Mudik Bareng Gratis dan Dampak Sosial Ekonomi Di Kampung

 Kategori Sosial, Ramadhan 1440H

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan berbagai instansi pemerintah dan swasta telah menyelenggarakan mudik bareng gratis.

Mudik bareng gratis ini sangat diapresiasi masyarakat ditengah melambungnya harga tiket seluruh moda transportasi.

Hanya mudik bareng gratis belum bisa menjangkau seluruh wilayah di Indonesia yang amat luas terutama di luar pulau Jawa. Kita harapkan di masa mendatang program mudik bareng gratis semakin luas jangkauannya sehingga pemudik di luar pulau Jawa bisa menikmatinya.


Mudik Jadi Budaya

Mudik merupakan kosa kata paling populer di masyarakat menjelang akhir puasa ramadhan. Para perantau, sudah menjadi budaya setiap tahun selalu memanfaatkan hari raya Idul Fitri untuk mudik.

Mudik, kembali ke kampung halaman merupakan fenomena sosial yang terus terulang setiap tahun, sehingga menjadi budaya.

Tujuan utama mudik tidak lain dan tidak bukan adalah untuk merekatkan kembali silaturrahim, menyatukan yang terpisah dan mendekatkan yang jauh dan tidak pernah bertemu kecuali pada momentum lebaran Idul Fitri.

Oleh karena itu, upaya menyadarkan masyarakat supaya jangan mudik pada saat lebaran Idul Fitri, belum membuahkan hasil karena mudik dalam pandangan masyarakat mengandung keyakinan teologis yaitu perintah bersilaturrahim, yang momentumnya pada saat hari raya Idul Fitri.


Mudik, Puasa dan Idul Fitri

Mudik tidak mungkin dipisahkan dengan puasa ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Mudik merupakan kelanjutan dari puasa ramadhan dan Idul Fitri. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: Siapa yang puasa ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.

Yang diampuni adalah dosa-dosa dengan Allah, tetapi dosa dengan sesama manusia, tidak akan diampuni Allah, sampai terjadi saling memaafkan antara satu dengan yang lain melalui melalui silaturrahim pada hari raya Idul Fitri.

Maka pasca puasa ramadhan, umat Islam memanfaatkan hari raya Idul Fitri untuk mudik guna bersilaturrahim dengan orang tua di kampung halaman, keluarga dekat dan jauh serta teman sekampung.

Setelah masuk kantor, silaturrahim dilanjutkan bersalaman dengan teman sekantor untuk saling meminta maaf. Begitu juga, silaturrahim dilakukan dalam satu organisasi, satu partai politik, dan pada hari raya dilakukan silaturrahim dengan tetangga.


Dampak Sosial Ekonomi Mudik

Mudik merupakan peristiwa fenomenal setiap tahun. Tidak hanya mengandung aspek teologis untuk silaturrahim, tetapi juga aspek sosiologis seperti menyatukan yang retak, menyambung yang putus,nmengakrabkan yang renggang.

Selain itu, mudik memberi dampak ekonomi bagi keluarga terdekat dan jauh serta masyarakat desa.

Setidaknya ada lima dampak sosial ekonomi mudik ke kampung halaman pada hari raya Idul Fitri.

Pertama, pemudik membawa uang ke kampung halaman. Mereka membayar zakat fitrah, zakat harta (maal), infak dan sadaqah, sehingga ekonomi di desa menggeliat.

Kedua, pemudik berbelanja. Dampak positifnya ekonomi di desa hidup dan otomatis masyarakat desa mendapatkan manfaat ekonomi.

Ketiga, pemudik yang sukses di perantauan, biasanya memberi bantuan dana untuk ikut membangun kampung halamannya.

Keempat, hotel dan penginapan serta tempat-tempat wisata, ikut memanen rezeki dampak dari mudik hari raya Idul Fitri karena para pemudik membutuhkan hotel dan penginapan untuk istirahat dan tidur serta berwisata.

Kelima, restoran dan warung ramai dikunjungi para pemudik untuk makan siang dan malam.

Oleh karena itu, mudik tidak hanya mengandung fenomena sosial sebagai implementasi dari keyakinan teologis, tetapi mudik menghadirkan kebaikan bagi masyarakat, bangsa dan negara karena memberi sumbangsih yang positif bagi pemerataan dan keadilan ekonomi di desa atau di kampung.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Ani Yudhoyono Berpulang: Ketika Allah Menentukan AjalZiarah ke Makam Orang Tua dan H.Mr.Syafruddin Prawiranegara Di Akhir Ramadhan