Pemimpin Cerdas, Jujur dan Adil Sesuai Petunjuk Islam

 In Ramadhan 1440H, Opini, Top

Akademi Sahur Indonesia yang disingkat AKSI Indosiar tadi pagi (14/5/2019) telah menampilkan salah satu dai yang bernama Abdillah dari Maros, Sulawesi Selatan.

Abdillah dari Maros bertausyiah mengenai “Keteladanan Kepemimpinan Rasulullah” di AKSI Indonesia 2019 Top 24. Abdillah membahas pentingnya seorang pemimpin memiliki sifat pintar/ cerdas, jujur dan adil.

Tausyiah Abdillah di AKSI Indosiar merupakan inspirasi dari tulisan ini, Pemimpin Cerdas, Jujur dan Adil Sesuai Petunjuk Islam. Sifat cerdas (fathanah) dan Adil (‘adl) merupakan sifat mulia yang wajib dimiliki pemimpin dan rakyat. Selain sifat jujur, benar, amanah dan tabligh.

Pemimpin yang tidak cerdas, akan diatur dan dikendalikan orang-orang yang ada disekitarnya sesuai kepentingan mereka.

Sementara pemimpin yang tidak adil, akan memimpin sesuai selera dan kepentingan orang-orang yang mengitarinya. Dampaknya masyarakat tidak akan mendapatkan keadilan. Padahal adil dan keadilan merupakan perintah negara yang tercantum dalam sila kedua dan kelima dari Pancasila.

Selain itu, adil dan keadilan merupakan perintah Allah dalam Alqur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati kepada ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah: 8).

Pemimpin Harus Cerdas, Jujur dan Adil

Pemimpin harus memiliki kelebihan yang banyak dari rakyat yang dipimpinnya. Cerdas (fathanah) merupakan sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Pemimpin mutlak memiliki sifat cerdas, jujur, benar, amanah, dan adil. Karena pemimpin itu ialah yang dicontoh dan diteladani rakyat dalam segala hal. Mulai dari keputusannya, tutur katanya, sifat-sifatnya, penampilannya, bahkan pakaiannya.

Kalau pemimpinnya baik, cerdas, jujur, benar, amanah, dan adil, maka rakyatnya akan baik, karena rakyat akan mencontoh segala kebaikan yang dimiliki dan dilakukan oleh pemimpin.

Sebaliknya, kalau pemimpin tidak baik, tidak cerdas, tidak jujur, tidak benar, tidak amanah, dan tidak adil, maka rakyat bisa rusak karena akan ada rakyat yang menjadi pengikut buta yang mengikuti dan membenarkan segala keputusan dan tindakan yang diambil pemimpin. Juga akan ada kelompok masyarakat yang berusaha mengoreksi pemimpin untuk kepentingan kelompoknya sendiri, sehingga rakyat terpecah belah dan kacau.

Oleh karena itu, rakyat harus berjuang supaya mempunyai pemimpin yang baik yaitu yang cerdas, adil, jujur, benar, amanah dan tabligh (komunikator) yang mampu menyampaikan pandangan dan programnya kepada rakyat secara baik.


Allah mengutus Nabi Muhammad SAW menjadi rasul agar manusia dan umatnya memiliki sosok pemimpin yang bisa diteladani, dicontoh dan ditiru. Hal itu ditegaskan Allah dalam Alqur’an

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu contoh teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS. AlAhzab: 21).

Banyak contoh teladan yang bisa diikuti. Salah satu teladan yang patut ditiru dari Nabi Muhammad SAW ialah sifat jujur. Rakyat Makkah semasa Nabi Muhammad SAW masih remaja sudah dikenal “kejujurannya,” sehingga diberi gelar “Al Amiin” (yang bisa dipercaya).

Kejujuran saat ini sangat langkah. Banyak orang pintar yang memiliki banyak gelar kesarjanaan terjerembab dalam kehinaan dan masuk penjara karena korupsi. Korupsi merupakan wujud dari tidak jujur.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW adalah pemersatu. Sebagai contoh, ketika terjadi sengketa antara para pemimpin Quraisy yang masing-masing kabilah merasa lebih berhak meletakkan “hajar aswad” pada tempatnya semula di bagian tengah di Ka’bah, Nabi Muhammad SAW memberi solusi dengan meminta kepada setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut, setelah itu hajar aswad diletakkan ditempat semula di Ka’bah.

Dengan demikian semua pemimpin kabilah merasa dihormati karena ikut serta meletakkan hajar aswad di Ka’bah.


Indonesia sangat memerlukan pemimpin di semua tingkatan yang mempunyai iman yang kukuh, cerdas, jujur, benar, amanah, tabligh dan adil, sehingga kekayaan alam yang melimpah ditanah air kita dapat dimanfaatkan sebesar-besar bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.


Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

UIC Berbuka Puasa Bersama Anak Yatim dan Memberikan SantunanPrabowo-Sandi Tolak Hasil Perhitungan Suara Curang, Pada Tanggal 9 Ramadhan