Pemuda Desa Sebaiknya Tidak Mengadu Nasib di Jakarta Pasca Lebaran Idul Fitri

 Kategori Dunia Usaha, Lainnya, Opini

Operasi yustisi yang sudah lama dijalankan pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk memulangkan kembali warga negara Indonesia yang datang ke DKI Jakarta pasca lebaran Idul Fitri telah dihapus oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Gubernur Anies menegaskan bahwa DKI Jakarta adalah untuk semua. Demi keadilan setiap WNI dari manapun dia mempunyai hak yang sama untuk tinggal dan menetap di DKI Jakarta.


Takut Urbanisasi

Alasan utama pemerintah provinsi DKI Jakarta melancarkan operasi yustisi setiap pasca lebaran Idul Fitri karena DKI Jakarta banyaknya serbuan pendatang dari desa dan berbagai daerah di Indonesia.

Akan tetapi, sejatinya yang dicegah datang ke Jakarta hanya orang-orang kecil yang turun dari kereta api dan dari bus. Sementara, mereka yang dari kelas menengah dan kelas atas dari daerah tidak tersentuh operasi yustisi.

Praktik semacam itu, dianggap Gubernur Anies tidak adil, sehingga operasi yustisi di stop.


Alasan Datang ke Jakarta

Pertanyaan mendasar, apa alasan masyarakat datang ke DKI Jakarta? Sebelum menjawab pertanyaan tesebut saya ingin jelaskan istilah urbanisasi.

Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Tujuan utama penduduk pindah atau datang ke kota ialah untuk mencari pekerjaan. Ada juga yang datang ke kota untuk mencari pekerjaan sekaligus menetap. Orang yang pindah ke kota saya sebut kaum urban.

Setidaknya ada tiga alasan orang desa atau orang daerah datang dan mau menetap di Jakarta.

Pertama, kaum urban terpengaruh penampilan mereka yang mudik ke kampung halaman pada hari raya Idul Fitri yang kelihatan telah berubah, sudah sejahtera setelah tinggal di DKI Jakarta.

Kedua, merasa hidup di desa tidak ada perubahan dan kemajuan, sehingga termotivasi pindah ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Ketiga, pemberitaan media bahwa hidup di Jakarta yang menampilkan kegemerlapan nampak menyenangkan.

Selain itu, cerita sukses para perantau yang bekerja di Jakarta, menginspirasi para penduduk desa atau mereka yang sudah sukses di daerah untuk hijrah ke Jakarta. Sementara, tidak ada cerita gagal – mereka yang melakukan urbanisasi di Jakarta karena malu dianggap gagal.


Menetap di Desa Menyenangkan

Tidak semua orang desa atau orang di daerah, yang suka tinggal di Jakarta.

Kalau hanya melihat orang dari Jakarta mudik ke kampung halaman pada hari raya Idul Fitri dengan penampilan yang memukau, ada yang naik pesawat, kereta api, bus, mobil pribadi dan atau motor, nampak hebat.

Akan tetapi faktanya, tidak seindah kabar dan yang disaksikan. Hidup di Jakarta tak obahnya pepatah: Ada uang abang sayang tidak ada uang abang melayang.

Persoalannya, mereka yang datang ke Jakarta dan mencoba mengadu nasib, jika tidak mempunyai kepakaran (skill) apapun, pasti menimbulkan masalah.

Tidak hanya kaum urban yang mengalami masalah, tetapi juga Jakarta yang dibanjiri kaum urban.

Dampak negatifnya sangat besar, tidak hanya tumbuh pemukiman liar, tetapi pedagang asongan, pemalak, parkir liar, peminta-minta di jalan dan lain sebagainya.

Selain itu, bisa marak begal, pencurian, penipuan, perampokan dan segala macam kejahatan. Walaupun yang melakukan kejahatan kriminal belum tentu kaum urban.


Oleh karena itu, sudah tepat Jakarta ditetapkan sebagai ibukota untuk semua. Akan tetapi, mereka yang mau datang ke Jakarta mengadu nasib sebaiknya berpikir ulang sebelum nekad cari penghidupan baru di Jakarta.

Pertama, kaum urban, apakah sudah memiliki pendidikan formal dan informal yang memadai terutama memiliki ketrampilan (skill) yang mumpuni? Jika hanya bermodal nekad sebaiknya tetap di desa atau di kota tempat dilahirkan karena sejatinya tinggal di desa atau di daerah lebih membahagiakan dan menyenangkan. Sesekali melakukan perjalanan ke Jakarta dan negara lain pasti sangat membahagiakan.

Kedua, desa atau daerah semakin menjanjikan sehubungan adanya Kementerian Desa RI yang terus mendorong desa atau daerah mengalami pertumbuhan dan kemajuan. Apalagi teknologi internet dan media komunikasi sudah merambah desa, sehingga para pemuda desa bisa memanfaatkan teknologi untuk membangun bisnis dan kemajuan.

Ketiga, pemerintah dan seluruh aparatnya serta masyarakat madani (civil society) sebaiknya bekerja sama membangun kualitas sumber daya manusia masyarakat desa terutama para pemudanya supaya memiliki kualitas dan kepakaran (skill).

Dengan melakukan hal-hal tersebut, saya berpendapat sebaiknya para pemuda tetap di desa atau di kota tempat dilahirkan dengan mengembangkan potensi yang dimiliki dan memasarkannya ke berbagai daerah dan di luar negeri. Ini merupaka sumber kemajuan dan kebangkitan Indonesia yang dipacu dan dikembangkan dari desa atau daerah.

Selain itu, membuat inovasi baru dengan mendayagunakan teknologi internet dan media komunikasi untuk memajukan desa dan kota tempat kita dilahirkan.

Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Dampak Pilpres 2019 dan Ekonomi Global Terhadap IndonesiaAnak-Anak baca Alqur'an, Sudah Dipraktikkan Anies di DKI Seperti Pesan Presiden Putin