Tawuran di DKI: Penyebab Utamanya Pengangguran dan Kemiskinan

 Kategori Pendidikan, DKI Jakarta

Dalam dialog interaktif dengan para tokoh masyarakat dari berbagai organisasi kemasyarakatan se Jakarta Utara (9/8/2019) di Hotel Gumilang Mega Mendung Cipayung, Bogor, mencuat persoalan tawuran di dki yang terjadi hampir tiap malam.

Masalah tawuran, setidaknya ada tiga modusnya.

Pertama, sengaja diciptakan. Tujuannya untuk mengelabui petugas, jika mau dilakukan transaksi Narkoba.

Kedua, turun-temurun. Tawuran terjadi dari masa ke masa, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketiga, spontanitas. Tidak terduga, hanya masalah sepele menjadi besar. Hanya bermula dari saling meledek melalui dunia maya, kemudian membesar dan meledak jadi tawuran.


Penyebab Tawuran

Tawuran yang terjadi di masyarakat, pada hakikatnya bersumber dari persoalan besar.

Pertama, pengangguran. Hasil penelitian saya beberapa tahun yang lalu di Johar Baru, Jakarta Pusat bahwa tingkat pendidikan mereka yang tinggal dikawasan padat, kumuh dan miskin dengan akronim padkumis, mayoritas penduduk hanya berpendidikan tidak tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penyebabnya karena tidak mempunyai tempat tinggal yang nemadai, sehingga harus gantian tidur dengan orang tuanya. Dampaknya kalau pagi hari mereka masih tidur. Kalau dipaksakan sekolah, mereka mengantuk dan tidak bisa konsentrasi belajar.

Dengan kebijakan pemerintah provinsi DKI Jakarta melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus diharapkan peta sosiologis pendidikan warga DKI yang tinggal di kawasan padat, kumuh dan miskin sudah berubah yaitu mayoritas sudah berpendidikan tamat Sekolah Lanjutan Atas (SLA). Akan tetapi dengan tingkat pendidikan semacam itu, masih sulit bersaing dilapangan pekerjaan yang sangat kompetitif sekarang ini.

Masalah pengangguran yang besar jumlahnya di Jakarta Utara dikeluhkan Rasanul Jamal, tokoh masyarakat. Menurut dia, ribuan perusahaan yang beroperasi di Jakarta Utara, tetapi mereka lebih memilih pegawai dari daerah lain ketimbang penduduk pribumi. Karena itu dia mengusulkan supaya pemerintah DKI mengeluarkan regulasi supaya mengutamakan warga setempat dalam menerima tenaga kerja.

Kedua, kemiskinan. Dampak dari pengangguran, untuk bertahan hidup mereka bekerja serabutan atau bekerja di sektor informal. Otomatis penghasilan (income) yang diperoleh kecil. Dampak lebih jauh, mereka mudah terprovokasi untuk melakukan tawuran.

Untuk mengatasi kemiskinan, maka hanya satu jalan, pemerintah harus turun gunung memberi beasiswa yang banyak kepada putera-puteri yang tinggal dikawasan padkumis.

Untuk mengubah sumber daya manusia mereka dari tidak berkualitas menjadi berkualitas. Caranya ialah memberi beasiswa dalam jumlah yang banyak, bukan hanya yang belajar di perguruan tinggi negeri (PTN), tetapi juga yang belajar di perguruan tinggi swasta (PTS) untuk memperoleh pendidikan formal yang tinggi dan berkualitas serta memberi pendidikan kepakaran (keahlian) kepada mereka yang satu dan lain hal tidak mampu melanjutkan pendidikan tinggi.

Kalau mereka sudah mempunyai pendidikan yang tinggi dan berkualitas, atau walaupun tidak mempunyai pendidikan yang tinggi, tetapi memiliki kepakaran (keahlian) yang mumpuni, maka perusahaan atau masyarakat pasti memerlukan jasa mereka.

Ketiga, pengaruh pergaulan dan lingkungan. Anak-anak yang hidup dikawasan yang padat, kumuh dan miskin, mudah dipengaruhi dalam pergaulan dan lingkungan untuk melakukan tawuran.

Untuk mencegah anak-anak dipengaruhi pergaulan dan lingkungan, maka peran kedua orang tua, guru dan tokoh masyarakat, amat diperlukan.

Semoga tulisan ini sebagai rangkuman dari dialog interaktif yang dilaksanakan Badan Kesbangpol Jakarta Utata, memberi manfaat, demi memajukan warga DKI dan mencegah tawuran.

Berikut foto-foto dialog interaktif dengan para tokoh masyarakat dari berbagai organisasi kemasyarakatan se Jakarta Utara (9/8/2019).

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search

Bangun Karakter Damai: Cegah Tawuran di DKIMewariskan Spirit Perjuangan Nabi Ibrahim Melalui Fakultas Agama Islam Universitas Ibnu Chaldun