Selamatkan Demokrasi dan Indonesia dari Perpecahan

 Kategori Pemilu

Selamatkan demokrasi dan Indonesia dari perpecahan karena salah satu warisan reformasi tahun 1998 yang nyaris terkubur saat ini ialah demokrasi.

Demokrasi ialah pemerintahan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Sarana untuk mewujudkan demokrasi ialah pemilihan umum (Pemilu).

Demokrasi dan Pemilu bukan tujuan, tetapi hanya sarana untuk memilih pemimpin pemerintahan dan para anggota parlemen (anggota legislatif) untuk kurun waktu lima tahun.

Dalam hubungan itu, maka Pemilu harus dilaksanakan sesuai undang-undang Pemilu yaitu langsung, umum, bebas, rahasia (luber), jujur, adil (jurdil).

Rakyat yang Berdaulat

Rakyat adalah pemilik kedaulatan (kekuasaan), yang berarti rakyat yang berdaulat (berkuasa).

Sebagai pemilik kedaulatan (kekuasaan), setiap lima tahun, rakyat diberi kesempatan untuk melakukan evaluasi terhadap pemimpin dan anggota parlemen (legislatif) di semua tingkatan yang sudah dipilihnya untuk mewakili mereka di parlemen.

Jika pemimpin (Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota) dan para anggota parlemen (legislatif) dinilai sukses menjalankan amanah yang telah dipercayakan, maka akan dipilih kembali.

Sebaliknya, jika rakyat sebagai pemilik kekuasaan menganggap pemimpin dan wakil rakyat yang telah dipilih, tidak sukses menjalankan amanah, maka rakyat berhak memilih pemimpin dan wakil rakyat yang baru.


Ketegangan Pasca Pemilu

Kemarin siang (9/5/2019) saya melintasi Jalan MH. Thamrin Jakarta. Di depan Gedung Bawaslu RI telah berjejer panser dan aparat kepolisian. Begitu juga ketika saya melintasi area Monumen Nasional (Monas) Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, dari kejauhan saya melihat banyak sekali polisi dan anggota TNI.


Pada saat saya memasuki Balai Kota DKI Jakarta, saya melihat sejumlah aparat dalam jumlah besar yang berbaju hitam di selasar gedung tempat berkantor Gubernur DKI Jakarta, ada yang sedang berbaring, duduk dan sebagainya.

Demikian juga, di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah dipasangi kawat berduri dan dijaga aparat kepolisian.


Sebagai sosiolog, saya menangkap ada ketegangan, tetapi kita bersyukur masyarakat yang sedang berpuasa dan relawan 02 yang ramai ikut mengawal BPN Prabowo-Sandi di depan kantor Bawaslu hari ini berlangsung tertib. Mari kita menjaga kedamaian di bulan ramadhan ini.

Penetapan Ustaz Bachtiar Nasir dan Dr. Eggi Sujana sebagai tersangka oleh polisi, diyakini akan menambah ketegangan sosial, tetapi saya berharap semua tetap tenang dan sabar. Saya yakin UBN dan Bung Eggi akan sabar dan mengikuti proses hukum yang berlaku.


Kecurangan Pemilu

Sumber ketegangan sosial politik saat ini harus segera diatasi yaitu dugaan kecurangan Pemilu.

Dugaan kecurangan Pemilu yang terstruktur, sistimatis dan masif harus segera diatasi.


Dizaman Now, tidak ada yang bisa disembunyikan. Semua terbuka dan seluruh rakyat Indonesia bisa mengetahui adanya dugaan kecurangan Pemilu melalui media sosial.

Kalaupun ada yang belum melek teknologi, jumlahnya terbatas dan melalui anak-anak mereka, tetangga dan famili, informasi tentang dugaan kecurangan Pemilu sampai kepada mereka.

Oleh karena itu, dugaan kecurangan Pemilu 2019 tidak boleh dianggap sepele. Harus segera diatasi, agar bangsa ini kembali tenang.

Sekali lagi dugaan kecurangan Pemilu sebagai sumber utama ketegangan sosial politik pasca Pemilu, harus segera diatasi.

Kunci pemecahan masalah ada di KPU dan Bawaslu sebagai penyelenggara Pemilu. Ajaklah kedua kubu peserta Pemilu, para tokoh masyarakat dan akademisi untuk musyawarah mencari solusi.


Prabowo memberikan keterangan pers news.detik.com (8/5/2019) menyampaikan sebagai berikut:
“Kita ingin suasana kondusif, suasana sejuk. Kami juga melakukan langkah-langkah terus untuk menanggapi perkembangan proses penghitungan. Kami juga akan melakukan workshop-workshop, mengumpulkan ahli-ahli IT dari berbagai universitas. Kami akan mengkaji, meneliti se-ilmiah mungkin lalu pada saatnya kami akan melakukan expose paparan kepada (masyarakat) umum minggu depan. Dalam hal ini kami menghimbau semua pihak untuk tetap sejuk, tenang, tidak emosional, tidak mengambil tindakan-tindakan diluar hukum. Percaya bahwa kita lakukan semua tindakan tidak dengan grusak grusuk, tetapi dengan ketenangan, dengan selalu memikirkan kepentingan yang terbaik.”

Prabowo bersama tim-nya berusaha untuk memonitor, menjaga, mengawal dan menanggapi proses penghitungan. Tindakan ini merupakan usaha agar proses penghitungan berjalan dengan lancar sampai akhir, sehingga dugaan kecurangan Pemilu dapat diatasi.


Saya yakin, jika pada 22 Mei 2019 hasil Pemilu dipaksakan untuk diumumkan, sementara Pemilu tetap diduga keras penuh kecurangan, dan mayoritas rakyat tidak terima, apa yang terjadi, saya yakin seluruh bangsa Indonesia akan kecewa dan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemilu tidak dapat dibendung lagi.

Semoga dibulan Ramadhan ini ada kejernihan, kesabaran, kemauan dan keterbukaan hati para Komisioner KPU dan Bawaslu untuk menyelesaikan masalah dugaan kecurangan Pemilu sebagai solusi untuk meredam gejolak sosial yang akan menghadap-hadapkan aparat keamanan dengan rakyat sebagai pemilik kedaulatan yang melakukan protes.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Ramadhan: Petunjuk Alqur'an, Perang Badar dan Pemilu di IndonesiaPrabowo-Sandi Bersama Ulama dan Rakyat Meneruskan Perjuangan