Demonstrasi dan Kerusuhan: Akar Masalah Kecurangan Pemilu

 Kategori Pemilu

Kita prihatin dan sedih, pertama, dampak dari demonstrasi dan kerusuhan mengakibatkan 8 orang meninggal dunia dan ratusan orang cedera yang harus dirawat dirumah sakit.

Kedua, hampir 700 orang petugas Pemilu meninggal dunia dan sampai saat ini tidak diketahui secara pasti penyebab mereka meninggal, karena tidak diotopsi.

Meninggalnya para petugas Pemilu dapat dikatakan sudah dilupakan karena ditutup oleh kasus kerusuhan 22 Mei 2019, yang mengakibatkan 8 orang meninggal dunia, ratusan orang cedera dan lebih memprihatinkan lagi terjadi penyiksaan yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab sebagaimana diberitakan melalui tayangan video.


Demo Merupakan Reaksi

Sejatinya tidak perlu terjadi demonstrasi dan kerusuhan, yang menyebabkan 8 orang meninggal dunia dan menciderai ratusan orang.

Akan tetapi, demo itu merupakan reaksi yang diwujudkan dengan protes sosial. Protes sosial telah menjalar di seluruh kota besar di Indonesia.

Pertanyaannya, mengapa mereka melakukan demo? Jawabannya, karena mereka menduga Pemilu yang dilaksanakan 17 April 2019 sarat dengan kecurangan.

Sejak awal, dugaan kecurangan Pemilu sudah di setting dengan membolehkan orang gila memilih, daftar pemilih ganda (pemilih siluman) yang sudah diprotes, pengucuran dana APBN Program Keluarga Harapan (PKH) jelang Pemilu yang diduga sebagai sarana politik uang, pejabat Negara merangkap juru kampanye, ASN dikerahkan untuk mendukung pasangan calon tertentu, aparat yang seharusnya netral diduga tidak netral, politik uang masif dilakukan, kartu suara sudah dicoblos, penghitungan suara dan upload hasil Pemilu di Situng KPU dicurangi secara masif, ditambah ke paslon tertentu dan sebaliknya dikurangi paslon tertentu.


Mengakhiri Demo

Gelombang demonstrasi tidak mudah diatasi, karena terkait erat dengan rasa keadilan.

Rasa keadilan terkoyak karena rakyat sebagai pemilik kedaulatan (kekuasaan) menduga suara mereka dicurangi melalui dugaan kecurangan Pemilu yang terstruktur, sistimatis dan masif, sehingga rakyat memprotes dengan melakukan demonstrasi, dan amat disayangkan terjadi kerusuhan yang merenggut nyawa dan terjadi cedera ratusan orang.

Pertanyaannya, bagaimana mengakhiri demonstrasi itu? Menurut saya, harus dilakukan setidaknya 3 hal.

Pertama, harus ada yang bertanggungjawab terjadinya dugaan kecurangan Pemilu. Kalau tidak ada yang bertanggung jawab, saya duga rakyat akan terus demo. Menurut saya KPU dan Bawaslu harus bertanggungjawab. Wujud mereka bertanggungjawab harus mengundurkan diri.


Kedua, MK harus menjadi penyelamat bangsa dan negara. kalau memutus hasil Pemilu tidak memenuhi rasa keadilan rakyat, maka demo dugaan saya akan terus bergelora dan mungkin semakin meluas dan membesar, karena akar masalah yaitu dugaan kecurangan Pemilu tidak diputus dengan adil.

Ketiga, Presiden Jokowi sebaiknya mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Kalau lebih mengutamakan kepentingan kekuasaan, maka dugaan saya, rakyat Indonesia tidak akan berhenti berjuang untuk mengembalikan kedaulatannya walaupun diancam, ditekan dan dipenjarakan.

Menurut saya, apa yang kita alami sekarang ini tak obahnya bunyi pepatah “siapa menabur angin akan menuai badai.”

Dugaan pemilu dilakukan curang, telah membawa Indonesia kepada situasi dan kondisi bagaikan dilanda badai.

Semoga badai segera berlalu dengan memecahkan akar masalah yang menjadi penyebab protes sosial masyarakat.

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Rakyat Merasa Nyaman Bersama Aparat TNIAmalkanlah Sifat Jujur Mulai Dari Diri Kita