Connect with us

Gerakan Hati Nurani Rakyat Tuntut Keadilan Pemilu
suasana di depan gedung bawaslu jakarta pusat #pilpres #22mei - twitter destryawan_

Pemilu

Gerakan Hati Nurani Rakyat Tuntut Keadilan Pemilu

Gerakan hati nurani rakyat tuntut keadilan pemilu tercermin dari massa 22 Mei. عش كريما أو مت شهيدا “Hiduplah dengan mulia atau mati syahid”. Banyak pendemo yang mengemukakan ungkapan tsb. Perjuangan mereka adalah panggilan hati nurani, yang sulit dibendung karena menuntut keadilan yang sifatnya universal.

Sejak 21-23 Mei 2019, saya berada disekitar lokasi demo memantu apa yang dilakukan massa pendemo di depan Bawaslu Jalan Thamrin Jakarta. Sebagai sosiolog, saya sebisa mungkin memantau kondisi masyarakat secara langsung. Pantauan saya menghasilkan tulisan ini, yang berjudul Gerakan hati nurani rakyat tuntut keadilan pemilu.

Saya mendengar dan menyimak orasi para pendemo yang merupakan perwakilan dari berbagai daerah dan beberapa elemen masyarakat, semuanya mengemukakan masalah keadilan.

Keadilan menurut mereka dicederai oleh kecurangan Pemilu. Masalah ini sejak proses Pemilu mulai dari Daftar Pemilih Sementara (DPS), Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang ditengarai dengan isu pemilih ganda, masa kampanye, saat pelaksanaan Pemilu dan perhitungan suara di semua tingkatan, dalam berbagai tulisan, saya sudah kemukakan pentingnya dihindari kecurangan Pemilu yang merupakan lawan dari keadilan karena bisa menjadi sumber konflik.

Akan tetapi amat disayangkan, bagai berteriak ditengah gurun pasir. Para penyelenggara Pemilu, tidak peduli dan membiarkan kecurangan terjadi. Tidak melakukan tindakan pencegahan dan melaksanakan Pemilu sesuai undang-undang Pemilu yang harus Luber dan jurdil.


Hati Nurani yang Bicara

Dampak dari pengumuman hasil Pilpres 21 Mei 2019 dini hari, rakyat marah yang dituangkan dalam bentuk demo.

Dalam wawancara saya dengan para pendemo, semua mengemukakan bahwa mereka siap berjuang dan tidak takut mati.

Ini dibuktikan pada 21 Mei 2019 setelah buka puasa, shalat Magrib dan Isya, polisi minta supaya pendemo bubar. Banyak yang bubar, tetapi tidak sedikit yang bertahan dan kembali ke depan Bawaslu. Mereka nekat sekali ke lokasi demo.

Ketika saya wawancara pendemo, banyak yang mengemukakan ungkapan:

عش کریما او مت شهیدا

“Isy Kariman au Mut Syahidan”.
“Hiduplah dengan mulia atau mati syahid” (Asma Binti Abu Bakar).

Makna ungkapan tersebut bahwa apa yang mereka lakukan sekarang sebagai jihad melawan kecurangan. Kalau mereka meninggal dalam berjuang, merupakan bagian dari hidup, yaitu melakukan kemuliaan dan diakhiri dengan mati syahid. Orang yang melakukan kemuliaan dalam hidupnya, niscaya akhir hayatnya pun akan dipelihara oleh Allah SWT.

Kecurangan menurut mereka harus melawan dengan perjuangan (jihad).


https://twitter.com/AntonArrafi/status/1131185301194305541
Dari hasil wawancara saya dengan para pendemo yang pada umumnya enggan menyebut nama, dan melihat realitas dilapangan, saya simpulkan bahwa perjuangan mereka adalah panggilan hati nurani, yang sulit dibendung karena menuntut keadilan yang sifatnya universal.

Tidak tertutup kemungkinan, ada penyusupan untuk membuat onar dan anarkis, tetapi nampaknya para pendemo tidak takut. Buktinya jumlah pendemo 22 Mei 2019 lebih banyak jumlahnya bahkan bisa disebut berlipat kali jumlahnya.

Untuk kesekian kalinya saya menyerukan supaya demo dilakukan secara damai dan menghindari tindakan anarkis yang merugikan. Ini demi kepentingan bangsa dan negara. Mayarakat islam Indonesia di mata dunia internasional harus bisa menjaga citranya. Mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia.


Tanggapan Media Asing yang Tidak Akurat

Saya turut menyesali apa yang terjadi ketika massa berdemo di depan bawaslu.


Hal ini merupakan suatu situasi yang dapat dengan mudah di jadikan wacana oleh media asing. Seperti demo di depan bawaslu bukanlah untuk menjunjung tinggi keadilan Pemilu 2019, tetapi merupakan suatu bentuk aksi anarkis oleh militan islam dsb. Bahwa pihak yang kalah secara sistematis telah memprovokasi massa.

Terbukti dari screenshot berikut ini:

Aksi 21-22 Mei 2019 ini merupakan aksi yang menuntut keadilan di Indonesia. Jangan biarkan pihak lain berkata sebaliknya. Diakhir tulisan ini, untuk kesekian kalinya saya menyerukan supaya demo dilakukan secara damai dan menghindari tindakan anarkis yang merugikan.

Berikut foto-foto ketika saya sedang memantau demo berbagai elemen rakyat di depan Bawaslu (22/5/2019)

Gerakan Hati Nurani Rakyat Tuntut Keadilan Pemilu



Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Baca Juga

Pemilu

Nasihat saya kepada para aktivis yang bergabung di partai politik dan ingin bertanding dalam pemilu 2024, jangan ragu, khawatir apalagi takut untuk bertanding karena...

Pemilu

Pasca Partai Demokrat mengumumkan dukungan resmi kepada Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden 2024, partai Demokrat dan para tokohnya sebaiknya semakin aktif meningkatkan elektabilitas...

Opini

Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 14 November 2022, telah menetapkan partai politik (parpol) peserta pemilu 2024 berikut nomor urut peserta pemilu.

Opini

Pertanyaannya, kapan Gerindra deklarasikan Prabowo sebagai calon presiden 2024? Allah a'lam. Kalau PAN mau selamat, capreskan segera Erick Thohir. Lebih cepat lebih baik.

Pemilu

Selama hampir 10 (sepuluh) tahun Partai Keadilan Sejahtera PKS beroposisi. Tidak tergiur untuk masuk ke dalam gerbong pemerintahan Jokowi.

Pemilu

Mahkamah Konstitusi (MK) telah membuat putusan yang dianggap melanggar asas keadilan, kepantasan dan equality before the law (persamaan di depan hukum) karena membolehkan menteri...

Pemilu

Anies Baswedan, Calon Presiden RI dari Partai Nasdem telah mengemukakan kriteria Calon Wakil Presiden RI yang diharapkan untuk mendampinginya.

Pemilu

Ada dinamika dan dampak positif dari pencalonan Anies Baswedan. Media online memberitakan ribuan orang mendaftar menjadi anggota Partai Nasdem.