Prabowo Melawan: Kali Ini Saya Tidak Akan Menerima Hasil Kecurangan

 Kategori Pemilu

Prabowo melawan kecurangan dengan tekad yang kuat. Prabowo Subianto, calon Presiden RI nomor urut 02 didepan perwakilan kedutaan negara-negara sahabat dan media asing yang diundang ke rumahnya di Jalan Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (6/5/2019) mengemukakan kondisi kritis dalam pelaksanaan Pemilu 2019 yang penuh kecurangan.

Prabowo mengemukakan kepada perwakilan kedutaan asing dan media asing tentang “kecurangan masif terlihat dalam pemberdayaan aparat kepolisian di Pemilu yang disebutnya secara terang-terangan dan institusi pemerintahan seperti badan intelejen.” Prabowo menyebut kecurangan Pemilu secara terstruktur, sistimatis, dan masif.

Oleh karena itu, Prabowo menegaskan bahwa “Kali ini saya tidak akan menerima hasil kecurangan. Pada 2014, saya sebenarnya tidak menerima dalam hati. Tapi demi kebaikan negara, saya menerimanya. Saya datang ke pelantikan, saya memberi selamat ke (Jokowi),” kata Prabowo.

“Tapi kali ini pelanggarannya terlalu banyak. Jadi ini tidak mungkin. Saya tidak akan menerima Pemilu yang curang.”


Apa yang Akan Dilakukan?

Prabowo tidak menjelaskan apa yang akan dilakukan jika KPU mengumumkan pemenang Pemilu bukan dirinya dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Dalam dialog, media asing menanyakan langkah yang akan ditempuh jika bukan dirinya dan Sandiaga yang diumumkan KPU menjadi pemenang Pemilu, apakah akan meminta pendukungnya turun ke jalan-jalan untuk memprotes?

Prabowo menjawab “saya bukan diktator.” Saya tidak akan menyuruh pendukung saya turun ke jalan memprotes hasil Pemilu. Menurut dia, pendukung saya bukan kambing, mereka tahu apa yang akan dilakukan. Ujar Prabowo.

Badan Pemenangan Pemilu Prabowo-Sandi dan rakyat yang ingin perubahan, yang menjadi pendukung Prabowo-Sandi, dugaan saya akan melakukan tiga hal.

Pertama, melakukan gugatan hukum. Bisa di Mahkamah Konstitusi (MK) atau Mahkamah Agung (MA) atau kedua-duanya. Akan tetapi berdasarkan pengalaman, diduga lembaga hukum tertinggi itu tidak akan mengubah hasil Pemilu yang sudah dktetapkan KPU karena sejak pembuatan UU Pemilu, pelaksanaan Pemilu, perhitungan suara dan Situng di KPU diduga sudah di setting untuk kemenangan petahana.

Kedua, kasus kecurangan Pemilu di Indonesia akan dibawa ke mahkamah/lembaga internasional, seperti yang pernah dikemukakan adik kandung Prabowo, Hasyim Djojohadikusumo. Lembaga internasional, juga tidak akan bisa mengubah hasil Pemilu yang diduga penuh kecurangan seperti dikemukakan Prabowo.


Ketiga, akan dilawan secara damai melalui kekuatan rakyat yang sering disebut “People Power.” Apakah ini akan menjadi pilihan? Dugaan saya ya. Polisi dan TNI sudah siap menghadapi kemungkinan “People Power.”

Kalau jutaan massa yang turun dan dukungan rakyat besar, bisa terulang sejarah lama Indonesia. Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto “lengser” dari gerakan “People Power.”

Semoga rakyat dan negara Kesatuan Republik Indonesia selamat. Aamiin.


Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Presiden Jokowi Sebaiknya Bentuk Tim Pencari Fakta Kematian Petugas PemiluRamadhan: Petunjuk Alqur'an, Perang Badar dan Pemilu di Indonesia