Indeks Kerukunan dan Toleransi Antar Umat Beragama di DKI Jakarta Tinggi

 In Sosial, DKI Jakarta

Beberapa waktu lalu, Stara Institute telah mengeluarkan hasil surveinya yang menyimpulkan bahwa tingkat toleransi di DKI Jakarta tergolong rendah.

Hasil survei itu, mengundang banyak komentar yang menyanggah kebenaran hasil survei tersebut. Akan tetapi, sanggahan itu tidak didasarkan atas hasil penelitian. Pada hal hasil survei atau penelitian hanya bisa dibantah dengan hasil survei atau penelitian yang baru.

Dalam rangka itu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, bekerjasama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta pada awal Maret 2019 sampai akhir Mei 2019, telah melakukan penelitian dengan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data penelitian lapangan (field research) dan penelitian kepustakaan (library research).


Hasil Penelitian dan Rekomendasi

Pertama, masyarakat DKI Jakarta memiliki tingkat toleransi yang tinggi walaupun menganut agama yang berbeda dengan prosentase, terdiri dari agama Islam 83.30%, Agama Kristen Protestan 8.62%, agama Katolik 4.04%, Agama Budha 3.84%, Agama Hindu 0.21%, agama Konghucu 0.06%, serta memiliki suku bangsa dan etnis yang berbeda.

Kedua, kebebasan melaksanakan ibadah berjalan baik dan kerukunan antar umat beragama di DKI Jakarta tetap terjaga, dengan komposisi sarana ibadah seperti umat Islam memiliki Masjid sebanyak 267 dan Mushalla/Langgar 266, Sedangkan Gereja Kristen 207, Gereja Katolik 89, kapel 5, pura 16 dan Vihara 61, Kelenteng sebanyak 20.

Ketiga, kerukunan antar umat beragama di DKI Jakarta sangat penting dipelihara, dirawat, dijaga dan dipertahankan dengan terus meningkatkan pendidikan formal dan informal masyarakat DKI Jakarta serta mengurangi kesenjangan sosial ekonomi dan ketidakadilan ekonomi melalui affirmative policy dan affirmative action.

Keempat, masyarakat DKI Jakarta memiliki sarana pendukung terbangunnya kerukunan antar umat beragama di DKI seperti Pancasila, nilai-nilai agama, nilai-nilai budaya Betawi dan nilai-nilai budaya Jawa, Sunda, Sumatera, Bugis dan nilai-nilai budaya berbagai suku bangsa yang hidup dan menyatu dalam kehidupan di DKI Jakarta. Selain itu, sarana olah raga dan perkumpulan pengajian dan organisasi kemasyarakatan yang merupakan modal sosial.

Kelima, direkomendasikan kepada pemerintah DKI untuk terus meningkatkan program-program pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan peran tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan cendekiawan untuk terus menjaga kerukunan di lingkungan masyarakat di DKI Jakarta dengan meningkatkan pengamalan nilai-nilai agama, nilai-nilai kekeluargaan dan saling menghormati antar umat beragama.

Download Laporan Penelitian
⬇️ https://drive.google.com/file/d/1AFcm-Ejp7nZRfa_HCcfBXkrk5VTrL1k9/view


Presentasi hasil penelitian kerukunan antar umat beragama di DKI Jakarta kemarin di UIC (17/5/2019)


Buka puasa bersama setelah mengikuti presentasi hasil penelitian LPPM yang dilakukan Syahiruddin di Aula Prof Dr Bahder Djohan Univ. Ibnu Chaldun

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Mahasiswa UIC Sukses Pengawasan Partisipatif, Exit Poll dan Quick Count Pemilu 2019Budaya mudik tapi tiket mahal apa solusinya?