Polemik Sampah di DKI: Anies Sudah On The Track Seperti Ibu Risma di Kota Surabaya

 In Sosial, DKI Jakarta, Opini

Masalah sampah kembali menjadi isu yang menyengat di DKI Jakarta – Polemik sampah di DKI. Bestari Barus, anggota DPRD DKI mengatakan bahwa DKI belum mampu mengatasi sampah pada hal memiliki anggaran yang sangat besar.
Dihadapan Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Bestari Barus mengajukan tawaran supaya Ibu Risma ke DKI Jakarta tahun 2022 dalam pemilihan Gubernur untuk mengatasi sampah.
Pernyataan Barus direspon Anies dengan mengatakan bahwa “Saya sedang mengubah. Sebelum saya bertugas tidak ada pengolahan ITF (Intermediate treatment facility)”.
Anies bahkan menyebut Bestari hendak menyerang dirinya, namun justru yang “kena” gubernur-gubernur sebelumnya.
Sebagaimana diketahui bahwa sebelum Anies menjadi Gubernur DKI belum ada pengolahan sampah terpadu (ITF) di Jakarta. Semua sampah diangkut oleh 1200-1300 truk setiap hari ke Bantar Gebang di Bekasi sebagai tempat pembuangan terakhir. Jumlah sampah di DKI setiap hari sekitar 7.400 ton. Polemik sampah di DKI.


Anies dan Risma Mengubah Sampah

Sejatinya sampah memberi manfaat bagi manusia.
Adapun manfaat sampah bagi manusia diantaranya:
Pertama: sebagai pupuk organik untuk tanaman
Kedua, penyubur tanaman dengan menyulap sampah menjadi kompos.
Ketiga, sumber humus
Keempat, jadi bahan bakar alternatif
Kelima, jadi sumber listrik.
Pembangunan ITF yang sedang dilaksanakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah dalam rangka mengubah sampah menjadi material yang memiliki manfaat dan nilai ekonomis untuk menjadi bahan bakar alternatif dan jadi sumber listrik. Termasuk untuk pemanfaatan sampah berupa pengomposan, atau pembuatan daur ulang.
Hal semacam itu, sudah dilakukan Tri Risma, Walikota Surabaya. Wajar karena ibu Risma sudah berkuasa di kota Surabaya sekitar 7 tahun (2 periode), sementara Anies menjadi Gubernur DKI baru sekitar 2 tahun.
Akan tetapi, kedua pemimpin daerah itu telah menunjukkan kinerja yang baik dan sebaiknya tidak diadu domba oleh politisi yang tidak lagi mendapat dukungan dari publik dalam Pemilu serentak 17 April 2019.


Sampah Organik-nonorganik

Sampah merupakan bahan dasar pembuatan pupuk organik. Sampah secara sederhana terbagi dua yaitu:
1) Sampah basah (sampah organik) yaitu sampah yang bisa diurai, seperti sisa makanan, sisa sayur, buah-buahan, daun-daunan dan sejenisnya.
Sampah organik seperti dedaunan yang masih hijau, sisa sayur dan sejenisnya bisa dijadikan sebagai pakan ternak.
2) Sampah kering (sampah nonorganik) yaitu sampah yang sulit diurai atau tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme pengurai seperti sampah kaleng, sampah plastik, beling, seng, kaleng dan sejenisnya.
Sampah yang tidak dapat diurai bisa menghadirkan kerusakan lingkungan. Maka, untuk menyelamatkan lingkungan, ada kampanye anti plastik dan sejenisnya.
Akan tetapi, sampah kering bisa sebagai bahan dasar untuk berbagai kerajinan kreatif. Juga dapat berfungsi sebagai wadah alternatif seperti kaleng bekas minuman, botol beling dan sejenisnya, dapat diukir menjadi perhiasan yang menarik dan bisa dijual.


Anies dan Risma

Sampah dijadikan isu untuk menyerang Anies dengan menyebarluaskan di media sosial tumpukan sampah disebuah sungai di Bekasi, seolah-olah sampah tersebut berada disungai di DKI.
Supaya Anies langsung terkapar, serangan ditembakkan dari kota Surabaya, yang sudah memiliki ITF dan relatif sukses menangani sampah.
Serangan semakin menarik karena membandingkan anggaran untuk menangani sampah di DKI dengan kota Surabaya. DKI menganggarkan Rp3,7 triliun. Anggaran terbesar untuk biaya pembangunan ITF di Sunter, dan penyediaan lokasi dikawasan lain di Jakarta yang harus diadakan.
Sementara anggaran penanggulangan sampah di kota Surabaya Rp30 milyar, namun dalam RKPD kota Surabaya 2019, sebesar Rp474,9 milyar.
Menurut saya, Anies sudah on the track dalam menangani sampah di DKI dan hasilnya pasti menuntaskan sampah di DKI seperti yang dilakukan Ibu Risma di kota Surabaya.
Semoga tulisan ini mempersatukan dan menyatukan dalam memeringati hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 tahun.

View this post on Instagram

Instruksi Gubernur Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara ini berisi instruksi kepada seluruh jajaran Pemprov DKI Jakarta untuk mulai menerapkan berbagai inisiatif terkait dengan pengendalian udara di Jakarta.⁣⁣ ⁣⁣ Kualitas udara yang dirasakan akhir-akhir ini adalah gambaran dari aktivitas kita. Kita semua yang berpergian menggunakan kendaraan bermotor ikut berkontribusi, besar atau kecil itu semua ada skalanya. Kita yang menikmati listrik atau hasil produksi dari industri di sekeliling juga berkontribusi terhadap kualitas udara. Tentunya kita semua perlu untuk berperan dalam mengendalikan kualitas udara di ibu kota. ⁣⁣ ⁣⁣ Baik pemerintah maupun masyarakat perlu bekerjasama. Hasil yang baik akan tercapai dengan kolaborasi yang baik. Kita semua berharap bahwa kemauan, usaha, maupun pengorbanan dalam berbagai level adalah bagian dari kontribusi dalam memajukan Ibu Kota Jakarta dan untuk kebahagian kita bersama. ⁣⁣ ⁣⁣ Inilah 7 Inisiatif untuk Udara Bersih Jakarta.⁣⁣ ⁣⁣ Ayo bersama kita upayakan udara bersih Jakarta!⁣⁣ ⁣⁣ #DKIJakarta⁣⁣ #Jakarta⁣⁣ #PemprovDKIJakarta⁣⁣ #AniesBaswedan⁣⁣ #JakartaBreath⁣⁣ #JakartaBersih⁣⁣ #7inisiatifudarabersihjakarta

A post shared by Pemprov DKI Jakarta (@dkijakarta) on



Saran dan komentar? silahkan reply di twitter status dibawah ini (click logo biru dan reply).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Sandi Menapaki Indonesia Dengan Membangun Kewirausahaan OK OCEMenolak Putusan Hukum dan Hakim Tidak Memenuhi Prinsip Keadilan