil, dan sudah terjadi banyak kecurangan Pemilu serta sudah 145 petugas Pemilu yang meninggal dunia, sehingga semakin banyak masyarakat yang galau dan marah.

Walaupun begitu, tidak ada kata terlambat untuk memecahkan akar masalah kekisruhan bangsa yaitu kecurangan Pemilu. Masih terbuka lebar untuk memastikan proses perhitungan suara di Kabupaten/Kota dan input C1 di KPU supaya berlangsung benar, jujur, adil, dan tidak ada lagi kecurangan.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Prabowo dan Jokowi Klaim Menang Pilpres 2019, KPU Diduga Curang, Bagaimana Nasib Bangsa dan Negara?Perlu Dibentuk Tim Pencari Fakta Kecurangan Pilpres 2019 Dari Kalangan Independen