Musni Umar Socmed

Search

Demonstrasi dan Kerusuhan: Akar Masalah Kecurangan Pemilu
anggota satpol pp bersama tim gabungan membantu membersihkan jalan di depan kantor bawaslu pasca aksi 21-22 mei 2019 - twitter satpolpp_dki

Pemilu

Demonstrasi dan Kerusuhan: Akar Masalah Kecurangan Pemilu

Sejatinya tidak perlu terjadi demonstrasi dan kerusuhan, yang menyebabkan 8 orang meninggal dunia dan menciderai ratusan orang. Pertanyaannya, mengapa mereka melakukan demo? Jawabannya, karena mereka menduga Pemilu yang dilaksanakan 17 April 2019 sarat dengan kecurangan.

Kita prihatin dan sedih, pertama, dampak dari demonstrasi dan kerusuhan mengakibatkan 8 orang meninggal dunia dan ratusan orang cedera yang harus dirawat dirumah sakit.

Kedua, hampir 700 orang petugas Pemilu meninggal dunia dan sampai saat ini tidak diketahui secara pasti penyebab mereka meninggal, karena tidak diotopsi.

Meninggalnya para petugas Pemilu dapat dikatakan sudah dilupakan karena ditutup oleh kasus kerusuhan 22 Mei 2019, yang mengakibatkan 8 orang meninggal dunia, ratusan orang cedera dan lebih memprihatinkan lagi terjadi penyiksaan yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab sebagaimana diberitakan melalui tayangan video.

Demo Merupakan Reaksi

Sejatinya tidak perlu terjadi demonstrasi dan kerusuhan, yang menyebabkan 8 orang meninggal dunia dan menciderai ratusan orang.

Akan tetapi, demo itu merupakan reaksi yang diwujudkan dengan protes sosial. Protes sosial telah menjalar di seluruh kota besar di Indonesia.

Pertanyaannya, mengapa mereka melakukan demo? Jawabannya, karena mereka menduga Pemilu yang dilaksanakan 17 April 2019 sarat dengan kecurangan.

Sejak awal, dugaan kecurangan Pemilu sudah di setting dengan membolehkan orang gila memilih, daftar pemilih ganda (pemilih siluman) yang sudah diprotes, pengucuran dana APBN Program Keluarga Harapan (PKH) jelang Pemilu yang diduga sebagai sarana politik uang, pejabat Negara merangkap juru kampanye, ASN dikerahkan untuk mendukung pasangan calon tertentu, aparat yang seharusnya netral diduga tidak netral, politik uang masif dilakukan, kartu suara sudah dicoblos, penghitungan suara dan upload hasil Pemilu di Situng KPU dicurangi secara masif, ditambah ke paslon tertentu dan sebaliknya dikurangi paslon tertentu.

Mengakhiri Demo

Gelombang demonstrasi tidak mudah diatasi, karena terkait erat dengan rasa keadilan.

Rasa keadilan terkoyak karena rakyat sebagai pemilik kedaulatan (kekuasaan) menduga suara mereka dicurangi melalui dugaan kecurangan Pemilu yang terstruktur, sistimatis dan masif, sehingga rakyat memprotes dengan melakukan demonstrasi, dan amat disayangkan terjadi kerusuhan yang merenggut nyawa dan terjadi cedera ratusan orang.

Pertanyaannya, bagaimana mengakhiri demonstrasi itu? Menurut saya, harus dilakukan setidaknya 3 hal.

Pertama, harus ada yang bertanggungjawab terjadinya dugaan kecurangan Pemilu. Kalau tidak ada yang bertanggung jawab, saya duga rakyat akan terus demo. Menurut saya KPU dan Bawaslu harus bertanggungjawab. Wujud mereka bertanggungjawab harus mengundurkan diri.


Kedua, MK harus menjadi penyelamat bangsa dan negara. kalau memutus hasil Pemilu tidak memenuhi rasa keadilan rakyat, maka demo dugaan saya akan terus bergelora dan mungkin semakin meluas dan membesar, karena akar masalah yaitu dugaan kecurangan Pemilu tidak diputus dengan adil.

Ketiga, Presiden Jokowi sebaiknya mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Kalau lebih mengutamakan kepentingan kekuasaan, maka dugaan saya, rakyat Indonesia tidak akan berhenti berjuang untuk mengembalikan kedaulatannya walaupun diancam, ditekan dan dipenjarakan.

Menurut saya, apa yang kita alami sekarang ini tak obahnya bunyi pepatah “siapa menabur angin akan menuai badai.”

Dugaan pemilu dilakukan curang, telah membawa Indonesia kepada situasi dan kondisi bagaikan dilanda badai.

Semoga badai segera berlalu dengan memecahkan akar masalah yang menjadi penyebab protes sosial masyarakat.


Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Kutipan

Butuh bahan berita/artikel/tulisan?

Diperbolehkan mengutip sebagian isi dari tulisan ini tapi jangan lupa sebut sumber: arahjaya.com atau dikutip dari Musni Umar.

Diharapkan tulisan-tulisan di website ini bisa menginspirasi pembaca untuk selalu mendukung kemajuan bangsa Indonesia.

Youtube Musni Umar

Baca Juga

Pemilu

Sejarah pemilihan umum (pemilu) tahun 2019 cukup mengenaskan karena kematian massal panitia pemilu sebanyak 894 petugas dan petugas lainnya yang sakit ada 5175 orang.

Opini

PDIP, Partai Gerinda, PAN dan PPP telah menyatakan secara terbuka bahwa mereka tidak setuju adanya revisi UU Pemilu.

Lainnya

Sistem demokrasi tidak sempurna. Amerika Serikat sebagai kampiun demokrasi, telah menunjukkan boroknya.

Opini

Pada saat artikel ini ditulis , belum ada pengumuman resmi dari Panitia Pemilihan Umum Amerika Serikat bahwa Joe Biden dan Kamala Harris telah memenangi...

Opini

Pada 3 November 2020, rakyat Amerika Serikat akan datang ke berbagai tempat pemungutan suara (TPS) untuk menyoblos calon Presiden Amerika Serikat untuk 4 tahun...

Covid-19

Hari ini 21 Mei 2020, Orde Reformasi yang berhasil melengserkan Presiden Soeharto berumur 22 tahun.

Pendidikan

Universitas Ibnu Chaldun, terhitung mulai 1 sampai 19 April 2020 perkuliahan dilanjutkan melalui jarak jauh.

Covid-19

Tidak benar dan salah tuduhan yang dilontarkan bahwa mereka yang ngotot lockdown punya niat busuk