Dampak Puasa Ramadhan Terbangun Sifat Jujur dan Disiplin

 Kategori Ramadhan 1440H, Pemilu

Puasa Ramadhan yang sedang dijalani umat Islam selama satu bulan penuh, mengandung banyak hikmah yang bisa dipetik untuk mengubah hidup kita semakin jujur, semakin baik, semakin disiplin dan semakin memberi manfaat yang besar terhadap sesama umat manusia.

Salah satu nilai yang amat mulia dan agung yang bisa kita petik dari puasa Ramadhan ialah kejujuran. Yang mengetahui kita puasa atau tidak puasa hanya diri kita dan Allah. Maka puasa, mendidik dan melatih diri kita (tarbiyatun nafs) untuk bersifat jujur.

Jujur merupakan mahkota kehidupan bagi setiap manusia. Itu sebabnya Sayidina Ali Bin Abi Thalib RA berkata: “Orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta dan rasa hormat.”


Mohammad Hatta, Wakil Presiden RI pertama pernah berkata: “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki”.


Hikmat lain puasa Ramadhan yang bisa dipetik adalah disiplin. Selama puasa tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Pada saat sahur misalnya, ketika imsak tiba langsung tidak boleh makan, minum, hubungan cinta suami-isteri dan segala hal yang bisa membatalkan puasa kita. Begitu juga, saat buka puasa, jika sudah masuk Magrib langsung diperintahkan buka puasa tidak boleh menunda buka puasa.

Dengan demikian, puasa Ramadhan melatih kita untuk sabar dan disiplin. Disiplin kerja, disiplin tugas serta disiplin pada cita-cita, disiplin pada profesi.


Dampak Tidak Jujur

Saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi masalah yang amat sulit akibat hilangnya sifat jujur.

Pemilu sejatinya sudah selesai 17 April 2019 saat seluruh rakyat Indonesia selesai menyoblos calon Presiden-calon Wakil Presiden dan calon anggota parlemen di semua tingkatan.

Akan tetapi, Pemilu jauh dari selesai karena dugaan kecurangan Pemilu yang terstruktur, sistimatis, masif dan ada yang menyebut brutal. 

Dampak negatifnya, rakyat sebagai pemilik kedaulatan, menolak menerima hasil Pemilu Presiden yang diduga penuh dengan kecurangan. Kecurangan adalah lawan dari kejujuran.

Selain itu, korupsi yang merajalela di negara kita merupakan akibat kita tidak memegang dan mengamalkan nilai-nilai kejujuran.

Dampak dari korupsi, kekayaan alam Indonesia yang luar biasa, hanya dinikmati segelintir bangsa Indonesia dan orang asing. Pada hal menurut pasal 33 ayat (i) “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia.”


Allah memandu orang-orang yang beriman supaya jujur dan bersama orang-orang yang jujur, sesuai firman Allah dalam Alqur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At Taubah: 119).


Momentum puasa Ramadhan, sebaiknya kita kembali mengamalkan sifat jujur dan disiplin yang dimulai dari diri kita dan lingkungan kita.

Dengan jujur dan disiplin, bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia yang besar ini insya Allah selamat dan rakyat Indonesia maju, adil dan sejahtera.


Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Berbekallah sebelum Maut Menjemput KitaDampak Pilpres 2019 dan Ekonomi Global Terhadap Indonesia