Bangun Karakter Damai: Cegah Tawuran di DKI

 In Pendidikan, DKI Jakarta, Opini, Sosial

Salah satu bait dari lagu Indonesia Raya “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.”

Spirit membangun jiwa sangat penting dilakukan, karena pembangunan karakter menurut saya bermula dari pembangunan jiwa.

Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, watak.

Dengan demikian karakter atau watak adalah sifat batin yang mempengaruhi segenap pkkiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya.

Maka, membangun karakter damai tidak lain dan tidak bukan ialah membangun tabiat damai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Cara mencegah tawuran yang paling efektif ialah membangun jiwa, dengan jiwa yang ditaburi iman dan taqwa, maka setiap orang mampu mengendalikan diri, tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan.

Oleh karena iman dan taqwa turun naik, maka berbagai kegiatan pelatihan, seminar, halaqah (pertemuan) yang memberi motivasi, dorongan, rangsangan dan semangat penting secara berkala dilaksanakan.


Lima Faktor Mengoyak Kedamaian

Tidak mudah membangun tabiat damai, karena berbagai faktor yang mempengaruhi.

Setidaknya ada lima faktor yang bisa mengoyak kedamaian dan menciptakan tawuran.

Pertama, lingkungan keluarga. Kedua orang tua adalah guru pertama yang mengajarkan karakter damai. Rumah yang damai akan menghadirkan karakter yang damai di lingkungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kedua, lingkungan tetangga. Mereka yang bermukim atau bertempat tinggal dikawasan yang padat, potensi terjadi tawuran yang mengganggu kedamaian sangat besar. Hasil penelitian saya beberapa tahun yang lalu di Kecamatan Johar Baru Jakarta Pusat, memastikan bahwa faktor lingkungan sangat mempengaruhi kondisi lingkungan yang aman atau tidak aman.

Ketiga, faktor pergaulan.
Pergaulan memberi kontribusi seseorang menjadi baik atau sebaliknya. Kalau bergaul dengan seorang yang alim (ulama) maka cepat atau lambat, seorang akan berubah tabiatnya seperti seorang alim (ulama). Sebaliknya kalau bergaul dengan pecandu Narkoba atau Miras, maka cepat atau lambat bisa menjadi pengguna Narkoba dan Miras.

Keempat, faktor ekonomi. Ekonomi yang lesu akan menciptakan banyak pengangguran. Kalau banyak pemuda tidak mempunyai pekerjaan alias menganggur, tiap hari para pemuda nongkrong di berbagai tempat, berpotensi mereka mengganggu keamanan dengan melakukan tawuran.

Kelima, faktor politik. Huru-hara bisa disebabkan berbagai faktor, diantaranya faktor politik, misalnya perebutan kekuatan yang disebabkan melemahnya kondisi ekonomi.


Cara Cegah Tawuran

Tawuran atau konflik sosial, penyebabnya banyak faktor, diantaranya lima faktor yang dikemukakan di atas.

Untuk membangun karakter damai dan mewujudkan DKI aman tanpa tawuran:

Pertama, bangun suasana damai mulai dari rumah, lingkungan tetangga dan pergaulan.

Kedua, bangun komunikasi dan sinergi dengan semua kekuatan sosial di masyarakat.

Ketiga, beri kesibukan para pemuda (i) untuk berkarya misalnya lapangan kerja dan lapangan berusaha. Jangan biarkan mereka menganggur tanpa kegiatan produktif.

Keempat, aparat pemerintah dan keamanan berkolaborasi dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk mewujudkan suasana damai dan harmonis di masyarakat.

Kelima, Ketua RT, Ketua RW, Lurah dan berbagai organisasi di tingkat grass root (akar rumput) seperti FKDM, Karang Taruna dan ormas lainnya peka dan sensitif terhadap perkembangan sosial yang setiap saat bisa berubah karena faktor lingkungan dan pengaruh media sosial, sehingga gangguan keamanan berupa tawuran secara dini bisa dicegah.

Semoga tulisan ini memberi manfaat dalam upaya kita bersama membangun DKI Jakarta, “Maju Kotanya Damai dan Bahagia Warganya.”

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Mbah Moen Wafat: Indonesia Kehilangan Pejuang Islam di Bidang Pendidikan dan PolitikTawuran di DKI: Penyebab Utamanya Pengangguran dan Kemiskinan